Subsidi Obligasi Rekap Mesti Dikembalikan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | June 5 2020
1 Comment
Skandal Perbankan

Subsidi Obligasi Rekap Mesti Dikembalikan

Subsidi Obligasi Rekap Mesti Dikembalikan

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Aparat penegak hukum mesti mengusut keberadaan obligasi rekapitali­sasi perbankan eks Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) di beberapa bank. Sebab, kondisi bank-bank tersebut kini telah sehat sehingga tak layak lagi mendapatkan subsidi bunga obligasi rekap dari Anggaran Penda­patan dan Belanja Negara (APBN).

Wakil Ketua Komisi Pemantau Pembe­rantasan Korupsi (KP3), Tete Marthadilaga, menyontohkan PT Bank Central Asia (BCA) Tbk yang sekarang ini sudah sehat, bahkan dalam laporan akhir tahun 2019 meraup laba bersih 28,6 triliun rupiah. “Bayangkan, BCA untung segitu besarnya. Dimana di dunia ini ada debitur sudah di-bailout tapi negara yang cicil utangnya. Malah, pemerintah ma­sih terus mensubsidi BCA melalui pemba­yaran bunga obligasi rekap. Mestinya, bank itu mengembalikan obligasi rekap ke nega­ra,” katanya saat dihubungi, Jumat (21/2).

Menurutnya, bank-bank penerima obli­gasi rekap yang sudah sehat mesti mengem­balikannya ke pemerintah agar anggaran negara tidak selalu terbebani. “Mana ada kreditur cicil utang untuk debitur. Kalau bu­kan korupsi, itu apa?” ujarnya.

Berdasarkan data yang diperoleh Komisi Pemantau Pemberantasan Korupsi, terungkap pemerintah masih menanggung bunga obli­gasi rekap dari tahun 1998 sampai 2043 atau selama 45 tahun. “Padahal yang berutang ada­lah bank penerima obligasi rekap kepada ne­gara. Ironis, pemerintah bayar utang kepada bank yang utang ke negara,” papar Tete.

Selain itu, imbuh Tete, BCA juga membagi dividen lepas atas nama pemegang saham yang dulu juga pengemplang BLBI. “Aparat hukum mesti mengusutnya,” tegasnya.

Diperoleh informasi, pemerintah setiap tahun membayar bunga obligasi rekap ke­pada BCA sebesar tujuh triliun rupiah. De­ngan demikian, sejak 1998 sampai sekarang atau 21 tahun, sudah sekitar 147 triliun ru­piah yang digelontorkan. Padahal, kondisi BCA sudah sehat dan menghasilkan laba.

Selain itu, proses penjualan saham BCA pada tahun 2002 juga aneh. Ketika itu, aset BCA senilai 107 triliun rupiah dengan net as­set 47 triliun rupiah dan memegang obligasi rekap senilai 60 triliun rupiah. Pada akhir 2002, saham BCA ditutup pada harga 2.500 rupiah per saham atau sudah mengalami apresiasi 69,5 persen dari nilai akhir 2001 yang sebesar 1.475 rupiah per saham.

Tapi anehnya, di tahun 2003, BCA cuma dijual senilai lima triliun rupiah untuk 51 per­sen sahamnya. Kalau dari total aset, semesti­nya minimal 50 triliun rupiah. n YK/AR-2

Klik untuk print artikel

View Comments

mayang
Sabtu 22/2/2020 | 03:10
bola165,co adalah situs Agen Resmi Judi Online Terpercaya dan Terlengkap saat ini di Indonesia
Cukup hanya dengan satu user id saja sudah bisa bermain di semua game populer di antaranya :
- Sportbook - Live Casino
- Slot - IDN Live
- Poker - Racing
- Keno

langsung saja cek di https://bit.ly/2QF60zN :)

Submit a Comment