Koran Jakarta | May 21 2019
No Comments
Kontestasi Pemilihan

Pemilu Indonesia Paling Rumit di Dunia

Pemilu Indonesia Paling Rumit di Dunia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Jakarta - Lembaga kajian Australia, Lowy Institute, me­nyebut bahwa pemilihan umum 2019 di Indonesia termasuk pa­ling rumit dan paling menakjub­kan di dunia karena skalanya yang besar dan dilaksanakan serentak dalam satu hari.

Pada hari yang sama, pemi­lih mencoblos lima kertas sua­ra, yaitu untuk Pilpres, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD kabupa­ten/kota, dan DPD. Maka pada saat pencoblosan, Rabu (17/4), para pemilih mendapat lima surat suara berbeda dengan warna yang berbeda pula, ke­cuali DKI Jakarta yang hanya empat surat suara, karena tidak ada DPRD tingkat II.

Jumlah pemilih sebanyak 193 juta orang pada pemilu kali ini merupakan yang terbesar di dunia dalam hal memilih presi­den secara langsung. Jumlah ini bertambah sebanyak 2,4 juta orang dari pemilu 2014 lalu.

Pemungutan suara dilak­sanakan di 809.500 tempat pe­mungutan suara (TPS), di mana setiap TPS akan melayani seki­tar 200 hingga 300 orang pada saat hari pencoblosan.Pada Pemilu 2014, jumlah TPS seki­tar 500.000 dan setiap TPS me­layani sekitar 400 pemilih.

Sedangkan total calon ang­gota legislatif yang bersaing sebanyak 245.000 orang yang memperebutkan sekitar 20.500 kursi yang ada di 34 provinsi dan sekitar 500 kabupaten kota.

Pada Pemilu legislatif, seba­nyak 575 orang anggota legis­latif akan dipilih dari 16 partai peserta pemilu. Sebanyak 40% pemilih berusia antara 17 hing­ga 35 tahun, dan ini menjadi rebutan para kontestan pemilu, atau sekitar 80 juta orang.

Pada bulan April 2019 ini India juga menyelenggarakan pemilu. Dalam hal jumlah pe­milih dan kompleksitas, mung­kin pemilu di India termasuk yang juga paling menakjubkan di dunia. Birokrasi di India dan Indonesia sama dikenal lemah dalam berkoordinasi, teta­pi dalam hal pemilu, lembaga penyelenggara pemilu di kedua negara dikenal efisien dan an­dal dalam menyelenggarakan pesta demokrasi yang rumit ini.

Pemilu di India sebetulnya lebih besar dalam skala karena jumlah pemilih di sana menca­pai 930 juta orang. Namun pe­milu mereka dilaksanakan se­lama enam pekan dari 11 April hingga 19 Mei 2019, dan dilak­sanakan bergiliran di berbagai negara bagian.

Total partai politik lokal dan nasional yang ikut serta dalam pemilu di India mencapai 450 partai, sedangkan di Indonesia hanya 16 partai nasional di­tambah 4 partai lokal Aceh.

Jumlah TPS di Indonesia yang mencapai 809.500 ini me­layani 200-300 orang, semen­tara di India dengan jumlah TPS sebanyak sekitar satu juta, jumlah orang yang dilayani mencapai 650. Efisiensi di TPS inilah yang menjadi kunci ke­berhasilan penyelenggaraan pemilu di kedua negara.

Masih Manual

Satu hal yang juga dipandang unik oleh Lowy Institute adalah penggunaan paku secara ma­nual untuk mencoblos atau membuat lubang pada kertas suara. Di berbagai negara, pe­milu dilakukan dengan meng­gunakan perangkat elektronik atau e-voting, atau setidaknya dengan alat tulis seperti pulpen.

Penghitungan juga di­lakukan secara manual. Pe­laksanaan pencoblosan dan penghitungan secara manual ini menurut pengajar Jurus­an Ilmu Politik dari Universi­tas Indonesia, Sri Budhi Eko Wardhani, membuat pemilu di Indonesia termasuk unik dan paling kompleks di dunia.

Penghitungan manual se­cara berjenjang itu juga mem­buat hasil penghitungan atau rekapitulasi berlangsung lama. “Mungkin Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang hasil penghitungan su­aranya baru diketahui 30 hari sesudahnya,” kata Dhani.

Pemungutan suara dimu­lai pukul 07.00 pagi dan sudah harus selesai pada pukul 13.00 siang. Sesudah itu akan dilaku­kan rekapitulasi secara berjen­jang, mulai dari TPS, mengikuti jalur administrasi pemerintah­an, hingga mencapai ke Ko­misi Pemilihan Umum (KPU). Rekapitulasi ini akan memakan waktu waktu dari 18 April hing­ga 22 Mei 2019.

Rekapitulasi ini harus se­lesai satu hari, tapi sesuai pu­tusan Mahkamah Konstitusi, penghitungan waktu ini bisa di­tambah menjadi satu hari plus 12 jam. Pemilu kali ini menjadi tantangan bagi para penye­lenggara di tingkat bawah ka­rena baru untuk pertama kali­nya mereka harus menangani lima kertas suara sekaligus.

BBC/sur/AR-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment