Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

-

Sudirman Haseng

📅 Sabtu, 07 Apr 2018, 05:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Sudirman Haseng Doc: Koran Jakarta / Wachyu AP

Indonesia dan Kamboja sepakat untuk memperat hubungan bilateral kedua negara, khususnya pada penguatan mekanisme bilateral. Penguatan hubungan kerja sama tersebut, antara lain di bidang perdagangan dan investasi, pariwisata serta kerja sama regional.

Sebagai negara yang samasama memiliki situs warisan dunia, Indonesia dan Kamboja berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama pariwisata dan kebudayaan. Hal itu diwujudkan, antara lain melalui kerja sama sister temple antara Angkor Wat dan Candi Borobudur. Untuk mengetahui lebih jauh apa yang akan dilakukan jajaran Kedutaan Besar Indonesia di Kamboja dalam mengembangkan kerja sama di sejumlah bidang tersebut, wartawan Koran Jakarta, Frans Ekodhanto, berkesempatan mewawancarai Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Kamboja, Sudirman Haseng, di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Apakah ada harapan khusus dari Presiden Joko Widodo kepada Anda sebagai Dubes Indonesia untuk Kamboja?

Sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo dan Menlu Retno Marsudi, bagaimana meningkatkan hubungan ekonomi, perdagangan, investasi, dan pariwisata di kedua negara. Yang tidak kalah pentingnya, dari segi politik dan hubungan antarpemerintah serta segi budaya dan sejarah antara Indonesia dan Kamboja, sudah sangat dekat. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menerjemahkan kedekatan itu menjadi sebuah manfaat untuk ekonomi, untuk kesejahteraan rakyat Indonesia dan Kamboja. Itulah salah satu penekanan program yang akan kami lakukan selama menjadi Dubes Indonesia untuk Kamboja.

Dari program-program itu, program kerja seperti apa yang realistis dikerjasamakan dan hasilnya dapat terukur serta terasa?

Yang paling realistis dilakukan selama saya jadi Dubes di sana adalah meningkatkan investasi Indonesia ke Kamboja. Saat ini sudah waktunya pelaku bisnis Indonesia melakukan ekspansi ke luar, dalam hal ini investasi ke Kamboja. Sebab, kita tidak bisa terlalu mengharapkan Kamboja yang menginvestasi ke Indonesia walaupun itu juga menjadi salah satu target saya.

Sekecil-kecilnya atau serendahrendahnya perekonomian Kamboja, tentu masih ada potensi yang bisa kita manfaatkan agar pengusaha Kamboja juga bisa menanamkan investasi di Indonesia. Idealnya seimbang, tapi dari segi kapasitas ekonomi, pengusaha kita lebih besar, sehingga tentu kita lebih punya peluang menanam investasi di Kamboja.

Target yang potensial dan konkret adalah bagaimana menjual hasil industri-industri atau produkproduk strategis kita seperti yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, termasuk produk-produk bernilai tinggi lainnya, seperti elektronik dan sebagainya. Kita juga punya potensi untuk menjual produk UKM karena Kamboja masih mempunyai kapasitas yang terbatas di dalam mengembangkan produk-produk kreativitas ekonominya.

Kita perlu menjadikan Kamboja sebagai pasar serta pada saat yang bersamaan juga mengembangkan kapasitas dari produk-produk kita. Yang tidak kalah pentingnya adalah menciptakan konektivitas langsung. Selama ini kita belum ada konektivitas langsung dalam artian hubungan udara, sebab selama ini masih melewati negaranegara perantara seperti Malaysia, Singapura, dan lain sebagainya. Konektivitas ini sangat penting dalam menerjemahkan kedekatankedekatan tadi agar memberikan manfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan perekonomian di Tanah Air.

Konektivitas ini akan sangat mendekatkan mobilitas antarmasyarakat (antarpengusaha dan pebisnis). Kalau pemerintah, saya kira sudah cukup dekat.

Jika dibandingkan, baik dari luas wilayah, jumlah penduduk, kekayaan alam, SDM, perekonomian, Indonesia lebih unggul dibanding Kamboja. Lantas, apa yang diinginkan dari Kamboja?

Prinsipnya, untuk lebih berkembang dari yang ada saat ini perlu kemitraan. Sekecil apa pun teman atau mitra kita itu, pasti mempunyai kekuatan. Nah, Kamboja dalam hal ini dari segi pertanian, produksi berasnya lebih dari kita. Walaupun tidak sesering Vietnam dan Thailand, tapi kita juga pernah mengimpor beras dari Kamboja.

Kamboja di bidang garmen dan pariwisatanya sudah lumayan baik dan maju. Di sana ada namanya Angkor Wat, kita ada Borobudur. Jika kita bandingkan jumlah pengunjung mancanegara, Angkor Wat sekitar 4-5 juta pengunjung per tahun, sedangkan pengunjung mancanegara ke Borobudur sekitar 400 ribu per tahun.

Artinya, ada sesuatu yang perlu kita pelajari bagaimana mengelola suatu situs sejarah, nilai budaya, agama menjadi objek yang menarik wisatawan mancanegera. Padahal, Borobudur, dari berbagai segi dan pendapat para pengamat jauh lebih bagus, menarik, dan lebih historis dibanding Angkor Wat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Proses Evakuasi Korban Ledakan Rumah di Medan

17 menit yang lalu | Fajar Alim M

Daerah
Proses Evakuasi Korban Leda...
Nasional
DPR Tetapkan Hasil Seleksi ...
Luar Negeri
Persaingan di LTS Bayangi P...
Menpar: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Gastronomi Dunia

Menpar: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Gastronomi Dunia

21 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.