Fesyen Indonesia di Pusaran Mode Dunia | Koran Jakarta
Koran Jakarta | December 10 2019
No Comments
La Mode Sur La Seine a Paris

Fesyen Indonesia di Pusaran Mode Dunia

Fesyen Indonesia di Pusaran Mode Dunia

Foto : DOK LA MODE SUR LA SEINE A PARIS
A   A   A   Pengaturan Font

Indonesian Fashion Chamber (IFC) telah sukses mengadakan fashion show berskala internasional La Mode Sur La Seine a Paris, di Paris, Prancis, 1 Desember lalu.

Diadakan di atas kapal Boreas yang menyusuri Sungai Seine, pagelaran busana itu berhasil meraih perhatian masyarakat di sana dengan penuhnya kapasitas kursi yang disediakan. Ini juga menjadi salah satu perspektif baru mengenai cara memamerkan karya desainer Indonesia untuk mendapat perhatian dunia.

Ada 16 desainer Indonesia yang turut berpartisipasi dalam La Mode, dengan mengangkat konten lokal yang sesuai dengan tren global, mulai dari busana konvensional hingga busana muslim.

Ada Lisa Fitria, Deden Siswanto, Lenny Agustin, Sofie, Ali Charisma, Shanty Couture, Identix by Irma Susanti, Lia Mustafa, Lia Soraya, Rosie Rahmadi, Markamarie, Istituto Di Moda Burgo Indonesia, Zelmira by SMK NU Banat yang berkolaborasi dengan Makeup Artist dari siswa SMK PGRI 1 Kudus jurusan Tata Kecantikan, yang merupakan binaan dari Djarum Foundation dan Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Pariwisata Aceh menampilkan koleksi Reborn29 by Sukriyah Rusdy.

Rangkaian fashion show dibuka dengan menampilkan koleksi busana muslim dari dua desainer, Lisa Fitria dan Lia Mustafa sebagai penanda diluncurkannya International Muslim Fashion Festival oleh Kementerian Perindustrian (Kemenprind) Republik Indonesia.

“Launching International Muslim Fashion Festival sebagai bentuk keseriusan Kemenprind untuk terus mempromosikan potensi industri fashion muslim Indonesia yang memiliki daya saing cukup tinggi di pasar internasional sehingga berpeluang memperbesar kontribusi sektor fashion terhadap perekonomian nasional,” jelas Gati Wibawaningsih, Dirjen Industri Kecil dan Menengah, Kemenprind.

Dari Istituto Di Burgo Indonesia, membawakan tiga brand dari empat desainer lulusan Burgo. Ada Sokya yang dalam bahasa Sanskrit berarti kebahagiaan. Koleksinya mencerminkan wanita yang menyukai trible dan petualangan. Melalui tema Sense, Sokya berusaha membangkitkan gairah, keintiman yang elegan dengan warna-warna putih, off white dan abu-abu.

Mereka menggunakan bahan-bahan yang natural dan nyaman digunakan selama bertualang, seperti katun dan linen, namun juga memakai embroidery motif tradisional Indonesia.

Sementara Lia Hastuti mengusung tema Forrest Berries. Melalui warna ungu tua, hijau tua dan biru tua, Lia mencoba membulatkan tekad dan keyakinannya untuk percaya diri sebagai seorang desainer yang memulai debutnya di Paris. Masih tetap sama, Lia juga menggabungkannya dengan kain batik tradisional dengan bahan koleksinya yang sangat kontras yaitu tebalnya bahan beludru dan tipisnya organdi.

Adapun Ness yang mengkreasikan lingerie yang biasanya dikenal sebagai pakaian tidur, dapat menjadi pakaian sehari-hari yang dipadupadankan. Terinspirasi dari pesona matahari tenggelam, Ness menggunakan warna-warna champagne, putih, biru, perak, yang diasosiasikan dengan pesona wanita yang luwes dan cantik.

Sementara Lisa Soraya, mengaku, pengalamannya di Paris sangatlah luar biasa. Koleksi yang ia tampilkan adalah koleksi yang terinspirasi dari lidah buaya, mengingat betapa tanaman itu memiliki banyak manfaat. “Selain itu juga lidah buaya dapat tumbuh di lahan yang kering, sama halnya dengan Indonesia yang memiliki tanah yang kering,” ceritanya.

Ia mengusung warna-warna alam seperti cokelat yang dikolaborasikan dengan kain batik untuk menciptakan busananya. Diaplikasikan dengan bordiran, Lisa ingin bercerita banyak mengenai lidah buaya.

Sedangkan karya dari SMK NU Banat Kudus, menampilkan koleksi bertema Troso Nimbrung yang memilih harapan agar khas Jawa Tengah tidak punah dengan membawakan kain-kain tradisional dalam balutan potongan busana yang modern.

“La Mode Sur La Seine a Paris yang ditujukan untuk mempromosikan sejumlah karya desainer Indonesia di tingkat global, khususnya pasar Eropa, terbilang sukses diselenggarakan, bahkan melebihi harapan kami,” kata Ali Charisma, National Chairman IFC.

Ia juga menyampaikan bahwa ingin memberikan pesan pada para buyer bahwa koleksi yang dibawa ke Paris ini hanya mewakili sebagian kecil dari keberagaman karya desainer Indonesia untuk datang ke Indonesia dan melihat sendiri produk desainer Indonesia lainnya.  gma/R-1

Terinspirasi dari Museum

Memasuki tahun ke-6, Ria Miranda, salah satu desainer muda kenamaan Tanah Air mengadakan kembali Ria Miranda Trunk Show sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan koleksi terbarunya. Bertajuk Kolase, koleksi ini merupakan gambaran tren koleksi Ria Miranda yang akan hadir di 2019 mendatang.

Kolase terinspirasi dari perjalanan Ria di Belanda, tepatnya di Rijksmuseum Amsterdam. Dalam perjalanan tersebut, Ria berusaha mengolaborasikan seni dan fashion. Hal tersebut dapat dilihat dari detail pattern beberapa pakaian yang menggambarkan potongan lukisan.

Sesuai dengan makna kata Kolase, pilihan warna dan bahan koleksi ini pun bervariasi. Ria turut menyampaikan bahwa perbedaan itu tidak membatasi, malah bisa saling melengkapi untuk menciptakan sesuatu yang indah dan bernilai tinggi.

“Terlihat berbeda karena sejujurnya di 2019, saya berusaha menampilkan sesuatu yang tidak hanya bisa dinikmati oleh pasar Indonesia, tetapi juga pasar fashion dunia,” katanya.

Selain itu juga, ini merupakan langkah awal Ria dalam menggampai tujuan Indonesia sebagai kiblat fashion muslim dunia di 2020.

Ada 60 looks yang ia tampilkan dengan warna yang diangkat sebagai tren brand Ria Miranda pada 2019, seperti warna terracotta, cerulean blue, hijau dan pink. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana ia menghadirkan koleksi penggabungan dari beberapa tema untuk koleksi musim semi dan musim panas 2019.

Di saat yang bersamaan, Ria Miranda bekerja sama dengan Tokopedia menghadirkan koleksi busana Dedare. Koleksi ini menawarkan desain yang unik yang menonjolkan gaya busana muslim modern wanita Indonesia. Dedare juga mengangkat keindahan bahan-bahan dari lombok dengan twist yang lebih modern.  gma/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment