Koran Jakarta | November 18 2017
No Comments
Program Kesehatan - Antisipasi Munculnya Indikasi Bencana Geografi

Pemda Diminta Membuat Program Kesehatan yang Inovatif

Pemda Diminta Membuat Program Kesehatan yang Inovatif

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Menteri Kesehatan mengajak pemerintah daerah provinsi, kabupaten/ kota, bersama pemerintah pusat saling beriringan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

JAKARTA – Kementerian Kesehatan meminta pemerintah daerah (pemda) untuk meningkatkan perannya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat menjelang era bonus demografi yang dimulai 2020–2035. Peran itu terutama membuat program kesehatan yang inovatif untuk menekan munculnya indikasi bencana demografi. 

Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, mengatakan indikasi bencana demografi yang mungkin terjadi yakni, penurunan angka kelahiran tidak sebanding dengan peningkatan umur harapan hidup. Dampaknya, beban tanggung usia produktif semakin meningkat. Selain itu, terjadinya pergeseran pola penyakit dari menular ke tidak menular.

“Untuk itu, saya mengajak pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota bersama pemerintah pusat saling beriringan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui program yang inovatif sehingga apa yang dicita-citakan bersama dapat terwujud,” kata Nila seusai penandatanganan MoU antara Kementerian Kesehatan dan 33 bupati/ kota terkait penempatan tim Nusantara Sehat, di Jakarta, Rabu (23/8).

Nila mengatakan proyeksi populasi Indonesia mencapai lebih dari 250 juta orang. Indonesia diindikasikan akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2020 sampai tahun 2035. “Jumlah penduduk usia produktif saat itu akan mencapai 64 persen dari total jumlah penduduk Indonesia,” kata dia. Hal tersebut, menurut Menkes, menjadi peluang Indonesia untuk menjadi negara maju.

Di sektor kesehatan, bonus demografi harus disikapi melalui program bidang kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sehingga dapat terhindar dari bencana demografi. Program Nusantara Sehat (NS) sendiri diluncurkan bukan hanya untuk mengobati, tapi mengubah perilaku masyarakat agar sadar akan kesehatan, terutama menolong orang hamil di daerah terpencil.

Menurut Nila, kondisi geografis daerah pinggiran sangat berbeda dengan di kota. “Geografisnya betul-betul menantang, seperti jembatan yang terbuat dari tali dengan aliran sungai yang deras. Tapi, mereka harus terus melayani kesehatan,” kata Menkes. Kirim Nakes Kemenkes mengirimkan 347 tenaga kesehatan program “Nusantara Sehat” ke 19 provinsi dan 33 kabupaten-kota daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T).

Tenaga kesehatan tersebut akan disebar ke 60 puskesmas yang terdiri dari 11 dokter, delapan dokter gigi, 61 perawat, 59 bidan, 37 tenaga kesehatan masyarakat, 49 tenaga kesehatan lingkungan, 38 ahli teknologi laboratorium medik, 39 tenaga gizi, dan 45 tenaga teknis kefarmasian. Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan Kemenkes, Usman Sumantri, memaparkan 347 tenaga kesehatan yang diberangkatkan merupakan gelombang ketujuh dari keseluruhan dan angkatan kedua pada program Nusantara Sehat tahun 2017.

Usman menyebutkan Kemenkes telah mengirimkan 1.422 tenaga kesehatan dari program Nusantara Sehat pada 2016. Sementara itu, target Nusantara Sehat pada 2017 ialah mengirimkan 188 tim tenaga kesehatan dengan setiap tim terdiri dari tujuh sampai sembilan orang tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan fasilitas kesehatan di daerah.

“Tahun ini, sampai batch kedua, menempatkan sekitar 750 orang tenaga kesehatan,” ucap Usman. Rencananya 347 tenaga kesehatan Nusantara Sehat akan diberangkatkan ke lokasi penugasan pada Minggu (27/8) di puskesmas dengan kriteria terpencil atau sangat terpencil seluruh wilayah Indonesia dengan masa penugasan selama dua tahun. cit/E-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment