Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
-

Harus Fokus Atasi Kekurangan Guru

📅 Selasa, 17 Des 2019, 07:35 WIB | Oleh:
Harus Fokus Atasi Kekurangan Guru Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) hendaknya fokus mengatasi masalah kekurangan guru. Sebab, 52 persen guru yang ada saat ini berstatus non-PNS.

Ketua Ikatan Guru Indonesia, Muhammad Ramli Rahim, mengatakan guru adalah prasyarat pendidikan, dan tanpa guru yang berkualitas, program pendidikan tidak akan berjalan dengan baik sekalipun didukung berbagai sarana prasarana dan kurikulum yang baik.

Program pendidikan, lanjut dia, tidak akan berjalan dengan baik kalau ruang-ruang kelas diisi oleh guru-guru tanpa kompetensi memadai yang direkrut melalui prosedur yang tidak jelas.

"Untuk itu, kami meminta Kemendikbud mengubah pola pikir tersebut dan lebih fokus pada upaya mencukupkan guru kita di seluruh Indonesia," kata dia, di Jakarta, Senin (16/12).

Dia menyebutkan tak layak berharap masa depan pendidikan digantungkan pada orang-orang yang dibayar dengan upah yang sangat murah lalu dituntut bekerja keras, memiliki dedikasi yang tinggi, memiliki loyalitas yang besar, dan memiliki jiwa pendidik yang kuat, tetapi tidak disejahterakan oleh negara.

Selain masalah kekurangan guru, kata Ramli, Kemendikbud juga fokus memenuhi kebutuhan guru berkualitas di seluruh Indonesia. "Juga lebih baik mencukupkan guru-guru pada sekolah-sekolah yang saat ini sudah ada, dibanding berpikir membangun sekolah-sekolah baru dan mengganti UN," kata Ramli.

Kendati demikian, Ramli mendukung kebijakan penggantian bahkan penghapusan UN secepatnya. "Pemerintah seharusnya menggunakan anggaran yang selama ini buat UN dialihkan untuk pengangkatan guru," tandasnya.

Sementara itu, Ketua IV Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Irman Yasin Limpo, berpendapat perlu adanya standardisasi evaluasi pendidikan yang tidak membebani siswa maupun guru.

"PGRI bukan setuju tidak setuju soal UN. Tapi, kalau sampai membebani siswa maupun guru, ini sudah menjadi bagian dari kekerasan nonfisik," ungkapnya.

Dia menilai UN justru membuat guru tidak bisa mengembangkan proses pembelajaran untuk murid maupun kompetensinya sendiri. Padahal, Kurikulum Tiga Belas (Kurtilas) yang selama ini digunakan, pengimplementasiannya harus berdasarkan evaluasi harian.

Perlu Peta Jalan

Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Putra Nababan mengatakan, untuk memastikan bahwa rencana itu (penggantian UN) akan tetap berjalan, diperlukan peta jalan yang komprehensif agar penggantian tersebut bisa berjalan.

"Apa yang disampaikan oleh saudara Menteri Pendidikan dam Kebudayaan itu baru berupa pernyataan. Karena itu, kita minta saudara menteri menyediakan kajian yang sudah dilakukan terhadap (rencana) penghapusan UN," ujar politisi dari PDIP Perjuangan itu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Nasional
Menbud Dorong Hilirisasi Bu...
Malam Puncak HUT Jakarta 2026: Cek Rekayasa Lalu Lintas dan Pengalihan Arus Bundaran HI

Malam Puncak HUT Jakarta 2026: Cek Rekayasa Lalu Lintas dan Pengalihan Arus Bundaran HI

26 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 2
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
# 2
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.