Koran Jakarta | August 24 2019
No Comments

Pendidikan dan Revolusi 4.0

Pendidikan dan Revolusi 4.0

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Oleh Ririn Handayani

 

Dalam rangka menyongsong era revolusi industri jilid 4 (RI 4.0) yang sudah di depan mata, pendidikan menjadi salah satu sektor strategis yang perlu dibenahi. Di Indonesia, salah satu program konkretnya melalui pendidikan vokasi industri perguruan tinggi dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Program ini diharapkan menjadi solusi problematika mismatch atau ketidaksesuaian antara output pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. Data ILO menyebutkan, hanya 37 persen dari total output pendidikan Indonesia yang well match.

Pendidikan vokasi memang masih rendah. Dari total sistem pendidikan Indonesia, baru 5,6 persen berbasis vokasi. Sementara itu, di negara-negara maju, pendidikan vokasi berimbang dengan persentase keilmuan dan akademik atau 50:50. Pendidikan vokasi sebagai langkah konkret dan strategis menyongsong RI 4.0 pilihan tepat. Namun, di tengah kompleksitas persoalan bangsa saat ini, pendidikan vokasi belum bisa dilakukan secara menyeluruh dan serentak.

Sebagai tahap awal, pendidikan vokasi membidik SMK sebagai prioritas karena urgensinya sebagai wadah pendidikan yang memungkinkannya menjadi shortcut (jalan pintas) percepatan peningkatan kompetensi tenaga yang match dengan dunia kerja. Di luar SMK dengan program resminya dari pemerintah, pendidikan vokasional sebenarnya menjadi salah satu trending dunia pendidikan baik dalam konteks formal maupun informal. Keahlian khusus, terlebih dalam sejumlah bidang yang diprediksi menjadi primadona era RI 4.0 mulai diburu siswa karena memiliki bargaining dan nilai tambah lebih besar daripada ijazah, tanpa keahlian.

Lalu, apa kabar anak berkebutuhan khusus (ABK) yang juga menjadi bagian tak terpisahkan era industri 4.0? Pembahasan ABK terkait RI 4.0 seolah senyap. Padahal, mereka bagian tak terpisahkan RI 4.0.

Pendidikan ABK seyogianya vokasional khusus. Dengan keterbatasannya, ABK tidak memungkinkan mempelajari dan menekuni banyak bidang ilmu seperti anak normal. Maka, andai sejak dini mereka telah menemukan potensi emasnya, ABK biasanya akan langsung fokus. Dengan bimbingan intens, ABK bisa menjadi bintang di bidangnya. Malahan, dia kadang melampaui pencapaian orang-orang normal. ABK semacam ini sering didapati di sejumlah negara maju. Keterbatasan dan kespesialan mereka tidak menjadi penghalang menjadi bintang dan profesional. Sayang, ABK yang beruntung seperti ini masih belum banyak di sini.

Pendidikan untuk ABK adalah pendidikan yang spesial. Mereka membutuhkan media, sarana, fasilitas dan partner belajar yang juga spesial. Dan yang serba spesial ini tentu tidak murah. Hanya segelintir ABK yang beruntung mendapatkannya. Memiliki orang tua dan lingkungan yang paham dan menerima, support, dan memfasilitasi kebutuhannya dengan baik.

Tak sedikit dari ABK-ABK yang beruntung ini yang di kemudian hari menjadi bintang dan profesional dalam bidang yang mereka tekuni sejak dini. Sedang sebagian besar ABK yang lain masih berjibaku dengan orang tua dan lingkungan yang bahkan tidak paham bahwa mereka spesial. Sebagian lagi menyikapi keberadaan mereka dengan apatis dan pesimis, bahwa mereka juga memiliki kesempatan dan berhak untuk memiliki masa depan yang baik, termasuk di era RI 4.0 dengan persaingannya yang sangat sengit.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah ABK Indonesia mencapai 1,6 juta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberi akses pendidikan formal melalui Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Sekolah Inklusi (SI). Setiap tahun, pemerintah membangun 25-30 unit sekolah baru untuk SLB. Namun untuk 2017, pengurangan anggaran membuat jumlah unit sekolah baru menurun drastis, hanya 11 unit SLB.

Secara keseluruhan, dari 514 kabupaten/kota masih terdapat 62 kabupaten/kota yang belum memiliki SLB. Dari total 1,6 juta ABK yang sudah mendapat layanan pendidikan, baru 18 persen. Ada 82 persen lagi yang masih belum terlayani. Sebanyak 115 ribu ABK bersekolah di SLB, sedangkan ABK yang di sekolah regular pelaksana SI sekitar 299 ribu.

 

Peran Keluarga

Pentingnya pendidikan vokasi formal ABK disambut baik sejumlah pihak. Menindaklanjuti Gerakan Indonesia Pintar (GIP) untuk ABK, tahun depan pemerintah berencana membuka jurusan vokasi ABK. Ini tidak hanya musik, yang selama ini banyak digeluti ABK, tapi juga kelautan, pariwisata, pertanian, hingga tata boga. Di Bandung, juga telah berdiri lembaga pendidikan setingkat universitas untuk ABK. Jurusan yang tersedia memiliki relevansi besar dengan tren bidang pekerjaan favorit era industri 4.0 seperti komputer, pemprograman, da ndesain.

Secercah harapan yang membahagiakan ABK dan keluarga. Namun, PR masih panjang dan banyak. Seba bpendidikan ABK, terlebih pendidikan vokasi spesial. Sedang untuk pendidikan dasar saja, banyak ABK belum bisa mengenyam.

Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan ABK, banyak faktor lain yang menghambat seperti jarak, waktu, dan kondisi ABK sendiri. Maka, peran strategis keluarga untuk menjadi mitra, supporter sekaligus fasilitator ABK menjadi kunci utama. Keluarga menjadi mitra pertama dan utama ABK untuk belajar dan mengembangkan potensi. Keluarga semestinya paling memahami dan memungkinkan untuk mendampingi lebih intens agar pendidikan ABK lebih tepat sasaran dan berkesinambungan.

Menjadikan keluarga sebagai ujung tombak pendidikan ABK tentu memerlukan sejumlah syarat. Secara emosional mereka harus siap dan bisa menerima. Secara keilmuan dan informasi juga cukup memadai untuk mendampingi proses belajar ABK. Dalam konteks ini, pembekalan orangtua ABK menjadi langkah strategis dan mendesak direalisasikan.

Seminar, pelatihan, dan semacamnya perlu digalakkan bagi orangtua ataupun anggota masyarakat yang concern pendidikan ABK. Juga perlu pendampingan yang sebisa mungkin menjangkau banyak lapisan masyarakat, agar dalam tataran praktiknya, orangtua ABK memiliki tempat untuk bertanya dan konsultasi perkembangan pendidikan ABK.

Bagi orangtua ABK, saatnya bersikap lebih terbuka, proaktif, dan menjemput bola demi masa depan anak. Mereka harus membuka hati, tegar, dan optimistis. Mereka bisa membentuk komunitas untuk berbagi. Dengan demikian, orangtua tidak merasa sendiri. Anggota komunitas saling menguatkan, sehingga muncul motivasi.

Peran orangtua bagi pendidikan ABK sangat besar karena menjadi tumpuan harapan dan mitra utama ABK menyongsong masa depan. Orangtualah kunci pembelajaran optimal ABK. Orangtua yang menutup diri dan pasif, jadi batu sandungan perkembangan ABK.

 


Penulis Alumna Pascasarjana Universitas Airlangga

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment