Koran Jakarta | May 22 2019
No Comments

Ketika Perempuan Memilih Investasi

Ketika Perempuan Memilih Investasi

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

“Big thanks to Kartini”, mungkin bahasa yang tepat untuk diucapkan perempuan zaman now. Kartini menjadi tonggak perjuangan emansipasi perempuan Indonesia di bawah kependudukan kolonial Belanda kala itu.

Lebih dari seabad berselang, kini tidak sedikit perempuan yang mampu menempati posisi strategis di berbagai perusa­haan dan menandingi posisi para lelaki. Survei yang dilakukan Grant Thornton bahkan menunjukkan perempuan Indonesia termasuk urutan 10 besar di dunia untuk posisi manajer perusa­haan.

Angka perempuan bekerja di Indonesia tiap tahun menunjukkan peningkatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2017 menunjuk­kan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pekerja perempuan meningkat sebesar 2,33 menjadi 55,04 persen dari sebelumnya, 52,71 persen. Selain dapat mendorong kualitas hidup dan produk­tivitas, mereka juga mampu menjadi independen secara finansial melalui penghasilan pribadinya.

Lalu bagaimana dengan perempu­an yang memilih menjadi ibu rumah tangga (IRT)? Fakta mengatakan lebih dari 50 persen keuangan rumah tangga di Indonesia dipegang atau bahkan dikelola istri. Dalam hal ini, perempuan yang menjadi IRT mengemban posisi sebagai manajer keuangan ke­luarga yang dituntut pintar dalam mengelola dan memaksimalkan pendapatan yang terkumpul setiap bulannya.

Tentunya bagi pe­rempuan yang men­jadi IRT, mempunyai kesempatan sama un­tuk meraih independen finansial. Terlebih me­reka ini sudah terbiasa mengelola keuangan keluarga dari mulai membagi budget kebutuhan pokok, anak sekolah, hingga menyisi­kan bud­get untuk diinvestasi­kan.

Berdasar­kan statistik, usia harapan hidup pe­rempuan lebih panjang dibandingkan dengan laki-laki. Data BPS menyatakan, pada 2010-2014 angka harapan hidup (AHH) laki-laki 68 tahun. Sementara, AHH perempuan 72 tahun. Di tahun berikutnya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki tambahan satu ta­hun harapan hidup. Namun, hasil akhir tetap menunjukkan perempuan hidup lebih lama. Dengan angka ini,berarti perempuan harus siap untuk bertahan hidup setidaknya 4 tahun tanpa pengha­silan dari suami.

Sebetulnya, banyak cara yang dapat dilakukan perempuan baik pekerja ataupun IRT untuk meraih independensi finansial. Salah satunya dengan membuat peren­canaan investasi. Investasi akan mem­berikan aset bagi perempuan untuk mandiri, bahkan memungkinkan mere­ka untuk bertahan hidup di kondi­si-kondisi sulit dan tak terduga seperti sakit dan kehilang­an pasangan yang selama ini menjadi tumpuan hidup.

Naluri Alamiah Keibuan

Sebelum teknologi hadir dengan agresifnya seperti saat ini, investasi masih men­jadi momok asing bagi seba­gian perempuan karena dianggap sebagai sesuatu yang rumit. Bahkan perempuan masih ba­nyak yang kurang menyadari pentingnya investasi. Namun beruntunglah kita, karena nampaknya teknologi menjadi salah satu dari solusi terbatasnya akses informasi perempu­an terhadap investasi. Me­lalui teknologi, perempuan In­donesia diajak semakin pintar mengenal investasi secara lebih cermat, semudah menggerakkan ibu jari.

Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat dalam empat tahun terakhir, pertumbuhan jumlah inves­tor perempuan mencapai 965 persen, di mana pertumbuhannya lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan investor laki-laki. Sementara pertum­buhan jumlah investor laki-laki dalam empat tahun terakhir hanya 71 persen menjadi 629.115 investor. Saat ini, total investor perempuan di pasar modal mencapai sekitar 476.772 orang.

