Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
-

Pacu Pembangunan Desa untuk Mengerem Urbanisasi

📅 Rabu, 20 Des 2017, 00:01 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pacu Pembangunan Desa untuk Mengerem Urbanisasi Doc: kj/ones

Perluas lapangan kerja di desa untuk mengurangi dorongan urbanisasi.

Urbanisasi identik dengan usaha mencari kesempatan untuk lebih produktif.

JAKARTA - Pemerintah mesti memacu pembangunan perekenomian di perdesaan untuk menekan tingkat kemiskinan di desa guna mengatasi ketimpangan kesejahteraan penduduk desa dan kota yang selama ini menjadi pemicu urbanisasi.

Sebab, apabila laju perpindahan penduduk dari desa ke kota itu tidak dikelola dengan baik, berpotensi menimbulkan ketimpangan dan permasalahan di perkotaan meskipun di sisi lain juga berpeluang mendorong perekonomian.

Guru Besar bidang Sosiologi Ekonomi Unair Surabaya, Bagong Suyanto, mengemukakan pemerintah perlu mengatasi kesenjangan ekonomi dan sosial di desa dan kota melalui pembangunan perdesaan yang tepat sasaran untuk mengurangi dorongan penduduk desa melakukan urbanisasi.

"Tidak bisa dengan pendekatan pintu tertutup di kota, harus ditangani di hulunya, yakni membangun desa dan kota kecil agar tidak mendorong mereka urbanisasi," kata dia, ketika dihubungi, Selasa (19/12).

Untuk itu, lanjut Bagong, kebijakan pemerintah harus lebih berpihak ke desa sehingga perlu dikembangkan kebijakan pembangunan wilayah inti berganda dan mendorong efektivitas pemanfaatan dana desa.

Menurut dia, pembangunan perdesaan sangat erat kaitannya dengan pembangunan sektor pertanian yang merupakan penyumbang tenaga kerja terbesar. Namun, kini kontribusi sektor itu terhadap perekonomian terus menurun.

"Ini sekaligus mengerem impor pangan agar pertanian dalam negeri punya kesempatan. Pendek kata, masyarakat desa harus dibuat lebih sejahtera," tukas Bagong. Dia mengungkapkan penduduk desa cenderung memiliki kesejahteraan lebih rendah dibandingkan penduduk kota.

Persentase kemiskinan di perdesaan pada September 2016 tercatat mencapai 13,96 persen atau hampir dua kali lipat persentase penduduk miskin di kota sebesar 7,73 persen. Hal senada dikemukakan Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM, Agus Heruanto Hadna.

Menurut dia, hingga 2025, Indonesia masih akan menghadapi persoalan kependudukan seperti kualitas pendidikan dan kesehatan, kemiskinan dan ketimpangan, penyebaran penduduk, serta pengangguran.

Problemnya, menurut Agus, adalah pembangunan selalu bias kota dan tidak memperhatikan aspek masalah turunannya. Apabila urbanisasi terus dibiarkan, Indonesia akan menghadapi situasi sulit dengan demografi. "Kita mesti mendorong dana desa untuk penciptaan kerja di desa sehingga urbanisasi dicegah, persoalan kependudukan dikelola dengan visi jauh ke depan," ujar dia.

Perencanaan Matang

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
HBKB Rasuna Said Jadi Upaya...
Daerah
Akses Jalan TPAS Puuwatu Ke...
Nasional
Momentum Perkuat Wisata Dal...
Luar Negeri
Burnham Tantang Starmer Per...
Pelari dari 17 Negara Ramaikan Mandiri Jogja Marathon 2026

Pelari dari 17 Negara Ramaikan Mandiri Jogja Marathon 2026

22 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.