Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments
GAGASAN

Faktor Kecenderungan Bunuh Diri

Faktor Kecenderungan Bunuh Diri

Foto : KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

Tanggal 10 September ditetapkan sebagai “Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia.” Pencegahan bunuh diri sendiri bukan hanya tanggung jawab instansi atau lembaga tertentu. Pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci penting yang melengkapi upaya pencegahan bunuh diri.

Hal ini terutama pencegahan dari kaum profesional kesehatan jiwa. Dia bagian dari area yang belum diteliti lebih lanjut efeknya terhadap penurunan tingkat bunuh diri. Peran serta masyarakat secara aktif mutlak diperlukan dalam usaha pencegahan bunuh diri, utamanya mengelola pandangan-pandangan buruk soal bunuh diri.

Stigma yang perlu diberantas mengenai bunuh diri sendiri beragam. Ini mulai dari mengatribusikan penyebab tunggal atas kejadian bunuh diri hingga mendiskriminasi individu yang pernah mencoba atau bahkan meninggal karena bunuh diri. Setelah berhasil mengenali dan mengurangi stigma terhadap isu bunuh diri, barulah alternatif-alternatif upaya pencegahan bunuh diri dapat dieksplorasi lebih jauh.

Menurut data International Association for Suicide Prevention (IASP), setiap 40 detik ada satu orang meninggal karena bunuh diri secara global. Hal ini menandakan bahwa bunuh diri adalah ancaman yang serius. Bunuh diri pun menjadi tekanan yang signifikan bagi kesehatan jiwa.

Ini terkait dengan temuan Joseph Franklin dan tim dari Universitas Harvard bahwa riset-riset selama lima puluh tahun terakhir tidak bisa memberikan faktor tunggal penyebab bunuh diri. Ini termasuk gangguan jiwa sekalipun yang sering kali ditemukan sebagai faktor risiko. Temuan tadi setidaknya berimplikasi pada tiga hal.

Pertama, permasalahan bunuh diri bukan sekadar karena gangguan jiwa. Ketika seseorang didiagnosis oleh psikolog atau psikiater mengalami gangguan tertentu dengan kejiwaannya, tidak serta merta berpotensi untuk bunuh diri. Begitu pula sebaliknya. Pada beberapa kasus bunuh diri yang berakhir dengan kematian, tidak ditemukan riwayat gangguan kesehatan jiwa. Kedua, bunuh diri sebaiknya diperlakukan sebagai fenomena yang kompleks.

Penyebab bunuh diri pada satu kejadian tidak bisa digeneralisasi untuk menjelaskan penyebab bunuh diri pada kasus yang lain. Demikian pula, kita tidak dapat memprediksi kejadian bunuh diri berdasarkan faktor tunggal dari sisi biologis, psikologis, maupun sosial. Ketiga, masyarakat awam dan pemberitaan mengenai bunuh diri harus sebisa mungkin menahan diri untuk mengaitkan kasus bunuh diri hanya dengan satu penyebab tertentu.

Penelusuran Into The Light Indonesia (komunitas orang muda berbasis bukti ilmiah dan hak asasi manusia yang berfokus pada isu kesehatan jiwa, khususnya pencegahan bunuh diri) memperlihatkan, pemberitaan bunuh diri di media massa nasional masih mengaitkan dengan sebuah masalah pribadi, tanpa menggali lebih jauh mengenai penyebab lain.

Sebab hal ini mungkin saja menguatkan kecenderungan yang dimiliki orang tersebut hingga akhirnya haruas mengakhiri hidup. Terkait kecenderungan pun, pemberitaan bunuh diri masih berfokus pada kejadian percobaan atau upaya bunuh diri. Namun, berita mengenai perencanaan atau pemikiran bunuh diri masih minim representasinya.

Hal ini secara tidak langsung dapat menggiring persepsi bahwa bunuh diri hanya sebatas percobaan, tanpa adanya perencanaan maupun pemikiran-pemikiran bunuh diri. Pada kenyataannya, percobaan bunuh diri merupakan akumulasi dari pikiran-pikiran yang konsisten dan perencanaan yang mungkin tidak tampil secara kasat mata.

Pengetahuan dan paparan tentang ini kepada masyarakat bisa meningkatkan kesadaran akan kompleksitas serta rentang perilaku bunuh diri. Dengan demikian, diharapkan publik dapat lebih waspada terhadap lingkungan sekeliling agar kejadian bunuh diri tidak terjadi lagi.

 

Kolaborasi

 

Tema Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia tahun ini adalah “Bekerja Sama dalam Pencegahan Bunuh Diri”. Kolaborasi mulai dari tingkat keluarga hingga ke pembuat kebijakan, menjadi poin penting dalam usaha pencegahan bunuh diri. Program pencegahan bunuh diri yang didesain sebaik apa pun, akan kehilangan esensinya bila tidak terintegrasi dengan pemangku kepentingan.

Harus diingat pula bahwa pencegahan bunuh diri tidak semata-mata ditujukan untuk mereka yang akhirnya selamat dari percobaan bunuh diri. Hal itu juga bagi mereka yang mengalami dampak setelah adanya kematian karena bunuh diri. Masyarakat awam sering berpandangan bahwa usaha pencegahan bunuh diri hanya ada di tahap intervensi ketika terjadi bunuh diri.

Hal ini salah satunya karena pandangan bahwa bunuh diri hanya terjadi di tahap percobaan. Padahal, dalam program intervensi masyarakat pada umumnya, semestinya terdapat program yang berfungsi sebagai pencegahan primer, antara lain advokasi pada pemangku kebijakan atau edukasi masyarakat untuk mengenali tanda-tanda bunuh diri.

Salah satu unsur yang spesial ditemukan dalam usaha pencegahan bunuh diri adalah upaya-upaya postvention yang dilakukan setelah kejadian meninggal karena bunuh diri. Insiden meninggalnya seseorang karena bunuh diri menimbulkan efek traumatik yang besar bagi orang-orang yang ditinggalkan.

Maka, perlu diberikan suatu tindakan untuk memulihkan dan memberdayakan kembali orang-orang terdekat setelah ditinggal bunuh diri. Kerangka kerja pencegahan primer - intervensi krisis - postvention merupakan skema yang memungkinkan terjadinya kerja sama antara pembuat kebijakan, komunitas akar rumput, dan masyarakat awam dalam menyukseskan upaya pencegahan bunuh diri berkesinambungan.

Upaya pencegahan bunuh diri sebaiknya dimulai dengan kesadaran bahwa bunuh diri adalah sebuah perilaku hasil interaksi faktor-faktor psikis dan sosial budaya. Perilaku bunuh diri beragam mulai dari pemikiran hingga percobaan bunuh diri itu sendiri. Dengan adanya kesadaran ini diharapkan masyarakat dapat ikut andil dengan segala macam peran dalam usaha pencegahan bunuh diri.

Ini bisa mulai dari menyusun kebijakan yang inklusif dan berbasis bukti ilmiah. Bisa juga sekadar menanyakan kabar kepada orang terdekat yang tiba-tiba memutuskan kontak dengan dunia sekitarnya. Setiap usaha yang diberikan dapat berkontribusi untuk menghapus stigma. Hal itu juga sebagai bukti peduli terhadap sesama. Yang terpenting langkah tersebut dapat menyelamatkan satu nyawa.

 

Iqbal Maesa Febriawan, Sarjana Psikologi UI dan Anggota “Into The Light Indonesia”

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment