Zulkifli Zaini : PLN Terus Tingkatkan Efisiensi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | June 5 2020
No Comments
WAWANCARA

Zulkifli Zaini : PLN Terus Tingkatkan Efisiensi

Zulkifli Zaini : PLN Terus Tingkatkan Efisiensi
A   A   A   Pengaturan Font
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Tohir, menunjuk Zulkifli Zaini sebagai orang nomor satu di PT Perusahaan Listrik Negara/PLN (Persero). Pria yang lebih dari 20 tahun menghabiskan hidupnya di lembaga perbankan ini ditunjuk melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang digelar 22 Desember 2019 lalu.

Dalam menjalankan roda bisnis perusahaan, bankir ini akan meningkatkan efisiensi di perusahaan tersebut. Tak terbantahkan memang BUMN kelistrikan itu terbebani utang. Tentu tak ada jalan lain untuk mengatasinya yaitu dengan mendorong penghematan di semua lini perusahaan serta meningkatkan pendapatan.

Untuk mengetahui apa saja yang akan dilakukan jajaran pimpinan PLN ke depan dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan, wartawan Koran Jakarta, Fredrikus W Sabini, berkesempatan mewawancarai Direktur Utama PT PLN, Zulkifli Zaini, dalam beberapa kesempatan di Jakarta, baru-baru ini. Berikut kutipan selengkapnya.

Apa saja program prioritas Anda yang segera dijalankan di PT PLN?

Di bawah jajaran direksi dan komisaris yang baru, kami akan memfokuskan pada tiga aspek. Ketiga aspek tersebut adalah penurunan biaya operasi perusahaan, peningkatan keandalan dan pelayanan, serta peningkatan pendapatan usaha. Melalui tiga langkah ini, kami optimistis kontribusi PLN terhadap keuangan negara akan meningkat secara signifikan.

Bagaimana Anda memulai kerja di PT PLN?

Saya sampaikan kepada seluruh tim di perusahaan, kapal besar bernama PLN harus kita dayung bersama menuju arah yang sama. Jangan sampai ada yang melubangi dinding kapal, karena satu orang berbuat, seluruh orang di dalam kapal akan terkena imbasnya.

Apalagi, PLN mengemban tanggung jawab sebagai satu-satunya perusahaan yang diberikan kewenangan dan tanggung jawab oleh negara untuk menyediakan pelayanan ketenagalistrikan. Tanpa adanya visi, misi, dan spirit yang sama maka tanggung jawab itu akan menjadi beban, sehingga masyarakat yang akan menjadi korban.

 

Apa saja sebenarnya tanggung jawab PT PLN?

Kami memiliki tanggung jawab untuk menyediakan listrik 24/7 dengan kualitas yang baik, tidak padam, sehingga security of supply menjadi kunci utama dalam pelayanan. Sementara untuk bergerak maju, PLN juga bertanggung jawab untuk mewujudkan rasio elektrifikasi hingga 100 persen di seluruh wilayah Indonesia dan meningkatkan konsumsi listrik per kapita.

Untuk itu, kami menggunakan empat pedoman pokok yang harus dijalankan tanpa syarat oleh setiap insan di PLN. Pedoman tersebut, di antaranya menjalankan perusahaan dengan prinsip good corporate governance. Hanya dengan cara itu korporasi seperti PT PLN dengan tanggung jawab yang sedemikian tinggi, dapat menjalankan operasi dengan sebaik-baiknya.

Prinsip berikutnya ialah menempatkan pengguna listrik sebagai konsumen yang harus dilayani sebaik-baiknya. Dengan demikian, PLN sebagai penyedia kelistrikan harus menempatkan diri sebagai pelayan, dan bukan yang ingin dilayani.

Untuk bisa mewujudkan semua itu, konkretnya apa yang harus dilakukan oleh semua karyawan?

Untuk dapat menjalankan dua prinsip utama tersebut, seluruh pegawai PLN, termasuk direksi dan komisaris, mesti bekerja dengan penuh tanggung jawab, akuntabilitas tinggi, ownership terhadap tugas dan target, diiringi kemampuan eksekusi yang prima. Harus berkomitmen merealisasikan rencana yang sudah dibuat tanpa banyak alasan.

Seluruh jajaran di PLN harus memiliki kemampuan untuk membiayai mandat yang telah diberikan pemerintah kepada perusahaan ini. Untuk itu, kami mesti memiliki rasio keuangan yang baik, memiliki cashflow yang baik dan sustain, memiliki Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization/EBITDA atau pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi yang sehat dan meningkat, serta mampu menjadi perusahaan yang lebih efisien.

Apa target PLN ke depannya?

Hingga Januari 2020, kapasitas pembangkit yang dioperasikan oleh PLN mencapai 62.833 megawatt (MW) dengan daya tersambung ke pelanggan sebesar 138.077 MVA. Sampai saat ini, jumlah pelanggan PLN mencapai 75,70 juta orang di seluruh Indonesia, dengan panjang transmisi mencapai 58.959 kilometer sirkuit (KMs).

Jika dihitung kira-kira berapa total aset PT PLN saat ini?

Total aset mencapai 1.549 triliun rupiah berdasarkan laporan keuangan triwulan III tahun 2019. Pada triwulan III 2019, pajak dan dividen yang disumbangkan PT PLN kepada pemerintah adalah sebesar 21,7 triliun rupiah. Dalam triwulan yang sama, penjualan tenaga listrik meningkat sebesar 4,5 persen dibandingkan triwulan III 2018 atau sebesar 202,7 triliun rupiah.

