Menemukan Apa Saja di Tempat Tinggal Tikus | Koran Jakarta
Koran Jakarta | May 31 2020
No Comments

Menemukan Apa Saja di Tempat Tinggal Tikus

Menemukan Apa Saja di Tempat Tinggal Tikus
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Tempat Terbaik di Dunia

Penulis : Roanne van Voorst

Penerbit : Marjin Kiri

Cetakan : I, Juli 2018

Ukuran : 14 × 20,3 cm

Tebal : vi + 192 hlm

ISBN : 978-979-1260-79-4

 

Roanne Van Voorst adalah seorang antropolog dari Belanda yang sedang mengumpulkan data untuk disertasi dengan meneliti respons masyarakat miskin terhadap banjir. Dalam buku ini, dia mengisahkan amatannya yang mendalam dan hidup atas kampung kumuh dan rawan banjir di Jakarta. Kini, kampung itu telah digusur. Awalnya, Roanne tak menemukan kampung yang tepat untuk diteliti. Birokrat enggan berbagi informasi dengan berdalih lokasi itu rawan bencana. Kemiskinan juga menjadikan penduduk setempat menjadi jahat.

Di tengah keputusasaan, Roanne justru menemukan kampung itu, tanpa diduga. Seorang pengamen di bus kota, Tikus, bukan nama sebenarnya, menawari ikut ke “tempat terbaik di Indonesia. Eh, bukan, ke tempat terbaik di dunia!” (hlm 10, 24). Lebih lanjut, Tikus berpromosi, “Apa saja yang ingin kamu lakukan, bisa kaulakukan di sana. Apa saja yang ingin kamu miliki, ada di sana,” (hlm 12). Roanne mengikuti Tikus ke kampungnya.

Tempat terindah yang Tikus maksud ternyata kampung yang Roanne cari, Bantaran Kali. Tentu saja itu nama samaran. Sama dengan semua nama responden buku ini. Begitulah kelaziman etis studi etnografis dengan metode observasi partisipatif. Roanne menetap di kampung kumuh itu setahun dengan menyewa sebuah rumah dari papan dan asbes. Dia semakin mengenal kemelaratan luar biasa, ancaman penggusuran pemukiman ilegal itu, dan pergulatan warga dengan banjir sungai yang sangat tercemar.

Masalah-masalah tersebut dihadapi warga dengan biasa saja. Bahkan, acap kali justru membuat mereka kreatif, inovatif, dan jenaka. Dengan informatif, intim, dan penuh humor, Roanne memberikan wawasan unik tentang kehidupan penghuni kampung kumuh yang keras, tetapi pantang menyerah itu. Buku ini mematahkan prasangka negatif para pejabat dan kelas menengah atas Indonesia yang cenderung mencap penghuni kampung kumuh sebagai kriminal dan pemalas. Buku juga menyangkal praduga positif sebagian aktivis dan peneliti yang kerap memandang persoalan riil kemiskinan secara romantik.

Tempat Terbaik di Dunia membuktikan mereka bukan kumpulan orang-orang bejat atau pengantre zakat. Mereka memang tak ada dalam segala dokumen perencanaan pembangunan birokrat, namun selalu berupaya menghargai hidup dengan segala siasat. Buku ini mau menyadarkan pembaca, cara pandang terhadap kemiskinan selama ini perlu ditinjau ulang. Buku mendorong untuk merumuskan rencana aksi yang lebih adil dan beradab.

Antropolog ini juga banyak buku fiksi. Buku pertamanya berjudul Jullie zijn anders als ons: Jong en Allochtoon in Nederland (2010), tentang kaum muda imigran Belanda. Dia meraih gelar doktor dengan predikat cum laude dari Universitas Amsterdam pada 2014. Penelitiannya tentang banjir di Indonesia melahirkan buku akademis Natural Hazards, Risk and Vulnerability: Floods and Slum Life in Indonesia (2015). Kisah pengalamannya dalam versi populer De Beste Plek ter Wereld: Leven in de Sloppen van Jakarta (2016), kemudian diterjemahkan menjadi Tempat Terbaik di Dunia: Pengalaman Seorang Antropolog Tinggal di Kawasan Kumuh Jakarta ini.

Tikus bertanya, “Kamu bisa menulis tentang kami, kan? ... Suara kami tak pernah didengar karena cuma penghuni kampung kumuh. Kata-katamu setidaknya masih akan mendapat perhatian,” (hlm 184). 

 

Diresensi Febrie Guntur Setiaputra, Lulusan Universitas Jember

 

 

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment