Restrukturisasi Kredit Rp517,2 Triliun | Koran Jakarta
Koran Jakarta | July 4 2020
No Comments
Stimulus Ekonomi l OJK Petakan Debitur Program Restrukturisasi Meliputi UMKM, BUMN, dan Swasta

Restrukturisasi Kredit Rp517,2 Triliun

Restrukturisasi Kredit Rp517,2 Triliun

Foto : ISTIMEWA
WIMBOH SANTOSO Ketua Dewan Komisioner OJK
A   A   A   Pengaturan Font
Likuiditas perbankan diperkirakan tetap stabil meskipun melakukan restrukturisasi kredit kepada debitur yang meliputi UMKM, BUMN, dan swasta menyusul pelonggaran kuantitatif oleh BI.

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan perbankan telah melakukan restrukturisasi kepada 5,33 juta debitur dengan total outstanding mencapai 517,2 triliun rupiah hingga 26 Mei 2020. Dari jumlah tersebut, outstanding restrukturisasi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebesar 250,6 triliun rupiah berasal dari 4,55 juta debitur dan non-UMKM mencapai 266,5 triliun rupiah dari 780 ribu debitur.

“Jadi, kita dalam melakukan mapping debitur perbankan itu ada tiga klaster yakni UMKM, BUMN, dan swasta,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, dalam diskusi daring di Jakarta, Kamis (4/6).

Lebih lanjut, Wimboh menuturkan untuk total outstanding restrukturisasi di perusahaan pembiayaan per 2 Juni 2020 mencapai 80,55 triliun rupiah dengan 2,6 juta kontrak telah disetujui. “Terdapat 485 ribu kontrak yang masih dalam proses persetujuan,” ujarnya.

Dia mengatakan untuk klaster BUMN telah ditangani secara khusus oleh Kementerian BUMN dan Menteri Keuangan sehingga OJK berharap tidak ada BUMN yang gagal dalam memenuhi kewajiban mereka baik di perbankan maupun pasar modal.

“Seharusnya tidak ada lagi BUMN yang akan default. Tidak ada lagi BUMN yang tidak akan membayar kewajibannya di pasar modal,” tegasnya.

Wimboh optimistis likuiditas perbankan akan tetap stabil seiring dengan kebijakan Quantitative Easing oleh Bank Indonesia (BI) yang telah menyuntikkan likuiditas sebesar 583,8 triliun rupiah.

“Ini yang banyak menikmati bank-bank besar sebagai player atau supplier di pasar uang antarbank sehingga menurut kami dari amunisi secara market tidak ada masalah,” katanya.

Tak hanya itu, dia menyatakan pemerintah juga telah menempatkan dana ke bank jangkar sebagai penyangga likuiditas perbankan jika diperlukan seiring dengan penandatanganan PP Nomor 23/2020 oleh Menteri Keuangan.

 

Jasa Giro

 


Seperti diketahui, untuk menjaga stabilitas keuangan negara, BI telah menyediakan likuiditas bagi perbankan dalam memberikan keringanan kepada debitur mereka yang bergerak di bidang UMKM melalui program restrukturisasi kredit.

Bank sentral menyediakan likuiditas bagi perbankan dalam restrukturisasi kredit UMKM dan usaha ultra mikro yang memiliki pinjaman di lembaga keuangan. BI kembali memberikan stimulus sektor keuangan melalui pemberian bunga 1,5 persen untuk jasa giro bagi penempatan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan. Pemberian bunga jasa kepada bank itu sebagai bentuk berbagi beban atau sharing the pain kepada pelaku ekonomi lainnya di tengah situasi pandemi Covid-19.

“Yang sebelumnya tidak ada suku bunga, terhadap GWM bank-bank di BI, kami akan berikan 1,5 persen atas jasa GWM-nya, kami berlakukan bagi semua bank,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, di Jakarta, Rabu pekan ini.

Tercatat sejak Juli 2018, perbankan sudah tidak mendapatkan jasa giro atas GWM yang ditempatkan perbankan di BI. Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 20/3/PBI/2018 tentang Giro Wajib Minimum, jasa giro masih ditetapkan dengan tingkat bunga sebesar nol persen.

 

mad/Ant/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment