Surabaya Tidak Akan Melakukan “Lockdown” | Koran Jakarta
Koran Jakarta | June 5 2020
No Comments
Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, tentang Pencegahan Penyebaran Covid-19

Surabaya Tidak Akan Melakukan “Lockdown”

Surabaya Tidak Akan Melakukan “Lockdown”

Foto : ANTARA/HO HUMAS PEMKOT SURABAYA
A   A   A   Pengaturan Font
Seiring waktu, jumlah kasus positif virus korona jenis baru atau Covid-19 yang terkonfirmasi terus melonjak. Juru Bicara Pemerintah dalam Penanganan Virus Corona, Achmad Yurianto, menyebutkan kasus positif virus korona per Rabu (18/3) pukul 12.00 WIB mencapai 227 orang, dengan 19 orang meninggal dunia.

 

Kasus-kasus positif korona itu berasal dari Banten empat kasus, DIY satu kasus, DKI 30 kasus positif, Jawa Barat 12 kasus, Jateng dua kasus positif, Sumatera Utara satu kasus positif, Lampung satu kasus, Riau satu kasus, dan Kaltim satu kasus positif. Selain itu, ada dua pasien lainnya berdasarkan pemeriksaan mandiri.

Sedangkan 19 orang yang me­ninggal, tersebar di Bali satu orang, Banten satu kasus, DKI 12 kasus, Jabar satu orang, Jateng dua kasus, Jatim satu kasus, dan Sumut satu korban meninggal. Selain itu, ada 11 kasus pasien korona yang din­yatakan sembuh. Mereka berasal dari Banten (satu pasien), Jakarta (sembilan kasus), dan Jabar (satu kasus).

Sebagai daerah dengan jumlah penduduk terpadat di Jawa Timur, lebih dari tiga juta jiwa, Pemerin­tah Kota (Pemkot) Surabaya telah melakukan sejumlah antisipasi untuk mencegah perluasan wabah ini. Meskipun belum ada laporan warga yang positif terinfeksi, Pem­kot Surabaya pro-aktif melancarkan serangkaian langkah persiapan.

Wali Kota Surabaya, Tri Ris­maharini, telah menggelar rapat koordinasi dengan berbagai pe­mangku kepentingan untuk mencegah penularan virus Covid-19, Senin (16/3). Rapat itu dihadiri oleh perusa­haan transpor­tasi, pengusa­ha mal, hotel, tempat hiburan dan berbagai intansi lainnya di Kota Surabaya.

Untuk mengupas persiapan dan langkah penanganan, Koran Jakarta mewawancarai Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. Berikut petikan wawancaranya.

Tujuan rapat koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan itu?

Kita minta kepada semua stakeholder untuk membuat protokol pencegahan Covid-19 di area mereka masing-masing. Sebenarnya memang disarankan untuk tidak mengadakan pertemuan, tapi saya harus lakukan ini supaya mereka punya protokol di sekitar mer­eka masing-masing, sehingga diharapkan pencegahan bisa lebih efektif. Jadi, mari kita buat protokol yang sesuai dengan kondisi dan keadaannya masing-masing, silakan disesuaikan.

Contohnya?

Hotel-hotel dan mal diharapkan sudah menyediakan thermo scan dan hand sanitizer. Protokol yang bisa diberlakukan bagi karyawan yang kondisinya panas dan ada gejala Covid-19, diharapkan den­gan kesadaran sendiri langsung istirahat di rumah supaya tidak menyebarkan.

Protokol Pemkot sendiri?

Kita sudah membuat beberapa protokol, salah satunya mem­biasanya cuci tangan saat hendak masuk kantor, di tempat umum harus disediakan thermo scan, lalu di masjid atau musala karpet­nya harus digulung. Pemkot juga memberikan hand sanitizer kepada beberapa instansi dan perkantoran. Kami juga akan terus melakukan disinfektan ke beberapa tempat.

Wacana penutupan?

Saya selalu sampaikan bahwa Surabaya tidak akan lockdown. Karena kalau lockdown, ekonomin­ya bisa kolap dan itu bisa lebih be­rat. Apalagi kan tidak semua orang pendapatannya dihitung per bulan, ada yang harian. Makanya, saya sampai melakukan rapat koordi­nasi seperti sekarang ini. Mari kita hadapi ini bersama-sama. Warga juga tidak perlu khawatir dengan kebutuhan pokoknya sehari-hari, karena kami juga terus melakukan pasar murah.

Imbauan ke warga?

Seluruh masyarakat diharapkan untuk saling melindungi diri. Salah satunya meminimalisir kontak langsung dengan orang lain. Proto­kolnya memang ada yang berubah, seperti kita tidak boleh bersalaman. n selocahyo/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment