Masih Adakah yang Berani Berkata Benar
📅 Kamis, 09 Agu 2018, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Judul : Parrhesia: Berani Berkata Benar
Penulis : Michel Foucault
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan : I, Mei 2018
Ukuran : 12 + 19 cm
Tebal : x + 209 hlm
ISBN : 978-979-1260-78-7
Michel Foucault (1926-1984) salah satu pemikir terbesar Prancis abad ke-20. Teoriteorinya mengurai hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan serta penggunaannya sebagai kontrol sosial melalui institusi kemasyarakatan. Dia dikelompokkan sebagai filsuf pascamodern dan pascastruktural, meski menampiknya. Ia lebih suka menyebut pemikirannya sebagai kritik modernitas.
Karya-karya Foucault berpengaruh besar pada bidang kajian budaya, sosiologi, feminisme, dan teori kritis. Buku bertajuk Parrhesia: Berani Berkata Benar ini diterjemahkan dari bahasa Inggris dan disusun berdasarkan rekaman kaset enam ceramahnya di Universitas California, Berkeley, pada musim gugur 1983. Ini seminarnya tentang "Wacana dan Kebenaran" (hlm vii).
Kata parrhesia muncul pertama dalam kesusastraan Yunani pada karya-karya Euripides sekitar 484-407 sebelum Kristus. Parrhesia umumnya diterjemahkan sebagai berbicara bebas (free speech). Pengguna parrhesia atau orang yang berbicara kebenaran disebut parrhesiastes, sedangkan perbuatannya disebut parrhesiazomai atau parrhesiazesthai (hlm 2).
Parrhesiastes mengatakan benar karena tahu benar. Ia tahu benar karena memang benar. Artinya, ada koinsidensi yang presisi antara kepercayaan dan kebenaran. Masalahnya, tak semua yang berbicara kebenaran serta-merta dianggap telah menerapkan parrhesia. "Orang (baru) dikatakan menerapkan parrhesia hanya jika terdapat risiko atau bahaya baginya dalam mengungkap kebenaran, (hlm 7-8).
Misalnya, guru tata bahasa menyampaikan kebenaran kepada anak didik. Dia bukan seorang parrhesiastes. Namun, tatkala seorang filsuf berbicara di hadapan seorang tiran dan menegasikan, tirani tidak sejalan dengan keadilan. Sang filsuf telah berbicara benar. Dia percaya telah berbicara benar. Lebih dari itu, juga mengambil risiko.
Risiko yang mungkin ditanggung parrhesiastes boleh jadi beragam rupa. Yang pasti, bahaya dapat muncul dari kenyataan, kebenaran kata- kata yang mungkin menyakiti atau menimbulkan amarah mitra wicara (interlocutor).
Untuk memahami hakikat kebenaran dan praktiknya dalam kehidupan, termasuk dalam sistem demokrasi, buku ini mengajak mencermati epos Yunani klasik. Ada enam drama tragedi karya Euripides yang dikaji Foucault. Mereka adalah Phoinissai, Hippolytos, Bakkhai, Elektra, Ion, dan Orestes. Dengannya, Foucault berharap dapat memberi dasar-dasar argumentatif penerapan parrhesia dari tempat yang disebut-sebut sebagai cikal bakal konsep demokrasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!