Koran Jakarta | September 23 2018
No Comments

Menaklukkan Nafsu Keserakahan Menumpuk Barang

Menaklukkan Nafsu Keserakahan Menumpuk Barang
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Chicken Soup for the Soul: Makin Sedikit Makin Bahagia (101 Kisah tentang Mengubah Hidup dengan Melepaskan Apa yang Dimiliki)

Editor : Amy Newmark dan Brooke Burke-Charvet

Penerbit : Gramedia

Cetakan : Pertama, 2018

Tebal : xvi + 438 halaman

ISBN : 978-602-03-6124-6

 

Peningkatan konsumsi yang masif dengan berbagai perkakas pendukungnya oleh sebagian kalangan dipandang sebagai gejala patologi. Erich Fromm, misalnya, melihat konsumsi yang kompulsif sebagai bentuk pelarian manusia modern dari kehampaan untuk mencari kebahagiaan. Namun, menurut Fromm, upaya itu hanyalah kesia-siaan.

Buku ini memuat kisah orang-orang biasa yang berusaha meraih kebahagiaan dengan mempraktikkan gaya hidup sederhana, bukan dengan merayakan konsumsi berlebihan. Para penutur berlatar belakang profesi beragam. Mereka mungkin memang bukan ideolog antikapitalisme dan antikonsumerisme. Akan tetapi, kisah-kisah mereka sungguh mengilhami dalam memberi teladan cara hidup yang disyukuri dan kemurahan berbagi.

Kisah Jeanie Jacobson dari Omaha, Nebraska, memberi perspektif baru tentang kebiasaan menumpuk barang berlebihan yang tak dimanfaatkan secara maksimal. Setiap kali membantu teman-temannya membereskan rumah dengan menyortir barang-barang yang jarang digunakan untuk disumbangkan, dia mengajukan pertanyaan khas, “Apakah kau menahan berkat orang lain?” (hlm 284–286).

Pertanyaan Jacobson ini yang kemudian juga diarahkan pada diri sendiri. Dia membuka mata kesadaran kita bahwa menumpuk barang senyatanya sebentuk keserakahan. Keserakahan menghalangi orang lain untuk memperoleh yang sebenarnya dibutuhkan. Sesederhana itu.

Denise Barnes tahu pasti betapa tidak mudah melawan rayuan iklan untuk mencari kepuasan dengan berbelanja. Awal tahun 2014 adiknya memberitahu, sedang membuat tantangan untuk tidak membeli baju, tas, sepatu, dan perhiasan baru selama setahun. Barner pun bergabung dengan tantangan itu. Mulanya memang tidak mudah, apalagi di tengah gempuran promo obral kanan kiri. Tapi, begitu sukses melewati tantangan, Barnes merasakan telah menjalani hidup yang lebih bermakna (hlm 59-63).

Godaan konsumsi yang kompulsif semakin kuat karena dukungan sistem ekonomi dan keuangan. Kisah Marsha Porter, seorang pengulas film, saat bangkit kembali dengan hidup tanpa kartu kredit sungguh menarik disimak. Kemudahan bertransaksi yang diiming-imingkan oleh penyedia kartu kredit membuat Porter terjerat. Sebanyak 13 kartu kredit menuntutnya melakukan pembayaran minimum setiap bulan 1,270 dollar AS.

Setelah dengan upaya keras berhasil bebas dari jerat kartu kredit, kini tak lagi menggunakannya. Porter kemudian merasakan momen-momen istimewa dan membahagiakan (hlm 349-353). Hidup yang tak mengenal batas konsumsi juga kadang didorong tradisi.

Kebiasaan merayakan ulang tahun, misalnya. Rebecca Smith Masterson dari Phoenix, Arizona, bertutur tentang ulang tahun putranya yang istimewa tanpa undangan, keriuhan, tumpukan hadiah, dan hura-hura. Putranya yang berumur sembilan tahun cukup tidur di tempat tidur Masterson malam menjelang ulang tahun, ditambah dengan beberapa permintaan sederhana (hlm 403-404).

Amy Newmark, editor serial Chicken Soup for the Soul, juga membagikan kisahnya di bagian akhir. Saat selesai mengaji 300 finalis untuk buku ini, dia seperti duduk di depan cermin tentang gaya hidupnya. Di awal tahun tahun 2016, dia berkomitmen untuk membuat proyek 52 pekan berberes-beres barang yang menumpuk di rumahnya (hlm 405-408). Buku ini berisi kisah-kisah orang hebat yang betul-betul mengerti dan menghayati kebahagiaan hidup sederhana.

Mereka sukses menaklukkan hawa nafsu konsumtif dengan bekal keberanian di atas kesadaran bahwa makin sedikit yang dimiliki akan tambah bahagia. Mereka adalah teladan nilai kesederhanaan. Meski tidak di atas landasan religius, kesadaran ini juga dibangun dengan pondasi rasa syukur atas berbagai berkat kehidupan dari Tuhan.


Diresensi M Mushthafa, Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment