Presiden Minta Menteri Bersikap Melayani Investor | Koran Jakarta
Koran Jakarta | July 4 2020
No Comments
Antisipasi Resesi I RI Belum Terima Relokasi Industri dari Tiongkok

Presiden Minta Menteri Bersikap Melayani Investor

Presiden Minta Menteri Bersikap Melayani Investor

Foto : Sumber: BKPM – Litbang KJ/and
A   A   A   Pengaturan Font

>> Ada masalah internal di dalam negeri yang menghambat investasi masuk ke Indonesia.

>> Bank Dunia minta pemerintah menyiapkan mitigasi terjadinya resesi ekonomi global.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para menteri tidak bersikap seperti pejabat, dalam arti, se­lalu minta dilayani. Sebaliknya, para pembantu Presiden itu seharusnya lebih bersikap melayani. Sikap tersebut mesti diterapkan terutama dalam upaya me­macu investasi yang masuk ke Tanah Air.

“Kita ini jangan kayak pejabat, minta dilayani. Kita harus melayani,” kata Pre­siden Jokowi, saat memimpin rapat ter­batas (ratas) yang membahas antisipasi perkembangan perekonomian dunia, di Kantor Presiden Jakarta, Rabu (4/9).

Kepala Negara meminta para men­teri menginventarisasi minat investasi yang masuk ke Indonesia, tetapi belum ada realisasinya.

“Tidak hanya BKPM (Badan Koordi­nasi Penanaman Modal), pertanian ada, industri ada, di BUMN ada, dan kemen­terian yang lain. Saya minta perusahaan sudah masuk, sudah buka pintu ke kita, tapi belum terealisasi, tolong dalam se­minggu ini juga diinventarisir,” tegas Jokowi.

Misalnya, lanjut Presiden, belum lama ini ada perusahaan petrochemical asal Taiwan yang menghadapai masalah tanah dengan Pertamina. Padahal, po­tensi investasinya sangat besar.

Untuk itu, Jokowi meminta menteri bertindak agar perusahaan yang akan berinvestasi ke Indonesia itu merasa di­layani. “Tolong juga menteri-menteri ini memberikan pelayanan yang baik pada investasi-investasi yang memang men­jadi sebuah solusi dan jalan keluar dari tadi (ancaman melambatnya perekono­mian global),” tutur dia.

Presiden Jokowi juga mengungkap­kan berdasarkan informasi dari ka­langan investor yang ditemui dan catat­an yang disampaikan Bank Dunia, ada masalah internal di dalam negeri yang menghambat investasi Indonesia.

Presiden mencontohkan, dua bulan lalu ada 33 perusahaan Tiongkok keluar untuk relokasi industri. Dan, 23 perusa­haan di antaranya memilih di Vietnam, 10 sisanya pergi ke Malaysia, Thailand, dan Kamboja. “Nggak ada yang ke kita, tolong ini digarisbawahi. Ini berarti kita memiliki persoalan yang harus kita sele­saikan,” kata Jokowi.

Dia menilai kekalahan dari Vietnam karena di negara itu hanya membutuh­kan dua bulan untuk mengurus inves­tasi yang masuk. Ini berbeda dengan di Indonesia yang memerlukan waktu bertahun-tahun.

Oleh karena itu, Presiden meminta para pembantunya mengumpulkan ber­bagai regulasi itu, arahnya untuk mem­persingkat waktu izin investasi masuk. “Sekali lagi, masalah itu ada di internal kita sendiri, ada kunci kita keluar dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global ada di situ. Dan itu bisa mema­yungi kita dari kemungkinan resesi glo­bal yang semakin besar, itu juga ada di situ,” tukas Jokowi.

Langkah Antisipatif

Presiden mencontohkan depresiasi mata uang yuan Tiongkok, dan peso Fi­lipina sudah terjadi akibat perlambatan ekonomi global.

“Tantangan itu harus kita antisipasi, kita hadapi, dan kita harapkan langkah-langkah antisipatif sudah benar-benar secara konkret,” kata Jokowi.

Dia berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia terhindar dari resesi yang po­tensinya semakin besar ini. Menurut dia, jalan yang paling cepat menghadapi perlambatan ekonomi global adalah in­vestasi. “Kuncinya hanya ada di situ ng­gak ada yang lain,” kata Presiden.

Untuk itu, Presiden Jokowi meminta seluruh kementerian terkait bidang eko­nomi menginventarisasi berbagai regu­lasi yang menghambat dan memperlam­bat pertumbuhan ekonomi. “Seminggu lagi kita akan bicara mengenai masalah bagaimana segera menyederhanakan peraturan-peraturan yang menghambat dan memperlambat itu,” jelas dia.

Sebelumnya, Bank Dunia mengim­bau pemerintah mewaspadai beberapa poin, termasuk situasi geopolitik saat ini. Lembaga tersebut menyarankan In­donesia terus memonitor dan menyiap­kan langkah mitigasi terjadinya resesi ekonomi global.

Bank Dunia merekomendasikan pe­merintah memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan melalui peningkatan investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI).

“Itu cara itu paling baik untuk mendo­rong ekonomi, dengan menambah mo­dal juga memperbaiki aliran portofolio,” papar Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo A Chavez usai bertemu Presiden Jokowi, awal pekan ini. fdl/Ant/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment