Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads
-

Mengelola Ekonomi Idul Kurban

📅 Senin, 12 Agu 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Mengelola Ekonomi Idul Kurban Doc: koran jakarta/ones

oleh sivana khamdi syukria

Sebagai negara muslim terbesar dunia, Idul Kurban menjadi salah satu momen tahunan yang ditunggu-tunggu. Bagi muslim yang mampu, Idul Adha adalah momen paling tepat untuk berbagi pada sesama. Sedangkan bagi mereka yang kurang mampu sebagai waktu membahagiakan. Inilah momen ketika banyak muslim berwajah sumringah setelah menerima sekantung daging kurban. Ibadah kurban mengandung dimensi teologis, sosial, dan ekonomi. Dari sisi teologis, kurban sarana mendekatkan diri pada Allah.

Dari sisi sosial, kurban bermanfaat menumbuhkan solidaritas kemanusiaan yang mulai lemah. Sementara itu, secara ekonomi, kurban mampu menjadi instrumen pengentasan kemiskinan. Indonesia merupakan salah satu negara berpenduduk miskin terbesar dunia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, per Maret 2019 jumlah penduduk miskin mencapai 25,14 juta jiwa.

Maka, penting agar aktivitas ibadah kurban dikelola secara profesional dan maksimal agar memberi insentif ekonomi serta berkontribusi positif pada penurunan angka kemiskinan. Data Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menunjukkan, setiap tahun tidak kurang dari 70 triliun rupiah berputar selama pelaksanaan kurban. Sedang kementan memperkirakan tahun ini ada 1,3 juta ekor hewan akan dipotong. Mereka terdiri dari 376.500 sapi, 13.000 kerbau, 716.000 kambing, dan 242.000 domba.

Jumlah itu setara dengan 2,9 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2019. Jumlah dana berputar dalam pelaksanaan kurban diperkirakan terus meningkat. Asumsi itu dilandasi setidaknya eningkatnya kesadaran warga melaksanakan kurban.

Hal ini bisa dilihat dari masifnya penggunaan pakaian muslim di ruang publik. Juga meningkatnya konsumsi produk barang atau jasa berlabel halal mulai kosmetik, salon, laundry sampai hotel. Tren kenaikan serupa juga terjadi dalam konteks kurban. Setiap tahun, permintaah hewan kurban naik sekitar 3-5 persen. Tahun 2018 tercatat 1,5 juta ekor hewan kurban disembelih. Jumlah paling banyak terdapat di Jawa, 43,12 persen. Tahun ini, permintaan hewan kurban ditaksir naik 5 persen.

Kemudian, bertumbuhnya kelas menengah. Menurut Bank Dunia, kelas menengah berpenghasilan 75 hingga 125 persen dari pendapatan per kapita. Sedangkan menurut Asian Development Bank (ADB) kelas menengah, berpengeluaran 2-20 dollar Amerika Serikat per hari.

BPS menyebut, kelas menengah (pendapatan 4-8 juta per bulan) tahun 2018 mencapai 124 juta jiwa. Dari jumlah itu, 68 persen di antaranya Islam. Kelas menengah muslim dicirikan dengan pola konsumsi yang gemar membeli produk barang atau jasa yang berhubungan dengan simbol atau aktivitas keberagamaan seperti naik haji, umrah, dan berkurban.

Strategi

Maka, diperlukan sebuah langkah strategis untuk mengelola potensi ekonomi ibadah kurban agar tidak hanya memberi manfaat secara teologis maupun sosiologis, namun juga berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi. Meningkatnya permintaan hewan ternak jelang Idul Adha tentu berdampak meningkatnya kebutuhan pasokan hewan ternak.

Jika tidak diantisipasi, besar kemungkinan akan berdampak pula pada melambungnya harga hewan ternak. Pada titik inilah penting kiranya dilakukan langkah strategis untuk memaksimalkan efek ikutan (multiplier effect) dari akvititas ibadah kurban tersebut.

Tingginya angka permintaan hewan kurban jelang acara kurban dimanfaatkan untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat bawah. Utamanya para peternak dan pedagang hewan. Di samping itu, guna menghindari kenaikan harga secara tidak terkendali, perlu dipikirkan ketersediaan pasokan hewan ternak sejak jauh hari.

Sebelumnya, rantai pasokan hewan ternak lebih banyak bertumpu pada peternakan tradisional yang dijalankan perorangan di perdesaan. Belakangan, pasar hewan kurban juga diramaikan hewan ternak impor. Hal ini tentu tidak sepenuhnya salah. Hanya, diperlukan semacam regulasi sekaligus penguatan peternakan lokal agar ke depan pasar hewan tidak didominasi impor.

Pemerintah perlu berperan aktif mendukung dan mendorong kemajuan industri peternakan lokal. Langkah praktisnya bisa dengan memberikan penyuluhan, pendampingan, dan pemberian modal pada para peternak lokal. Tujuannya, agar rantai pasokan hewan kurban bisa disuplai lebih banyak peternak lokal dan hewan yang dihasilkan pun berdaya saing. Pada saat sama, diperlukan juga sebuah gerakan atau setidaknya kampanye penggunaan hewan lokal untuk kurban untuk melindungi para peternak lokal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Logistik Hijau Dinilai Kunci Menangkan Persaingan Industri
    Preview komentar:
    Inisiatif mulia dari Kementerian Kehutanan terkait optimalisasi rute ...
  • ESDM: Efisiensi Energi Bisa Pangkas 37 Persen Emisi Sektor Energi, Industri Makin Untung
    Preview komentar:
    Langkah proaktif pemerintah melalui program percontohan SETI ini ...
  • Fenomena Langit Agustus 2026: Gerhana Matahari Total, Hujan Meteor, Blood Moon hingga 6 Planet Sejajar
    Preview komentar:
    Membaca rangkuman fenomena langit Agustus 2026 di artikel ...
Advertisement
gaia musik festival
Luar Negeri
Ketua Parlemen Meninggal, L...

Penyerang Kosta Rika Jadi Pemain Terakhir PSIM

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Penyerang Kosta Rika Jadi P...
Jangan Sampai Lewat! Pemutihan Pajak Kendaraan di Kepri Obral Diskon Hingga Gratis Balik Nama

Jangan Sampai Lewat! Pemutihan Pajak Kendaraan di Kepri Obral Diskon Hingga Gratis Balik Nama

09 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.