Kadarsah Suryadi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 24 2017
No Comments
WAWANCARA

Kadarsah Suryadi

Kadarsah Suryadi

Foto : Koran Jakarta/Teguh Rahardjo
A   A   A   Pengaturan Font
Institut Teknologi Bandung (ITB) bukan merupakan satu-satunya perguran tinggi teknik di Indonesia. Sebagai perguruan tinggi teknik pertama di Indonesia, ITB diharapkan banyak menghasilkan lulusan untuk ikut membangun bangsa, khususnya dalam bidang teknik.

Banyak anggapan dari masyarakat, jika untuk dapat kuliah di ITB bukan hanya butuh otak encer, namun juga perlu duit yang banyak. ITB dianggap sebagai kampus yang mahal. Padahal separuh dari mahasiswa ITB saat ini kuliah secara gratis.

Mahasiswa ITB dapat kuliah gratis karena pengelolaan keuangan perguruan tinggi yang baik, transparan, dan ada subsidi silang untuk membiayai kuliah. Untuk mengetahui lebih jauh kiprah ITB dan pengembangan kampus ini, wartawan Koran Jakarta, Teguh Raharjo berkesempatan mewawancarai Rektor ITB, Kadarsyah Suryadi, di Bandung, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Saat ini ada berapa banyak program studi (Prodi) di ITB dan jumlah mahasiswanya?

Prodi untuk jurusan sarjana atau S1 sebanyak 49, kemudian S2 sebanyak 52, dan S3 sebanyak 37. Jumlah mahasiswa ditotal sekitar 22 ribu. Rincianya untuk prodi S1 sekitar 15 ribu, S2 sekitar enam ribu, dan sisanya prodi S3.

Pilihan favorit pada penerimaan tahun ini apa?

Sulit untuk menjawab itu sebab semua saya kira favorit, semuanya diminati. Kami membagi Prodi sebanyak empat klaster. Yakni klaster science di mana ada MIPA, farmasi, teknologi hayati, dan lain-lain. Klaster kedua bidang enginer atau fakultas teknik. Ketiga adalah klaster seni rupa dan desain. Klaster keempat adalah bisnis dan manajemen.

Susah kalau saya menjawab mana yang favorit, sebab dari keempat klaster itu peminatnya seimbang. Empat klaster ini kami perkuat dan saling memiliki keterhubungan, sebagai empat pilar yang saling melengkapi. Menurut Global Enginering Education Exchange, dikatakan bahwa enginer harus punya sentuhan seni dan art yang harus pula didukung oleh science. Sebab ilmu dikembangkan melalui science yang berkembang lagi menjadi inovasi-inovasi.

Apa ada kelas khusus, kelas internasional misalnya?

Ada. Kelas internasional ada enam yakni teknik kimia, manajemen, penerbangan, teknik mesin, farmasi science, dan farmasi klinik. Kelas internasional ini dibuka dengan harapan ingin mempersiapkan generasi muda yang memiliki keterhubungan kebudayaan dengan negara lain.

Tujuannya agar saat nanti menjadi pemimpin, di mana pun, akan menjadi pemimpin yang mudah berkomunikasi dan mampu menjalin hubungan dan relasi yang baik dengan negara lain. Kita hidup di era global yang tidak ada batas. Jadi harus siap bersaing dan berkomunikasi dengan dunia luar. Kami juga melakukan pertukaran antara pelajar ITB dan pelajar universitas internasional untuk saling mempelajari budaya. Dosennya juga.

Kami ada program double degree. Yaitu mahasiswa akan belajar di dua tempat berbeda dalam waktu yang kami tentukan. Setahun di ITB setahun lagi di universitas internasional yang sudah menjadi partner kami. Uniknya setelah lulus maka mahasiswa ini akan mendapatkan ijazah dari dua kampus, dobel. Tentu peminatnya sangat banyak.

Kami juga mencari universitas yang memiliki kurikulum yang equal dan equivalent dan ada persetujuan dari dua pihak universitas. Negara yang bekerja sama untuk kelas internasional ini, antara lain Jepang, Australia, dan beberapa negara Eropa.

Hingga hari ini sudah ada 25 Prodi di ITB yang sudah terakreditasi internasional, dan enam di antaranya masuk dalam kelas internasional tadi.

Untuk diketahui, saat ini ada sebanyak 500 lebih mahasiswa asing yang berkuliah di ITB, 150 orang di antaranya kuliah program reguler baik S1, S2 hingga S3.

Kalau program profesi?

Ada juga, yakni Prodi farmasi, di mana lulusannya akan menjadi apoteker. Lalu ada profesi insinyur juga.

Bukannya lulusan ITB di bidang teknik sudah pasti bergelar insinyur?

Menurut undang-undang memang harus ada program profesi insinyur. Maksudnya lulusannya langsung memiliki sertifikasi insinyur. Banyak yang ikut, baik fresh graduate hingga yang sudah bekerja ikut program ini ada juga siswa Rekognisi dari Pengalaman Lampau (RPL). Kami memang ingin mendorong agar Prodi di ITB memiliki sertifikasi internasional, jadi lulusannya juga diakui secara internasional. Karena kami ingin ITB berkualitas internasional.

Tadi dikatakan mahasiswanya 22 ribu lebih, belum lagi dosen, bagaimana mengelola ini?

Ada PTN lain yang mahasiswanya di atas 50 ribu, bahkan hampir 100 ribu. Kami tergolong sedikit. Bahkan pemerintah menginginkan kami menambah. Pemerintah ingin lulusan sarjana teknik kami itu lebih banyak lagi.

Namun menjaga kualitas lulusan adalah keharusan. Jumlah mahasiswa juga harus memperhatikan rasio keberadaan dosen. Sekarang ini rasionya satu dosen berbanding 16 mahasiswa.

Selama ini sebanyak empat ribu mahasiswa baru masuk ITB, padahal saya kira banyak calon mahasiswa yang juga pintar dan layak masuk ITB. Karena saya lihat selisih nilai ujian masuk PTN yang lulus dan tidak lulus itu sangat tipis. Artinya yang tidak diterima pun banyak yang anak pintarnya.

Kalau jumlah dosen nambah, mahasiswa kami juga bisa nambah. Di sisi lain luas kampus ITB hanya 28 hektare, ini juga menjadi pertimbangan. Kami sudah mulai membuka kampus luar, seperti di Jatinangor sudah dimulai sejak tahun 2012. Lalu ada kampus di Cirebon yang tahun ini akan mulai dibangun.

Cirebon ada tiga Prodi, yakni kriya seni rupa, planologi, dan teknik industri. Saat ini sudah angkatan kedua, sebelum gedung jadi, mereka kuliah di Jatinangor dulu, dititipkan.

Master plan sedang dibuat, kami inginnya berkontribusi maksimum terhadap pembangunan negara. Itu artinya perlu tenaga enginer yang banyak. Jika dibandingkan negara lain, jumlah enginer Indonesia masih jauh lebih kecil. Kami ingin lulusan enginer ini memiliki kualitas bagus, diakui internasional. Untuk itu kan perlu perencanaan atau master plan-nya.

Strateginya sepertinya apa?

Kami sudah mendeklarasikan diri sejak Januari 2015 bahwa ITB harus sudah bergerak, dari research university menuju entrepreneurial university. Harus excelent belajar mengajarnya, kualitasnya juga. Penelitiannya harus bagus dan excelent dalam inovasi dan entrepreneur. Sebab, ada tiga hal ini merupakan tiga jenis lulusan dari semua perguruan tinggi mana pun.

Yang pertama kami sebut employe yang merupakan hasil dari belajar mengajar saja. Hasil lulusannya memang masih yang terbanyak. Mereka disebut sebagai profesional setelah lulus. Kedua adalah peneliti, orang yang mengembangkan ilmunya setelah lulus. Kami sadar bahwa negara akan dihormati negara lain kalau ilmunya berkembang dan menjadi rujukan negara lain. Lulusan ini jumlahnya lebih sedikit lagi.

Ketiga adalah yang paling sedikit yakni menghasilkan entrepeneur atau pengusaha. Entrepreneurial university yang sudah maju seperti Oxford atau Cambridge paling banyak sekitar 8 persen lulusannya menjadi entrepreneur, itu pun tidak setelah lulus langsung jadi, harus menunggu beberapa tahun atau bekerja dulu. Nah, ITB mempunyai target lulusannya yang menjadi entrepreneur sebanyak 4 persen, setelah tiga tahun bekerja. Kenapa? Kami ingin meningkatkan kualitas bangsa lewat keilmuwan dan memberikan nilai tambah ekonomi dan sosial melalui inovator dan juga entrepenur.

Dukungan apa saja yang diperlukan untuk mencapai itu?

Memang tidak bisa sendirian. Kami harus menjalin kemitraan, dengan industri dan pemerintah serta masyarakat. Saya teringat pada tahun 2007 mengikuti pertemuan di Bangkok yang dihadiri delegasi negara-negara Asia lain, di mana budget adalah hal pertama untuk pengembangan research and development (R&D). Tapi itu tidak bisa ditanggung sendiri oleh universitas.

Jepang, Tiongkok, dan Korea membiayai riset di kampus melalui kolaborasi. Sebesar 65 persen ditanggung industri, 30 persen pemerintah, dan sisanya oleh kampus. Penelitian tetap dilakukan di kampus. Ini yang dilakukan ITB saat ini. Sebagai contoh awal Maret 2017, ITB meluncurkan handphone murah. Itu hasil kolaborasi industri, kampus, dan pemerintah.

Kami juga bermitra dengan masyarakat internasonal. Sampai hari ini ada 350 lebih netwok kami di internasional. Kerja sama penelitian internasional juga banyak dilakukan. Misal dengan Jepang meneliti pengurangan kadar CO2 di udara, ditangkap, dan dimasukan ke dalam tanah. Di Jakarta kami juga melalui Teknik Lingkungan bersama Toyota melakukan kerja sama pengukuran dampak polusi kendaraan terhadap lingkungan. Hasilnya akan digunakan untuk mengurangi racun akibat asap kendaraan. Masih dilakukan.

Saat ini ada sebanyak 70 start up yang kami bina untuk pengembangan ide dan inovasi mereka bagi pertumbuhan kewirausahaan melalui ITB Mini Teknopark. Sebagian sudah spin off dan mandiri, sebagian dalam masa inkubasi. Misalnya inovasi mengubah air laut menjadi air tawar yang bisa diminum dan banyak lagi lainnya.

Banyak yang ingin berkolaborasi, kalau dari sisi internalnya sendiri bagaimana? Mahasiswa dan dosen banyak yang berminat?

Sekarang minat semakin tinggi. Karena disamping meneliti sebagai riset, juga ada dorongan agar hasil riset ini menjadi paten dan digunakan industri. Kami ada semacam komunitas ITB In Move, di situ menghimpun mahasiswa yang memiliki ide dan inovasi sekaligus mencarikan network pemberi dana (ventura).

Kami akan membimbing mereka sampai berhasil. Salah satunya yang sudah berhasil adalah produk semen hidup. Semen yang dipakai untuk menutupi retakan beton, di mana ada bakteri khusus yang akan bergerak mencari lubang retakan sehingga kembali merekat. Ada juga temuan mengubah alga menjadi bio diesel.

Tahun 2015 lalu sudah ada 49 inovator, tahun ini lebih banyak lagi. Kami juga ada program teknopreneurship orientasion program (TOP), di mana kami mengundang pengusaha start up yang sudah berhasil untuk memberikan guidance, mengundang industri yang akan mendanai hingga menciptakan pasarnya.

Boleh tahu rangking ITB baik nasional dan internasional?

Peringkat atau rangking bukan tujuan, tapi dipakai sebagai alat untuk mengecek sehat tidaknya badan usaha, untuk keberlanjutan. Tapi ingat rangking itu selalu berubah setiap tahun, bisa turun dan naik. Soal rangking ITB itu penting, tapi bukan yang terpenting buat ITB.

Saya pernah diundang lembaga rangking dunia Time Hires Educatin (THE), itu perangking dunia dan paling sulit. Waktu itu saya berbicara di Korea, saya katakan untuk ITB rangking bukan tujuan, hanya sebagai alat untuk mengetahui kampus itu sehat atau tidak, rasio mahasiswa dan dosen terjaga dengan baik atau tidak. Rangking itu hanya dampak atau ikutan dari peningkatan kinerja. Saya sendiri berkomitmen terus meningkatkan kinerja ITB, risetnya, dan lain-lain. Kami punya kriteria tersendiri untuk menilai.

Selama ini pendanaan ITB berasal dari mana?

Kami ada tiga sumber dana, yakni pemerintah, mahasiswa melalui SPP, dan kerja sama masyarakat. Komposisi pemerintah antara 35 hingga 40 persen, mahasiswa 30 persen, dan sisinya dari masyarakat atau pihak ketiga yang menjadi mitra ITB. Itu untuk operasional, gaji, beasiswa, pemeliharaan, semuanya.

Porsi mahasiswa 30 persen, ke depan akan berkurang? Agar biaya kuliah tidak mahal?

Kami ada kebijakan di mana biaya pendidikan bagi mahasiswa itu gratis, untuk yang tidak mampu. Makanya banyak di ITB yang kuliah membayar nol rupiah, hanya saja ini tidak terekspose di masyarakat, belum banyak publik yang tahu ini. Buat mahsiswa yang mampu silahkan bayar, semampunya saja, kemampuan orang tuanya berapa. Untuk diketahui, dari total 22 ribu mahasiswa di ITB, hanya sekitar 30 hingga 40 persennya yang membayar SPP penuh.

Orang tahunya kuliah di ITB bayarnya mahal pak?

Nah ini, saya ingin tegaskan jika berhasil masuk ITB maka bisa kuliah nol rupiah. Saya harap masyarakat, melalui Koran Jakarta, sekarang menjadi tahu, ada subsidi untuk yang tidak mampu. 

N-3

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment