Ubah Perilaku terhadap Lingkungan, Kita Akan Tuntaskan Covid-19 Lebih Cepat | Koran Jakarta
Koran Jakarta | July 4 2020
No Comments
Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, RM Karliansyah, tentang Pentingnya Lingkungan Hidup di Masa Pandemi Covid-19

Ubah Perilaku terhadap Lingkungan, Kita Akan Tuntaskan Covid-19 Lebih Cepat

Ubah Perilaku terhadap Lingkungan, Kita Akan Tuntaskan Covid-19 Lebih Cepat

Foto : Foto: Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Setiap tanggal 5 Juni, dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup. Peringatan tahun ini sangat relevan mengingat wabah virus korona yang telah menjadi pandemi global, memaksa setiap manusia di seluruh dunia untuk hidup bersih dan menaati semua protokol kesehatan.

 

Untuk membahasa ma­salah ini, Koran Jakarta mewawancarai Dirjen Pengendalian Pence­maran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), RM Karliansyah, Rabu (3/6). Berikut petikannya.

Adakah hubungan yang erat antara lingkungan hidup dengan kesehatan manusia di masa pan­demi Covid-19 ini?

Lingkungan hidup merupakan suatu sistem yang sejatinya berada dalam keseimbangan. Gangguan terhadap satu komponen akan berakibat pada gangguan terhadap keseimbangan lingkungan secara keseluruhan. Contoh sederhana, emisi kendaraan bermotor yang berlebihan akan berakibat pada penurunan kualitas udara perkota­an. Kualitas udara yang tidak sehat berpengaruh pada tingkat imunitas manusia. Tingkat imunitas yang rendah menyebabkan rentannya manusia terpapar penyakit. Jadi, sangat jelas sekali terlihat bahwa ke­sehatan manusia berkorelasi positif dengan kualitas lingkungan hidup.

Apa tantangan terberat ling­kungan hidup terkait pandemi Covid-19 saat ini?

Timbulnya bencana pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa keseimbangan lingkungan hidup kita terganggu. Virus korona adalah zoonosis yang berasal dan ditular­kan dari hewan. WHO mencatat hampir 60 persen kasus penyakit infeksi ke manusia berasal dari hewan. Oleh karenanya, tantangan terberat lingkungan hidup adalah perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan.

Para ilmuwan menyatakan bahwa jika kita tidak mengubah perilaku kita terhadap alam/lingkungan, maka kita akan mengha­dapi pandemi Covid-19 yang berkepanjangan (se­makin lama).

Kita akan menjalani kehidupan new normal, aspek lingkungan hidup apa yang perlu diperhatikan?

Konsep new normal jangan diartikan hanya terbatas pada perbaikan sarana sanitasi dan kesehatan di tempat kerja atau fasilitas umum, membudayakan cuci tangan dengan sabun, melak­sanakan social distancing se­lama kerja, tetapi harus lebih luas dari itu. Penyediaan energi terbarukan menggan­tikan bahan bakar fosil harus menjadi pilihan untuk tetap menjaga kualitas udara, penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dalam proses produksi dan jasa, sistem transportasi yang menggunakan intensitas energi yang rendah karbon, namun tetap menja­min mobilitas manusia, barang dan jasa, perubahan perilaku dengan pola konsumsi dan produksi yang ramah lingkungan serta penggunaan teknologi untuk kegiatan pendidi­kan, layanan administrasi perkan­toran, perdagangan, telekomunika­si, pola kerja work from home perlu menjadi new normal.

Upaya apa yang dilakukan Ditjen PPKL untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup di Indonesia?

Berbagai upaya sudah dan terus dilakukan untuk perbaikan kualitas lingkungan hidup, antara lain perbaikan regulasi, pembinaan, pengawasan dan bahkan penegakan hukum. Contoh sederhana, untuk perbaikan kualitas udara perkotaan, di samping penetapan baku mutu emisi yang lebih ketat juga dilakukan perbaikan kuali­tas bahan bakar, manajemen lalu lintas, pembangunan dan pengem­bangan hutan dan taman-taman kota, jalur jalan kaki dan sepeda, pengembangan transportasi mas­sal, serta pembangunan jaringan pemantauan kualitas udara kontinu dan real time yang bisa diakses oleh publik dengan harapan publik menuntut haknya bila kualitas udara perkotaannya terganggu.

Bagimana sinergi Ditjen PPKL dengan intansi lain untuk pena­taan lingkungan hidup?

Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup merupakan ke­wajiban setiap warga negara. Oleh karena itu, sinergitas semua pihak untuk mencapai kualitas lingkungan hidup yang lebih baik sudah menjadi suatu keharusan.

Contoh sederhana, terkait pe­nyediaan bahan bakar rendah kar­bon maka Kementerian ESDM ber­tugas menyiapkan spesifikasi bahan bakarnya, Pertamina menyediakan bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi, Kementerian Perindus­trian bersama asosiasi otomotif menyesuaikan teknologi mesinnya, Kementerian Perhubungan terkait uji emisi produknya dan KLHK (Ditjen PPKL) menyiapkan baku mutu emisinya. n suradi/AR-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment