Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
-

APBN Makin Terbebani Pembayaran Bunga Utang

📅 Kamis, 01 Nov 2018, 00:04 WIB | Oleh: Tim Penulis
APBN Makin Terbebani Pembayaran Bunga Utang Doc: Sumber: Kemenkeu - Litbang KJ/and

>>Pembayaran bunga utang terus meningkat dan sejak 2016 melebihi porsi belanja modal.

>>Utang tak bisa dongkrak pertumbuhan ekonomi yang terjebak stagnasi di level 5 persen.

JAKARTA - Pemerintah mengimbau masyarakat tidak perlu risau dengan utang negara yang per September 2018 mencapai 4.416 triliun rupiah. Sebab, utang tersebut dinilai masih terkendali.

Meskipun demikian, sejumlah kalangan mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai pengelolaan utang yang dianggap tidak produktif. Sebab, penarikan utang tersebut lebih banyak digunakan untuk membayar bunga utang yang terus meningkat tiap tahun, sehingga kian membebani APBN.

Selain itu, utang juga belum mampu memacu pertumbuhan ekonomi, karena dalam lima tahun terakhir Indonesia justru terjebak dalam stagnasi pertumbuhan di level lima persen.

Pengamat perpajakan, Yustinus Prastowo, mengemukakan ada beberapa catatan mengenai pengelolaan utang. Menurut dia, utang tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang statis, tapi harus dilihat secara dinamis seiring dengan kemampuan membayar kembali utang tersebut. "Ada dua kunci.

Pertama, pendapatan negara yang terus naik. Yang kedua, penggunaanya," kata Yustinus, di Jakarta, Rabu (31/10). Dia menilai kalau penggunaan utang untuk kegiataan produktif, seharusnya bisa menghasilkan return.

Dari return tersebut mengalir ke pundi-pundi negara melalui deviden. "Nah, siklus itu yang harus dijaga. Karena itu, investasi harus dihitung dengan cermat return-nya berapa.

Lalu pemasukan, penerimaan negaranya sustaine. Itu saya kira yang perlu dijaga untuk mengelola utang supaya tetap prudent," jelas Yustinus. Terkait produktivitas utang, sebelumnya ekonom senior, Faisal Basri, juga menampik anggapan bahwa utang selama ini untuk kegiatan produktif, seperti infrastruktur.

Menurut dia, utang baru lebih besar porsinya digunakan untuk membayar utang yang jatuh tempo. "Saya baca data ya, Januari 2018 pertumbuhan pengeluaran tertinggi itu untuk bayar utang 63 persen.

Kedua terbesar, belanja barang yakni 58 persen, dan ketiga adalah belanja modal yang di dalamnya terdapat infrastruktur yang mencapai 36 persen," papar dia. Dalam APBN 2018, pembayaran bunga utang pemerintah mencapai 239 triliun rupiah, dan meningkat lagi menjadi 275 triliun rupiah tahun depan.

Menurut Faisal, utang pemerintah itu juga tidak mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi. "Jika utang diklaim lebih produktif, buktinya pertumbuhan ekonomi masih stagnan di lima persen," ujar dia.

Faisal juga menilai walaupun nisbah utang relatif rendah dibandingkan dengan Amerika Serikat, beban pembayaran bunga RI lebih tinggi ketimbang Negara Adidaya itu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Perang Iran Hari ke-153: Apa Saja yang Terjadi?

1 jam lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Perang Iran Hari ke-153: Ap...
  • Begini Kronologi Lengkap Bentrokan Warga di Jalan Tambak Jakarta Pusat yang Menewaskan Satu Orang
    Preview komentar:
    2 kelompok warga, itu warga mana dg warga ...
  • Kementan Bantu Bibit Kelapa untuk Petani Barito Kuala, Produktivitas Perkebunan Ditingkatkan.
    Preview komentar:
    Di barisan paling depan, Kementerian Pertanian memainkan ...
    Keren
  • Penutupan Perlintasan Liar Kereta di Kediri
    Preview komentar:
    Wah, berarti kalau sehari hari kan lewat perlintasan ...

Gemarikan Cegah "Stunting" Digencarkan Forikan Kalbar untuk Bangun Generasi Indonesia Emas 2045

Gemarikan Cegah "Stunting" Digencarkan Forikan Kalbar untuk Bangun Generasi Indonesia Emas 2045

29 Jul 2026
Pilihan Pembaca
# 4
Pelaku Usaha Tunggu Kepastian BI
📅 Rabu, 29-Jul-2026
# 4
Pelaku Usaha Tunggu Kepastian BI
📅 Rabu, 29-Jul-2026
Pelaku Usaha Tunggu Kepastian BI
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.