Fesyen Indonesia di Pusaran Mode Dunia
📅 Senin, 17 Des 2018, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: DOK LA MODE SUR LA SEINE A PARIS
Indonesian Fashion Chamber (IFC) telah sukses mengadakan fashion show berskala internasional La Mode Sur La Seine a Paris, di Paris, Prancis,1 Desember lalu.
Diadakan di atas kapal Boreas yang menyusuri Sungai Seine, pagelaran busana itu berhasil meraih perhatian masyarakat di sana dengan penuhnya kapasitas kursi yang disediakan. Ini juga menjadi salah satu perspektif baru mengenai cara memamerkan karya desainer Indonesia untuk mendapat perhatian dunia.
Ada 16 desainer Indonesia yang turut berpartisipasi dalam La Mode, dengan mengangkat konten lokal yang sesuai dengan tren global, mulai dari busana konvensional hingga busana muslim.
Ada Lisa Fitria, Deden Siswanto, Lenny Agustin, Sofie, Ali Charisma, Shanty Couture, Identix by Irma Susanti, Lia Mustafa, Lia Soraya, Rosie Rahmadi, Markamarie, Istituto Di Moda Burgo Indonesia, Zelmira by SMK NU Banat yang berkolaborasi dengan Makeup Artist dari siswa SMK PGRI 1 Kudus jurusan Tata Kecantikan, yang merupakan binaan dari Djarum Foundation dan Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Pariwisata Aceh menampilkan koleksi Reborn29 by Sukriyah Rusdy.

Rangkaian fashion show dibuka dengan menampilkan koleksi busana muslim dari dua desainer, Lisa Fitria dan Lia Mustafa sebagai penanda diluncurkannya International Muslim Fashion Festival oleh Kementerian Perindustrian (Kemenprind) Republik Indonesia.
"Launching International Muslim Fashion Festival sebagai bentuk keseriusan Kemenprind untuk terus mempromosikan potensi industri fashion muslim Indonesia yang memiliki daya saing cukup tinggi di pasar internasional sehingga berpeluang memperbesar kontribusi sektor fashion terhadap perekonomian nasional," jelas Gati Wibawaningsih, Dirjen Industri Kecil dan Menengah, Kemenprind.
Dari Istituto Di Burgo Indonesia, membawakan tiga brand dari empat desainer lulusan Burgo. Ada Sokya yang dalam bahasa Sanskrit berarti kebahagiaan. Koleksinya mencerminkan wanita yang menyukai trible dan petualangan. Melalui tema Sense, Sokya berusaha membangkitkan gairah, keintiman yang elegan dengan warna-warna putih, off white dan abu-abu.
Mereka menggunakan bahan-bahan yang natural dan nyaman digunakan selama bertualang, seperti katun dan linen, namun juga memakai embroidery motif tradisional Indonesia.
Sementara Lia Hastuti mengusung tema Forrest Berries. Melalui warna ungu tua, hijau tua dan biru tua, Lia mencoba membulatkan tekad dan keyakinannya untuk percaya diri sebagai seorang desainer yang memulai debutnya di Paris. Masih tetap sama, Lia juga menggabungkannya dengan kain batik tradisional dengan bahan koleksinya yang sangat kontras yaitu tebalnya bahan beludru dan tipisnya organdi.
Adapun Ness yang mengkreasikan lingerie yang biasanya dikenal sebagai pakaian tidur, dapat menjadi pakaian sehari-hari yang dipadupadankan. Terinspirasi dari pesona matahari tenggelam, Ness menggunakan warna-warna champagne, putih, biru, perak, yang diasosiasikan dengan pesona wanita yang luwes dan cantik.
Sementara Lisa Soraya, mengaku, pengalamannya di Paris sangatlah luar biasa. Koleksi yang ia tampilkan adalah koleksi yang terinspirasi dari lidah buaya, mengingat betapa tanaman itu memiliki banyak manfaat. "Selain itu juga lidah buaya dapat tumbuh di lahan yang kering, sama halnya dengan Indonesia yang memiliki tanah yang kering," ceritanya.

Ia mengusung warna-warna alam seperti cokelat yang dikolaborasikan dengan kain batik untuk menciptakan busananya. Diaplikasikan dengan bordiran, Lisa ingin bercerita banyak mengenai lidah buaya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!