Pendapatan usaha PLN dalam kurun waktu hingga triwulan III 2019 juga meningkat dengan persentase yang sama yakni 4,5 persen. Besarannya mencapai 209,3 triliun rupiah. Sepanjang lima tahun terakhir, kecenderungan kinerja PT PLN juga meningkat. Dari sisi jumlah pelanggan terakhir sebesar 75,70 juta, angka ini naik dari 61,168 juta pelanggan pada tahun 2015. Sementara pertumbuhan daya tersambung meningkat dari 106.582 megavolt ampere (MVA) menjadi 138.077 MVA.

Bagaimana dengan upaya penghematan?

Pemerintah telah menginstruksikan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) pada pembangkit kami. Faktanya dalam lima tahun terakhir, persentase konsumsi BBM untuk pembangkit kami menurun dari 8,3 persen pada tahun 2015 menjadi hanya 3,61 persen pada tahun 2019.

Angka ini terus kami turunkan, baik melalui penggunaan B20 dan B30, maupun dengan mengembangkan penelitian penggunaan crude palm oil (CPO) pada pembangkit-pembangkit kami. Dengan melakukan adaptasi dengan pemanfaatan B20 dan B30, kami dapat terus meningkatkan efisiensi untuk mencapai suistainability growth.

Bagaimana dengan penggunaan B20 dan B30?

Terkait dengan B20 dan B30, kami telah menjalankan penugasan dari pemerintah. Nyatanya ada peningkatan 1,3 kali penggunaan B20-B30 selama 2019 dibanding tahun 2018.

Lantas bagaimana dengan rencana B100 ke depannya?

Ini beda lagi. Mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) akan mengalami kendala ketika mengonsumsi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau Bahan Bakar Nabati (BBN) murni tanpa campuran solar atau B100.

Kami telah menerapkan campuran FAME yang berbahan baku minyak sawit dengan solar, baik dengan kandungan 20 persen (B20) dan 30 persen (B30), yang digunakan sebagai bahan bakar PLTD. Dampaknya membuat emisi pembakaran meningkat dan berpotensi menimbulkan kerusakan komponen mesin PLTD.

Kerusakan seperti apa?

Kami menemukan penggunaan tersebut menghasilkan emisi lebih besar 1,5 sampai dua kali lipat. Selain itu, penggunaan CPO 100 persen akan menimbulkan kerak pada mesin dan berpotensi merusak komponen dari mesin PLTD.

Dari dampak penggunaan FAME tanpa campuran pada mesin PLTD tersebut maka implementasi program B100 lebih cocok diterapkan pada mesin pembangkit yang didesain menyerap BBN murni. Sebaiknya rencana penggunaan CPO ini diterapkan pada mesin diesel yang memang didesain untuk menggunakan BBN.

Seperti apa prospek gasifikasi dalam kelistrikan sesuai dengan keputusan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM)?

Dengan adanya perubahan konsumsi BBM menjadi Bahan Bakar Gas (BBG) pada 52 PLTD diperkirakan bisa menghemat 4 triliun rupiah. Kami telah mengidentifikasi untuk memetakan perencanaan konstruksi pembangkit guna merealisasikan rencana pengoperasian PLTD yang diubah bahan bakarnya dari BBM menjadi gas.

Langkah ini diambil sebagai bentuk implementasi Keputusan Menteri ESDM Nomor 13 Tahun 2020 mengenai gasifikasi. Dari identifikasi tersebut, dibagi jadi lima wilayah. Dengan diterapkannya program penggantian konsumsi BBM menjadi gas, akan menurunkan konsumsi BBM pada sektor kelistrikan.

Pada tahun lalu realisasi konsumsi BBM PLTD sebanyak 2,6 juta juta KL, dengan digantinya bahan bakar 52 PLTD menjadi BBG maka potensi konsumsi BBM yang dapat dikurangi sebanyak 1,6 juta KL sehingga PLN dapat menghemat biaya sebesar empat triliun rupiah.

Saat ditunjuk sebagai Dirut, Anda katakan akan fokus mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT). Seperti apa rencananya?

Saat ini, daya pembangkit EBT terpasang 7.800 MW. Ada tambahan daya dari PLTA Hasang berkapasitas 39 MW di Sumatera Utara yang baru saja mendapatkan sertifikat laik operasi. Kapasitas terbesar yang dimiliki PLN untuk sektor EBT yakni PLTA sebanyak 4.750 MW atau 60 persen dari total seluruh EBT. Pada tahun 2020, PLN berencana menambah pembangkit dari sektor EBT sebanyak 1.492 MW.

Ada banyak tempat yang belum menikmati listrik, lantas bagaimana upaya PLN dalam mendorong ketersediaan listrik di desa-desa?

Kami memiliki program desa berlistrik yang mampu menerangi 70.391 desa pada tahun 2015 menjadi 81.085 desa dan kelurahan di seluruh Indonesia. Sebagian besar penambahan desa berlistrik dilakukan di daerah-daerah yang sulit dijangkau, sehingga memerlukan pekerjaan yang lebih kompleks. Program ini diharapkan bisa mendorong produktivitas di desa dan kelurahan.

N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment