Mahakarya yang Membumikan Gandawyuha
📅 Senin, 11 Des 2017, 01:00 WIB | Oleh: Eko S
Doc: koran jakarta/eko s putro
Candi Borobudur masih menyimpan sejuta misteri yang belum terungkap. Bagaimana candi itu dibangun, untuk apa, masyarakat dengan teknologi dan kebudayaan seperti apa yang menopangnya, dan sebagainya.
Borobudur Writers Cultural Festival (BWCF) 2017 yang berlangsung pekan lalu membahas Borobudur melalui Kisah Gandwyuha yakni relief terbanyak yang diukir di candi tersebut dan berada di lorong tingkat tertinggi sebelum menuju plataran puncak Borobudur. Di bawahnya berturut dipahat relief Jataka, Lalitawistara, dan Karmawibangga yang terpahat di kaki candi.
Kisah Gandawyuha adalah kisah asli India bagian selatan yang ditulis sekitar abad 1 Masehi dan diadopsi banyak peradaban di seluruh Asia, dari India, Tongkok, Jepang, Srilangka, hingga Nusantara.
Pakar Budhidharma, Salim Lee, yang menjadi pembicara utama dalam seminar di Hotel Manohara kawasan Borobudur, Magelang, mengatakan, salah satu yang paling menarik dari Borobudur adalah candi tersebut merupakan pembumian naskah Gandawyuha yang bisa dinikmati dan dipelajari semua orang.

Berbeda di negara-negara lain seperti Tiongkok, Jepang, maupun India, tafsir atas Gandawyuha berada di kuil-kuil yang elitis.
"Sebagai presentasi kisah Gandawyuha, presentasinya melibatkan pemikiran mendalam, kebaikan tertinggi, dan keahlian seni ukir dari seluruh rakyat. Borobudur adalah peta mencapai potensi tertinggi keberadaan, dan kokoh berdiri di bumi Nusantara," jelasnya.
Gandawyuha adalah sutra (teks) utama budhisme yang mencerminkan keluasan dan kedalaman ajaran Budha. Kisahnya bercerita tentang tokoh bernama Sudjana dalam menggapai spiritual tertinggi.
Salim Lee mengatakan bagi orang-orang yang berkeinginan memiliki hidup yang berarti, Borobudur merupakan suatu peta sistematis. Dimulai dari keinginan mendasar seperti kekayaan, dipuji dan berumur panjang, hingga tercapainya kehidupan yang tergugah, hidup dengan kemantapan, kedamaian hati, dan welas asih yang menebar kebahagiaan untuk semua makhluk.
Di seluruh dunia, sepanjang sejarah, Borobudur adalah satu-satunya kita bisa menemukan kumpulan sutra yang begitu lengkap dan paripurna. Dibabar dengan sistematis, dengan tahapan dan tujuan jelas, dan dihadirkan pada media ukiran batu pada dinding dan Langkan sebuah Stupa.
"Motifnya yang luar biasa, yakni agar sebanyak mungkin orang bisa menjalani laku itu. Keselamatan bagi semua orang," katanya. YK/R-1
Magnum Opus dari Profesor Noerhadi
Guru Besar Emeritus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI), Noerhadi Magetsari mendapat anugrah Sang Hyang Kamahayanikan Award dari BWCF ke-6 tahun 2017.
Noerhadi dinilai telah memberikan sebuah kajian paling komprehensif mengenai Borobudur yang berangkat dari kajian sutra (teks tertulis) yang muncul dari kalangan akademis Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!