FX Iwan

“Tingginya angka kenaikan jumlah investor perempuan saat ini menunjuk­kan sinyal positif bagi perkembangan investasi di kalangan perempuan dan potensi untuk semakin meningkat cu­kup besar. Banyak studi menunjukkan sesungguhnya perempuan lebih pintar dalam berinvestasi ketimbang laki-laki. Hal ini didukung beberapa sifat alamiah yang dimiliki perempuan when it comes to investment, seperti sifat keibuan yang ternyata memberikan pengaruh terha­dap perilaku investasi perempuan,” ujar FX Iwan, Independent Wealth Manage­ment Advisor.

Iwan menyarankan para pemain wealth management di Indonesia untuk lebih mendalami psikologi perempuan dalam memberikan saran akan produk-produk investasi terbaik bagi mereka.

Iwan yang juga berperan seba­gai Founder and Managing Partner Jagartha Avisors mengatakan faktor psikologis yang dimiliki perempuan jus­tru dapat membantu perempuan untuk lebih sukses dalam berinvestasi dibanding laki-laki. yok/R-1

Analisis Kelebihan Perempuan

Berikut adalah analisis Iwan mengenai kelebihan perempuan yang membawa dampak positif bagi perilaku investasi mereka dan berpeluang menghasilkan imbal hasil yang lebih baik:

Bersabar untuk hasil yang lebih besar

Frekuensi investor perempuan melaku­kan trading instrumen investasi lebih sedikit daripada investor laki-laki. Kenapa? Karena investor laki-laki umumnya memiliki keper­cayaan diri berlebihan terhadap kemampuan mereka menganalisa investasi. Semakin percaya diri seorang investor, semakin banyak frekuensi trading yang mungkin dilakukan. Akibatnya? Tentu saja berimbas pada biaya dan imbal hasil dari instrumen investasi yang digunakan. Laki-laki cenderung memperda­gangkan 45 persen lebih banyak dari investor perempuan. Perempuan dapat menyikapi hal ini dengan lebih tenang dan cenderung me­milih bertahan untuk menghindari risiko yang lebih besar.

Disiplin dan konservatif

Investor perempuan lebih disiplin dalam menjalankan rencana investasi sehingga investor perempuan memiliki risk-adjusted return yang lebih kuat daripada investor laki-laki. Studi dari platform Betterment juga mendukung hal ini, di mana investor laki-laki terbukti jauh lebih sering melakukan per­ubahan alokasi investasi daripada investor perempuan. Dalam hal ini, perempuan akan bersifat lebih konservatif karena berorientasi pada investasi jangka panjang.

Terus belajar dan terbuka terhadap saran

Investor perempuan lebih mau untuk belajar dan meminta saran dari pihak yang di­anggap lebih tahu tentang investasi dibanding investor laki-laki. Hal ini juga sejalan dengan statistik dari blog CKM ini, di mana presentasi visitor perempuan ternyata lebih banyak dari visitor laki-laki. Demikian juga dari jum­lah pembaca yang memberikan komen dan bertanya melalui email, presentasi perempu­an sedikit lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Studi mengungkapkan laki-laki cenderung lebih memenangkan egonya untuk tidak bertanya jika menemui sebuah perta­nyaan.

Sebagian besar perempuan pada awalnya mempersepsikan diri tidak bisa atau tidak siap untuk melakukan perencanaan investasi. Namun sebenarnya hal ini menjadi kekuatan tersendiri bagi perempuan untuk mengatur keuangannya sendiri.

Karakter dasar yang cenderung meng­hindari risiko (dan melakukan diversifikasi), sabar, beriorientasi jangka panjang dan selalu ingin belajar menjadikan kaum perempuan sebagai sosok investor yang baik. “Tidak perlu besar dalam memulai investasi, tapi terap­kan ketiga sifat yang sudah ada dalam diri Anda (seorang perempuan), maka Anda akan sukses dalam berinvestasi,” tutup Iwan. yok/R-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment