Sejarah Motor Bebek di Indonesia | Koran Jakarta
Koran Jakarta | June 4 2020
No Comments
Motor Bebek

Sejarah Motor Bebek di Indonesia

Sejarah Motor Bebek di Indonesia

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Popularitas motor matik membuat motor bebek kini semakin ditinggalkan, meski sebagian konsumen masih tetap bertahan. Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia ( AISI), sepanjang September 2019 penjualan motor bebek mengalami penurunan tertinggi yakni 14,8 persen dibanding bulan sebelumnya, atau hanya menjadi 33.747 unit.

Motor bebek, adalah sepeda motor kecil yang dibangun di atas kerangka yang sebagian besar terdiri dari sebuah pipa berdiameter besar. Desain ini di Barat dikenal sebagai design step-through.

Meskipun posisi tangki bahan bakar,dan penahan percikan air pada motor bebek dibuat mirip dengan skuter, tetapi roda, posisi mesin, dan transmisi lebih mirip dengan desain sepeda motor konvensional. Memang ada perbedaan mendasar dalam desainnya, tapi terkadang motor bebek dipasarkan sebagai skuter di Barat.

Motor bebek sangat populer di seluruh dunia, utamanya di Asia Timur dan negara-negara Asia Tenggara, mereka mendominasi segmen pasar motor murah dengan kemudahan penggunaan seperti skuter, modelnya yang cocok untuk pria dan wanita, dan sifat pengendalian yang bisa diandalkan seperti sepeda motor.

Motor bebek dengan kapasitas mesin dari 49 cc atau kurang, biasanya akan diklasifikasikan sebagai moped di negara-negara Barat, jika mereka memenuhi persyaratan hukum setempat, biasanya kecepatan tertinggi dibatasi sampai 50 km/jam.

Konsep motor bebek dapat dilihat dalam beberapa moped Eropa pada awal tahun 1950-an, ada NSU Speed dan Heinkel Perle. Yang paling penting adalah motor bebek berbingkai tulang belakang, fairing terbuat dari plastik seperti Honda 50 yang diproduksi tahun 1958. Honda 50 ini masih diproduksi dan sudah lebih dari 60 juta unit dibuat, menjadi kendaraan terlaris sepanjang masa.

Di Barat, motor jenis ini disebut underbone, di Malaysia dan Singapura kendaraan ini umumnya dikenal sebagai Kapcai atau Kapchai, sebuah kata plesetan yang berasal dari Kanton, yang merupakan kombinasi dari kata “Cub” dari kata Honda Cub dan dalam bahasa Tiongkok yang diucapkan “jai” yang berarti “kecil”.

Oleh karena itu, Kapcai secara harfiah berarti Little Cub. Pasar motor bebek didominasi oleh pabrikan Jepang, walaupun banyak dari mereka yang dibuat di pabrik-pabrik di tempat lain, termasuk Indonesia, Tiongkok dan Thailand. Banyak peminat memodifikasi motor bebek baik untuk pertunjukan, seperti menginstal sistem suara kecil, lampu neon, dan cat secara custom atau untuk kinerja, seperti meningkatkan daya mesin dan penyetelan suspensi.

Drag racing motor bebek adalah ilegal, menjadi populer di negara-negara seperti Filipina dan menimbulkan masalah keselamatan bagi masyarakat serta pengendara itu sendiri, karena motor bebek hanya ada sedikit perlindungan untuk masalah kecelakaan.

Motor bebek awalnya masuk dan beredar di Indonesia tahun 1960. Penggunaan nama bebek sebagai salah satu jenis sepeda motor karena desainnya jika dilihat dari samping sama seperti lekukan bebek. Tahun 1980 sampai tahun 2000, motor jenis ini mengadopsi fairing tipis di kiri dan kanan yang menyerupai sayap bebek.

Mencapai Titik Jenuh

Makin maraknya motor-motor jenis skuter matik (skutik) serta tumbuhnya pasar motor sport diprediski dapat mengurangi dominasi motor jenis bebek di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan President Director PT Minerva Motor Indonesia (MMI) Kristianto Goenadi, seperti dilansir dari situs okezone. Motor jenis bebek akan mengalami titik jenuh tersendiri yang pada akhirnya akan mulai ditinggalkan oleh konsumen di Indonesia. “Boleh dibilang masa kejayaan bebek sudah sunset, beberapa pemain besar kini makin fokus di kelas motor sport maupun skutik,” paparnya.

Saat ini tren pergeseran selera konsumen dari sebelumnya menggunakan motor jenis bebek kemudian beralih ke sport maupun skutik sudah terjadi. “Kalau kita lihat di Thailand saja pasar motor bebek terus turun, dan bukan tidak mungkin ini juga terjadi di Indonesia,” katanya.

Kristianto menyebut, skutik dan sport akan makin dilirik pembeli di Indonesia. Apalagi kini skutik sudah banyak yang tampil dengan gaya sporty. Pernah Berjaya Motor bebek sempat menjadi pilihan utama konsumen Indonesia di era 1990-an. Pada masa itu motor bebek adalah raja pasar sepeda motor di Indonesia. Pada masa kejayaannya di tahun 2004, pangsa pasar motor bebek sempat menembus 90,87 persen. Kala itu, motor sport hanya bisa mengambil pasar 8,73 persen, dan skutik saat itu baru menguasai 0,35 persen.

Kehadiran motor skutik buatan Kymco dan Yamaha Nouvo belum dilirik konsumen, motor tersebut dianggap cocok untuk wanita. Periode 2007-2008, ancaman mulai terasa setelah Yamaha merilis Mio. Skutik perdana Yamaha itu sukses mencuri perhatian konsumen dan langsung melejit. Tonggak penting terjadi pada 2010, saat pangsa pasar skutik menembus 49,01 persen, hampir menjungkalkan pasar motor bebek yang sudah turun menjadi 50,85 persen.

Pada 2017, motor bebek benar-benar sudah tak bisa berkutik oleh motor skutik. Catatan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Januari-Juni 2017, dari sekitar 2,8 juta total motor yang terdistribusi dari pabrikan, motor bebek hanya bisa mengambil pasar 9,24 persen, atau tertinggal jauh dengan motor sport yang pasarnya mulai gemuk di angka 10,7 persen karena model baru yang dibarengi dengan sentuhan teknologi baru.

Sang raja skutik mampu meraih pasar 80,06 persen Kenyataan ini tak terbantahkan dengan jumlah line up masing-masing produsen motor terutama Honda dan Yamaha sebagai penguasa pasar.

Yamaha sampai saat ini mengeluarkan 9 model skutik yang sudah dirilis ke pasar, dan hanya lima untuk model bebek. Model motor bebek Honda saat ini hanya tiga model yang tersedia di pasar, sedangkan skutik sudah enam model. Motor bebek kini dalam posisi tertinggal. Pangsa pasar mereka tergerus habis-habisan oleh motor matik.

Nostalgia Motor Bebek

Tentunya para motoris di Indonesia tidak akan pernah melupakan bagaimana tangguh dan iritnya menggunakan motor jenis bebek. Pada tahun 2000-an menjadi awal mula kejayaan motor bebek.

Motor ini semakin ramai dikonsumsi baik tua maupun muda. Diantara deretan motor bebek legendaris, pastinya nama Honda Astrea merupakan pilihan untuk motor bebek.

Motor bebek ini irit bahan bakar. Maka, wajar saja menjadi kendaraan untuk sehari-hari. Sesuai perkembangan zaman, motor bebek ini mengusung desain body yang lebih besar dan kokoh. Motor ini sangat ngetren di akhir 90-an dan 2000-an. Desainnya yang sederhana dan mesinnya yang tangguh menjadikannya motor terlaris kala itu. Honda Supra.

Motor keluaran Honda ini dirilis pada 2003, sempat menjadi motor bebek paling sukses di Indonesia. Memiliki dua varian, yakni Honda Supra Fit dan Honda Supra X sebagai motor bebek pertama yang menggunakan rem cakram. Muncul juga Honda Supra-XX bebek pertama yang pakai kopling manual.

Disaat pabrikan lainnya berlomba-lomba bikin motor kencang dengan mesin 2 tak, Honda malah menciptakan motor irit, bandel dan awet dengan mesin 4 tak. Pada 2006, kembali mengangkat nama Supra si raja bebek ke posisinya yang paling tinggi, dengan membenamkan mesin baru 125cc, dan nama Honda Supra-X 125 eksis hingga tahun 2017.

Honda Supra series menjadi varian bebek tertinggi dengan membenamkan mesin 150cc DOHC, dengan nama All New Honda Supra GTR. Yamaha Jupiter. Motor bebek satu ini diproduksi oleh pabrikan Jepang Yamaha.

Penjualan Yamaha Jupiter sempat menjadi primadona kala itu. Handling yang mantap dan performa mesin yang powerful membuat motor ini jadi pesaing terberat Honda Supra. Suzuki Shogun.

Motor Suzuki ini diluncurkan untuk menyaingi Honda Supra. Shogun yang arti katanya adalah jenderal, menjadi lawan serius Honda Astrea. Kelebihan Shogun dibandingkan rivalnya adalah kualitas material motor ini yang di atas rata-rata. berbagaisumber/ars

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment