Koran Jakarta | September 15 2019
No Comments

Hijrah agar Bulan Suci Kian Berkah

Hijrah agar Bulan Suci Kian Berkah

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Judul buku : Habis Hijrah Terbitlah Berkah

Penulis : Andri Astiawan Azis

Penerbit : Qafila (PT Gramedia Widiasarana Indonesia)

ISBN : 978-602-051-95-0

Cetakan : Pertama, 2019

Tebal : 128 halaman

Bulan Ramadan adalah bulan penuh keutamaan, sangat tepat untuk berhijrah dengan mendekatkan diri pada Ilahi. Buku tulisan Andri Astiawan Azis ini sangat bagus untuk menemani perjalanan hijrah agar meraih keberkahan. Hijrah itu bukan menjadi lebih baik dari orang lain, tapi menjadi lebih baik dari diri kita yang dulu. Dari 220 juta penduduk Indonesia, sekitar 87 persen adalah muslim, tetapi sangat disayangkan, kita tidak memiliki generasi muslim yang membanggakan, yang siap mewakafkan masa muda demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Generasi muda muslim seolah kehilangan jati diri, padahal seharusnya mereka harus melanjutkan perjuangan perbaikan di tengah umat yang sedang sakit. Sebuah pertanyaan mendasar harus kita coba jawab, yakni digunakan untuk apakah masa muda kita? Apakah hanya untuk bersenang-senang? Sudah saatnya kita berubah menjadi lebih baik, selagi masih ada waktu.

Dalam sebuah hadits riwayat Muslim disebutkan, bahwa Allah lebih gembira dengan tobat hamba- Nya ketika ia bertobat, daripada gembiranya seorang yang menemukan ontanya yang hilang di tengah keputusasaannya dalam pencarian.

Dengan bertobat dan hijrah menjadi lebih baik, maka kita akan membuat- Nya gembira, dan pastilah keberkahan akan terlimpah kepada kita. Dosa dan kemaksiatan yang diikuti dengan pertobatan yang sungguhsungguh selalu melahirkan lompatan keimanan yang jauh lebih tinggi dari sebelum berbuat dosa. Sementara ketaatan yang diikuti rasa puas diri dan sikap jemawa akan menggerus pahala sampai titik nol yang sia-sia. (hal. 10)

Syarat bertobat menurut Ibnu Katsir adalah tobat yang ikhlas bukan karena makhluk atau tujuan duniawi. Kemudian menyesali dosa yang telah dilakukan dan tidak mengulanginya. Jika ia berbuat keharaman maka segera ditinggalkan dan kembali melaksanakan kewajiban. Dan jika kesalahannya berkaitan dengan hak manusia, maka ia segera menunaikannya atau meminta maaf. (hal.21)

Kita harus bisa move on dari kesalahan dan keburukan dengan meluruskan niat, meningkatkan ibadah, dan perbanyak silaturahmi. Dan jangan tunda lagi, do it now! Kita juga harus menjaganya agar istikamah dengan mencari lingkungan yang tepat, terus beramal walau sedikit, senantiasa membaca dan mempelajari Alquran. Sibukkan diri dengan mengikuti mentoring Tarbiah Islamiyah dan meningkatkan rasa sosial dengan menebar kebaikan dan berdakwah. Kebaikan akan selalu tertulis dan tercatat sebagai kebaikan. Jangankan kebaikan yang besar, kebaikan kecil pun selamanya akan tercatat sebagai kebaikan. (hal.87)

Kita juga harus paham bahwa sebaik apa pun niat kita berhijrah, pasti Allah akan mendatangkan ujian agar kita tahu bahwa menuju surga-Nya tidak semudah hanya dengan kemantapan mulut untuk berkata “Iya, aku mau berubah.” Proses itu tetap harus dengan kemantapan hati dan didasari kesabaran dan keikhlasan, perlu diperjuangkan dengan keistikamahan. Maka jangan putus asa saat kita dihina, dicaci, dan dipermalukan.

Dianggap sok alim, sok saleh, sok jadi anak masjid. Jangan bersedih, karena Allah bersama kita. Pada bab terakhir, penulis menyajikan 5 kisah hijrah yang bisa dijadikan ibrah. Kisah tersebut di antaranya adalah kisah Tsa’labah, kisah Sayyidina Umar, Fathimah, dan Hanzhalah bin Abu Amir. Marilah kita nikmati berproses menjadi lebih baik, sambil mereguk sajian Ramadan yang penuh keutamaan. Libatkan Allah dalam setiap mimpi dan harapan. Karena Allah tak akan pernah mengecewakan hamba yang bergantung pada-Nya.  Peresensi, Wakhid Syamsudin, Ketua Umum Komunitas Literasi One Day One Post (ODOP)

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment