Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads
-

Partisipasi Kaum Perempuan Meningkat

📅 Kamis, 22 Feb 2018, 06:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Partisipasi Kaum Perempuan Meningkat Doc: koran jakarta /rama agusta
Ket. Perempuan di Pilkada - Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraeni (kedua dari kanan), Ketua Presidium Nasional Kaukus PerempuanParlemen RI, Ratu Hemas (tengah), dan Koordinator Asosiasi MPI, Lena Maryana Mukti ketika menjadi pembicara dalam diskusi “Potret Perempuan Calon Kepala Daerah di Pilkada 2018” di Jakarta, Rabu (21/2).

JAKARTA - Pilkada serentak 2018 setidaknya akan diikuti oleh 8,85 persen perempuan. Meski tak signifikan, angka tersebut meningkat jika dibandingkan partisipasi perempuan di Pilkada 2015 sebesar 7,47 persen.

Namun latar belakang perempuan yang mendaftar sebagai calon kepala daerah, masih didominasi oleh kader partai. Berdasarkan data pada infopemilu. KPU.go.id, per Selasa (20/2), tercatat, 49 perempuan mendaftarkan diri menjadi calon wakil kepala daerah (8,60 persen).

Dua orang perempuan mendaftar sebagai calon gubernur, yakni Khofifah Indar Parawansa, di Jawa. Timur, dan Karolin Margaret Natasa, di Kalimantan Barat. Perempuan- perempuan tersebut, mendaftar di 78 (45.61 persen) daerah yang menggelar Pilkada Serentak 2018.

Mereka tersebar di tujuh provinsi, 26 kota, dan 45 kabupaten. "Latar belakang perempuan pendaftar calon kepala daerah, masih didominasi oleh kader partai, perempuan dengan jaringan kekerabatan, mantan anggota DPR/DPD/DPRD,

dan petahana," ujar Direktur Eksekutif Perludem, Titi Anggraeni, dalam diskusi bertema ' Potret Perempuan Calon Kepala Daerah di Pilkada 2018', di Media Center KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Rabu (21/2).

Titi menilai, ada dua hal yang melatar belakangi perempuan menjadi calon kepala daerah di Pilkada, pertama, partai masih saja pragmatis dan berorientasi pada aspek elektabilitas dan kekuatan modal.

Kedua, partai tak memiliki suplai kader perempuan yang memadai. Kecenderungan ini terjadi karena partai tak memiliki mekanisme perekrutan anggota yang inklusif dan terbuka.

Dua faktor tersebut, menunjukkan tingkat partisipasi dan keterwakilan perempuan dalam politik bisa ditingkatkan apabila kita bisa mengubah paradigma dan perilaku partai jadi lebih terbuka terhadap perempuan.

Partai dituntut untuk tidak lagi mencalonkan perempuan dengan hanya mempertimbangkan elektabilitas tinggi, tetapi mencalonkan perempuan yang berkualitas.

"Bergabung dengan partai adalah jalan 'antara' yang ditempuh perempuan untuk menujunkuasa pemerintah daerah," tutur Titi Anggraeni.

Apalagi dalam UU 10/2016 tentang Kepala Daerah tak mengenal kebijakan khusus untuk mengusung calon perempuan, sehingga tidak ada tindakan khusus sementara bagi perempuan seperti kebijakan afirmasi di pemilu legislatif.

Ditambah lagi, pilkada yang digelar satu putaran akan akan membuat persaingan semakin ketat dan menyulitkan keterpilihan perempuan yang jumlahnya sudah sedikit. Padahal, perempuan masih membutuhkan afirmasi di pencalonan eksekutif, terutama Pilkada.

Karena Pilkada menjadi ruang strategis untuk menegosiasikan program dan kebijakan yang berpihak pada perempuan. Oleh karena itu, regulasi di tatanan daerah berikan peraturan daerah sering kali justru menjadi ancaman terhadap perempuan itu sendiri.

"Mendorong perempuan menjadi kepala daerah bisa ditempuh melalui dua jalur; partai maupun perseorangan, sehingga jalur tersebut meski juga diterapkan," pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Advertisement
Prancis Bosah-baseh, Apple, Louis Vuitton, Hermes, dan Rolex Dijarah

Prancis Bosah-baseh, Apple, Louis Vuitton, Hermes, dan Rolex Dijarah

18 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.