Wujudkan Indonesia sebagai Kiblat Fesyen Muslim Dunia | Koran Jakarta
Koran Jakarta | June 5 2020
No Comments
MUFFEST 2020

Wujudkan Indonesia sebagai Kiblat Fesyen Muslim Dunia

Wujudkan Indonesia sebagai Kiblat Fesyen Muslim Dunia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Salah satu pergelaran fesyen muslim terbesar di Indonesia, Muslim Fashion Festival (MUFFEST) 2020 resmi digelar pada Kamis (20/2) di Jakarta. Acara dibuka dengan kata sambutan dari Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM) yang mengatakan kalau industri fesyen khususnya fesyen muslim, di Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Menkop UKM Teten Masduki mengatakan melalui MUFFEST 2020 menjadi langkah nyata dalam mewujudkan Indonesia sebagai kiblat fesyen muslim di dunia, mengingat pasar fesyen muslim di Indonesia sangat potensial. Karenanya, hal itu harus dimanfaatkan dengan baik.

“Harus dimanfaatkan peluang tersebut, dengan memperbaiki kualitas memakai bahan baku alami dan isu lingkungan yang menjadi perhatian dunia,” katanya, dalam pembukaan MUFFEST 2020. Ali Charisma, selaku National Chairman Indonesia Fashion Chamber (IFC) pun mengatakan demikian.

Terselenggaranya kegiatan MUFFEST ini bertujuan untuk memajukan industri fesyen di Indonesia agar bisa bersaing di kancah internasional. Semisal menjadi acara tahunan yang bisa menerima tamu internasional dan membangun industri fesyen di dalam dan luar negeri, serta berkolaborasi dengan brand-brand luar negeri.

Kali ini, MUFFEST 2020 mengangkat tema Sustainable Planet, di mana melalui kearifan lokal dan kain tradisional Nusantara yang sangat kaya bisa melakukan fesyen berkelanjutan mengingat industri fesyen adalah penyebab pencemaran nomor dua di dunia setelah minyak.

“Maka ini, dilandasi dengan fesyen berkelanjutan bisa menyadari betapa pentingnya mencintai Bumi yang sudah jutaan tahun dirawat. Industri fesyen sangat bertanggung jawab karena pencemaran kedua terbesar setelah minyak. Untuk itu, melalui MUFFEST kita bisa melakukan hal-hal kecil dan bermakna,” ceritanya di kesempatan yang sama.

Targetnya sendiri dengan adanya MUFFEST, Ali lebih menargetkan ke arah reselling brand-brand yang hadir. Menurutnya, dengan mengarahkan sistem Business to Business (B2B), akan memberikan dampak yang lebih besar lagi, khususnya dari segi penjualan. “Ya bisa jadi jauh lebih besar lagi, jadi bukan ajang retail, tetapi membeli untuk dijual lagi. Sudah kami kampanyekan pada mereka, jadi harus diprioritaskan untuk reseller,” kata Ali.

Tahun ini juga rencananya, ia akan mengangkat MUFFEST menjadi ajang internasional yang bisa mendatangkan pembeli-pembeli dari luar negeri sehingga industri fesyen muslim di Indonesia bisa berkembang menjadi lebih baik lagi. Tetapi, konsekuensinya adalah mereka harus berani bersaing dengan negara-negara tetangga yang memproduksi produk-produk fesyen seperti Indonesia. Jadi mau tidak mau, pelaku bisnis dalam negeri harus lebih unggul agar peluang tersebut tidak diambil oleh negara lainnya.

“Tantangan lainnya adalah ekosistem bahan baku masih sebelah tangan dengan industri tekstil karena mereka perusahaan tekstil besar tidak bisa melayani produksi yang kecil, padahal fesyen muslim didominasi oleh perusahaan kecil. Padahal seharusnya mereka membantu juga,” timpal Ali.

Untuk itu, ia merasa perlunya dukungan penuh dari pemerintah agar bisa berkomitmen membantu para pelaku bisnis industri fesyen muslim ini, hingga nantinya mereka bisa berjalan sendiri. Kehadiran Desainer Muda Pada pembukaan MUFFEST 2020, diiringi dengan parade show dari tujuh desainer muda Indonesia yang membawakan koleksi-koleksinya. Koleksi tersebut kebanyakan didominasi oleh warna-warna netral seperti putih, hitam dan cokelat.

Namun ada pula desainer yang memadukan warna-warna tersebut dengan warna terang seperti pada koleksi Olivia Soesanto, Dyuva by Ayu Diah dan Cut Eriva, Aji Suropati, Aninda Nazmi dan Lania Rakhmawati. Untuk gayanya sendiri, setiap desainer memiliki gayanya masing-masing dalam menampilkan koleksinya. Olivia dan Ray Anjas lebih ke arah sporty dan streetwear dengan hoodienya.

Sementara Dyuva dan Aji cenderung menampilkan gaya klasik dan casual-formal, seperti tampilan perempuan urban masa kini yang tampil modis setiap saat. AM by Anggiasari lebih edgy, dengan potongan-potongan asimetris dari koleksinya dengan penggunaan banyak bahan dalam satu koleksi yang didominasi oleh denim. Ali menuturkan, sengaja menampilkan para desainer muda ini di ajang MUFFEST untuk memberikan mereka kesempatan untuk merambah lebih dalam ke industri fesyen muslim Indonesia.

“Karena kami sadar, desainer muda ini masa depannya masih panjang dan mereka masih belum banyak kesempatan dengan event besar seperti ini, sehingga harapannya mereka dapat diapresiasi,” tutup Ali. Acara MUFFEST 2020 sendiri ini digelar di Jakarta Convention Center mulai dari 20 hingga 23 Februari.

Terinspirasi dari Keindahan Maroko

Produk fesyen muslim dapat beragam, mulai dari pakaian sehari-hari hingga sekarang ini merambah ke perlengkapan ibadah seperti mukena dan sajadah. Berangkat dari ide untuk menghadirkan sajadah bagi perempuan milenial yang bersifat dinamis dan aktif yang selalu ingin terlihat stylish, Lasouk, brand asal Kanada dan Singapura pun hadir untuk memenuhi kebutuhan tersebut di perhelatan MUFFEST 2020.

Biasanya, sajadah umumnya dipenuhi dengan motif dekoratif ramai atau bergaya klasik yang mencerminkan tempat ibadah atau kubah Makkah. Namun, Lasouk memberikan gambar yang berbeda melalui sentuhan budaya Maroko yang segar dengan corak geometris yang minimalis.

Mereka terinspirasi dari souks atau pasar-pasar di Marrakech, Maroko yang dikenal sejak dahulu sebagai pusat inspirasi yang eksotis dengan hamparan karpet, sutra, kaftan, bumbu, perhiasan dan lampu-lampu. Namun tidak hanya itu saja, Lasouk ingin memberikan sesuatu untuk lingkungan, seperti dengan menggunakan material yang ramah lingkungan.

“Poin utamanya adalah mau menampilkan sesuatu yang modern dan kontemporer, karena kita berpikir sekarang sajadah sudah menjadi komoditas. Makanya kami mau membuatnya menjadi sesuatu yang indah tetapi juga ramah lingkungan,” tutur Heikal, founder dari Lasouk.

Itu karena sajadah Lasouk menggunakan karet untuk bagian bawahnya yang 100 persen alami dan tidak dicampur karet buatan sehingga membuatnya menjadi ramah lingkungan. Begitu juga dengan tinta air berteknologi tinggi sehingga pewarnaan yang dilakukan pada sajadah tersebut tidak merusak lingkungan.  gma/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment