Panorama Dasar Samudra dalam Bingkai Seni Rajut
📅 Rabu, 08 Agu 2018, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: istimewa
The Mogus Multiple Hands (TMMH) karya seniman Mulyana dan sejumlah komunitas tersebut memamerkan seni rupa melalui medium benang dengan teknik rajut yang menampilkan sebuah panorama dasar samudra.
Pameran TMMH yang notabene merupakan manifestasi karya seni rupa rajut tersebut diselenggarakan di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Jawa Barat, pekan lalu.
Menikmati pesona dunia bawah laut, tidak perlu harus menyelam dengan alat bantu pernapasan. Benda-benda yang terletak jauh di dasar laut, bahkan bisa dilihat dari dekat. Hal ini tampak pada karya seni yang menggambarkan suasana kehidupan makhluk laut, pada pameran TMMH.
Senimannya seperti memindahkan dunia air yang beraneka warna dan bentuk pada ruang yang ditata sedemikian rupa, sehingga memesona. Penonton merasa bak berada di dalam akuarium, dan bisa bebas menikmati keindahannya.

Hal ini diwujudkan Mulyana, seniman yang memang mengagumi dunia bawah laut, dan punya keahlian dalam rajutan dan crochet. Dari sini, dia membawa keinginan mengangkat pemandangan dunia air yang menakjubkan, namun dianggap dia luput atau tersembunyi dari amatan orang lain, bisa dilihat dengan cukup mudah.
Menjadi seorang seniman yang eksis menggunakan teknik rajutan dalam berkarya menjadi tantangan tersendiri. Sama halnya dengan seniman Mulyana yang kini berdomisili di Yogyakarta.
"Saya sebenarnya sudah merajut sejak 10 tahun lalu. Banyak orang bilang, baru 4 tahun pindah ke Yogyakarta kok sudah jadi commissioned artist dan namanya terangkat, padahal nggak banyak yang tahu kalau saya sudah 10 tahun merajut," ujar Mulyana.
Awalnya, alumnus Pendidikan Seni Rupa UPI Bandung itu menyukai praktik seni yang berbentuk modular. Selama berkuliah, ia mengisi waktu akhir pekan dengan bekerja di Tobucil yang pada akhirnya membawanya konsisten merajut.
Saat kerja di Tobucil, ia belajar membuat origami modular. Namun, material kertas yang rapuh itu membuatnya berpindah ke gulungan wol.
"Dari satu benang bisa jadi bentuk apapun. Dan senangnya itu bisa aku bawa ke mana-mana, nggak rapuh, nggak langsung rusak kalau kena hujan. Akhirnya aku nggak milih pakai origami lagi," tuturnya.
Menebarkan Virus Bahagia
Pameran tunggal pertamanya yang berjudul Mogus World pada 2012 mendapatkan perhatian publik. Kurator beragam galeri sampai awak media menyambangi eksibisinya kala itu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!