Mengembangkan Destinasi Turistik | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 10 2019
No Comments

Mengembangkan Destinasi Turistik

Mengembangkan Destinasi Turistik

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

oleh g jeffrey z rantung, mba,cha

Pariwisata mulai digalakkan, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah. Semua berlomba membuat destinasi-destinasi dengan berbagai semboyan. Bahkan, pemerintah Indonesia juga terus menggenjot sektor pariwisata guna meningkatkan devisa. Salah satu tagline yang popular adalah Wonderful In­donesia. Moto ini dipasang di mana-mana.

Harapannya agar semua wilayah menyiapkan diri me­nyambut turis asing. Hanya, benarkah demikian? Wonder­ful Indonesia boleh saja ada di mana-mana, namun sayang, infrastrukturnya banyak belum disiapkan. Belum ada koor­dinasi yang baik antarpihak-pihak. Ini sebagai kenyataan yang harus diterima.

Perlu koordinasi yang lebih baik antarinstansi. Pariwisata tidak dapat berjalan sendiri. Contoh, pariwisata memi­liki konsep yang bagus-bagus untuk menghadirkan turis. Namun ada kendala karena infrastruktur, sarana, dan pras­arananya yang membangun PUPR. Sementara itu, tentu PUPR mengutamakan peker­jaannya sendiri. Pariwisata ya nanti dulu. Jadi, benar-benar perlu duduk bersama untuk satu kerja mengembangkan pariwisata agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Dari sini saja sudah dapat dibayangkan ba­gaimana ribetnya koordinasi.

Dari dulu, Indonesia ingin lebih banyak mengembangkan industri meetings, incentives, conferencings, and exhibitions (MICE). Namun, semua kem­bali kepada masalah koordina­si semua pihak yang terlibat.

Ini kenyataan. Konsep mere­ka baru ke situ, belum sampai ke destinasi. Pengembangan destinasi tidak mudah, ka­rena itu tadi, infrastruktur sa­rana dan prasarana dikerjakan orang lain. Dulu, Kementerian Pariwisata memiliki anggaran APBN sendiri untuk memba­ngun infrastruktur. Jadi, bisa membangun juga, bukan hanya mempromosikan pariwisata.

Kondisi demikian bagai­mana mau bersaing dengan negara-negara tetangga? Maka, kebijakan itu penting sekali. Pemerintah membuat kebijak­an, yang lain seperti BUMD atau BUMN melaksanakannya bersama-sama de­ngan dinas atau kementerian-kemen­terian terkait. Jadi, Wonderful Indonesia bisa berjalan baik kalau dikerjakan bersama-sama de­ngan berbagai stakeholders.

Jakarta

Sementara itu, untuk pariwisata Jakarta tak kalah kompleks ma­salahnya. Maklum Jakarta adalah per­temuan dari segala macam urusan. Artinya, pariwisata belum mendapat tempat yang spesi­al. Orang ke Jakarta cenderung hanya untuk urusan bis­nis, pemerintahan, atau kependidikan. Pariwisata belum terlihat. Belum banyaik yang pergi ke Jakarta melulu tujuan pelancon­gan. Maka dari itu, pariwisata belum menjadi perhatian dan prioritas.

Maka, ka­lau mau maju, ke depannya pariwisata mesti digerakkan agar bisa menjadi sum­ber pendapatan asli daerah nomor 3 atau 4. Kalau su­dah seperti itu, pe­merintah sanggup menganggarkan sa­rana dan prasarana, termasuk market­ing dan branding agar dapat menem­bus ke pasar inter­nasional.

Jadi, pemerintah belum terlihat serius. Peme­rintah perlu membuat kebijakan dan dibangun semacam badan yang sifatnya fokus ke promosi dan pemasaran. DKI Jakarta ha­rus punya Jakarta Tourism Deve­lopment Corporation (JTDC). Tugasnya, mengoordinasikan pembangunan-pembangunan pariwisata Jakarta.

Malahan ke depan, Jakarta Tourisindo (Jaktour) harus menjadi stakeholder atau jus­tru diubah menjadi JTDC, se­hingga investor langsung ber­hubungan dengan Jaktour. Hotel-hotel di bawah Jaktour bisa menjadi divisi, atau kalau sanggup ya nanti menjadi PT. Saya melihat Jaktour sanggup menjadi JTDC. Maka dari itu, dengan adanya JTDC, segala urusan pariwisata berada da­lam satu atap. Dengan kata lain, ini BUMD, tetapi memperoleh mandat mengelola pariwisata.

Zona

Untuk mengembang­kan destinasi wisata Jakarta bisa dibuat zona-zona sesuai dengan kearifan lokal ma­sing-masing. Jakarta mem­punyai 212 destinasi lebih. Misalnya, budaya atau makan­an, kita tahu Jakarta mempu­nyai serabi atau kerak telor yang enak dan terkenal. Kerak telor, misalnya, ada di dae­rah Benyamin Sueb. Kita buat sentra-sentra kerajinan. Untuk destinasi belanja banyak, bah­kan sampai dengan pasar loak yang bagus juga ada.

Jadi, nanti dibuat zona-zona. Dengan begitu, bisa dikem­bangkan paket wisata. Ter­gantung permintaan turis, apa maunya dan mau ke mana. Misalnya, mau belanja, bisa diarahkan ke tempat belanja. Kalau mau cari kerajinan, bisa diarahkan ke sentra kerajinan. Demikian juga seni panggung. Jadi, ada sentra kesenian yang tampilnya rutin, misalnya tiap malam Minggu. Dengan begitu, kalau ada turis ingin melihat kesenian, bisa langsung dijadwalkan. Waktu show dan tempatnya sudah ada rutin. Perlu show rutin ondel-ondel, jaipongan, atau tanjidor.

Intinya dengan infrastruk­tur semua sudah bisa dibuat paket. Misalnya, transportasi yang mulai terintegrasi bisa dijadikan sarana menjual pak­et wisata. Jadi, turis cukup pe­gang satu kartu, mereka bisa ke mana-mana.

Namun, untuk me­narik wisatawan asing, Ja­karta pertama-tama ha­rus mampu menyediakan keamanan dan kenyaman. Se­telah itu, baru kelengkapan ho­tel, restoran, money changer atau tempat-tempat hiburan. Ini yang perlu disiapkan pemprov DKI Jakarta. Pari­wisata belum dilihat DKI sebagai sumber pemasukan. Dinas Pariwisata sifatnya ma­sih sekadar menghabiskan anggaran. Ini harus diubah.

Pariwisata juga harus memberi dampak ke ma­syarakat. Kalau ada event rutin, banyak yang nonton, banyak rakyat mendapat pemasukan, misalnya dari sajian kuliner atau keraji­nan. Banyak kelebihan yang dimiliki Jakarta. Sayang DKI merasa sudah menjadi ibu kota negara sehingga merasa tak perlu lagi memberi tahu kelebihannya.

Namun, ke depan, kalau mau mengembangkan pari­wisata, Pemprov DKI harus membuat prioritas-prioritas bersama dulu agar ketemu tu­juannya. Pariwisata Jakarta sa­ngat potensial dikembangkan. Malahan kalau dikelola secara profesional, pariwisata DKI, se­perti mengembangkan destina­si-destinasi kepulauan seribu, sungguh menjanjikan. Hanya, tinggal kemauan saja. Penulis Direktur Utama Jakarta Tourisindo

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment