Membahas Kendaraan Secara Adil | Koran Jakarta
Koran Jakarta | June 5 2020
No Comments
Fitra Eri | Otomotif Youtuber

Membahas Kendaraan Secara Adil

Membahas Kendaraan Secara Adil

Foto : ISTIMEWA
Fitra Eri
A   A   A   Pengaturan Font

Fitra Eri, Influencer otomotif yang vlog nya terus didatangi penggemarnya di Youtube menceritakan bagaimana awalnya berpindah dari wartawan tulis menjadi vlogger.

Fitra Eri kelahiran Jakarta 1974 itu memang seorang jurnalis otomotif sejak tahun 2003 di sebuah majalah cetak otomotif yang cukup terkenal. Namun dalam perjalanannya, Fitra juga mulai menyadari akan ekspansi dunia maya.

“Saya melihat bahwa majalah cetak bakalan tergeser dengan majalah digital. Oleh sebab itu saya segera sadar harus melakukan sesuatu,” katanya saat ditemui di kantornya, di daerah Joglo Jakarta Selatan.

Fitra menceritakan bagaimana dirinya berpindah total dari dunia cetak ke digital. Pada 2012, Fitra mencoba mereview sebuah kendaraan lewat Youtube. Dengan sikap yang kaku, Fitra berbicara di depan kamera. Dia mengaku memang cukup berat, karena selama ini dirinya hanya menulis untuk konsumsi media cetak.

Yang direview pertama kali adalah Honda CRV 2012. Menggunakan satu kameramen yang menurut Fitra adalah staf artistik, lalu dilatih untuk pegang kamera.

“Hasilnya ya begitulah, fokus kadang-kadang meleset, gambar juga kualitasnya masih jelek. Tapi ya itulah yang penting isinya. Dibanding dengan sekarang jauh sekali kualitasnya. Tapi at least kita sudah mulai,” ungkap Fitra.

Video ulasan otomotif tersebut ternyata yang nonton sedikit sekali dan itu sempat dipermasalahkan oleh pihak kantor Fitra. Sebab kalau review mobil di Youtube itu berarti orang dikasih info gratis, kalau di majalah orang harus beli, lalu kenapa ini dikasih gratis. Nanti bagaimana nasib majalahnya.

Hal tersebut menjadikan Fitra bimbang. Baginya kedepan tidak bisa lagi menjual informasi. Informasi di era digital harus transparan, disebarluaskan tanpa dikenakan biaya.

“Tapi Kalau audience kita banyak, nantinya iklan pasti akan datang ke kita. Jadi kita tidak bisa lagi bisnisnya itu meminta uang dari pembaca,” kata Fitra. Fitra semakin memantapkan langkahnya di dunia digital.

“Saya ingin full digital, sementara bekerja di media cetak terbesar di Indonesia, pergerakkannya lambat, saya mau digital, tapi perusahaan balik lagi ke cetak, ini karena bisnisnya sudah nyaman di situ,” jelasnya.

Hal lain yang semakin membuat dirinya semangat adalah komentar yang ada di videonya. Karena pada saat itu hampir tidak ada yang mereview mobil di Youtube. Maka segera bermunculan berbagai komentar. Kalau yang positif bisa menyenangkan, kalau yang negatif justru jadi masukkan untuk bisa membuat video lebih baik lagi.

“Hal ini yang tidak saya dapatkan waktu di majalah,” katanya. Akhirnya Fitra memutuskan untuk keluar dari majalah otomotif tersebut pada 2014.

“Karena saya sudah banyak banget main di digital, sementara kantor yang lama sudah tidak nyaman dengan saya main di digital. Saya mengerti kalau ini sudah beda jalan. Lalu saya putuskan keluar dan langsung membuat majalah digital otodriver.com,” kenangnya.

Fitra membentuk tim video dan tim tulis. Dirinya meyakinkan pada timnya bahwa bisnisnya adalah review mobil dan berita otomotif hanya di digital. Fitra cukup terkejut, karena review mobilnya tidak sampai satu tahun menjadi channel terbesar di Indonesia untuk review mobil di Youtube. Waktu itu paling dulu mencapai 200 ribu subscriber. Sekarang channel ini sudah mencapai hampir satu juta subscriber.

Sebagai Influencer atau orang yang memiliki banyak pengikut, video Fitra Eri yang juga seorang pebalap itu banyak dinanti orang. Membaca komentar yang ada di Youtube bila usai membahas sebuah kendaraan, cukup menarik. Seperti saat mengunjungi Museum Mercedes Benz di Jerman, dimana di sana dipamerkan mobil-mobil yang digunakan oleh para pesohor, seperti mobil yang dipakai Paus Paulus, atau mobil Lady Di istri Pangeran Charles dari Inggris, diceritakan Fitra bahwa ketika Lady Di membeli mobil tersebut, keluarga kerajaan kurang setuju karena membeli mobil bukan buatan Inggris.

Komentar para penonton video pun bermunculan, seperti yang ditulis Anggara Saputra “Ini vlog nya berasa Kami yg nonton seperti ada di sana”. Irvan Hasyim “Wah gila.. Ada mobil dewa.. 44500cc 3000hp 600kmh tahun 1939. Bugati lewaaat paak.” Lalu ada komentar dari Elang Lombok

“Menurut saya vlog abang fitra yg terbaik, education banget dan tidak lebay/ drama.”

Hal tersebut terjadi karena Fitra Eri memang menguasai tentang mobil. Ini bisa dimaklumi karena Fitra Eri merupakan pebalap nasional Indonesia yang terjun dalam beberapa jenis balapan terutama yang berhubungan dengan Touring Car. Prestasi yang diraihnya adalah menjadi juara kedua dalam Lamborghini Super Trofeo Asia yang diadakan di Sirkuit Sepang bulan Juni 2014.

Selain itu, dalam ISSOM 2014 Seri 2 bulan April 2014 lalu, Fitra Eri yang turun ke lintasan bersama istrinya, Rally Marina, berhasil menduduki posisi pertama pada Masterclass Audi Race Indonesia Series.

Pada tahun 2009, Fitra Eri pernah mengikuti AFOS pada kelas ATC-Max bersama istrinya dan menjadi juara pertama untuk kedua kalinya setelah berhasil finish di urutan pertama pada kedua race sekaligus.

Sebelum mereview mobil, dirinya mempelajari dulu tentang mobil tersebut, terutama mobil-mobil spesial, apa kelengkapannya dan siapa target konsumennya. Jadi kalau review, Fitra Eri menempatkan dirinya sebagai konsumen.

“Kalau saya mereview supercar, saya menempatkan diri sebagai konsumen yang membeli supercar itu,” katanya.

Fitra mengaku tidak bisa mereview sesuatu kalau benar-benar tidak punya pengalaman di situ.

“Saya bisa review motor, tapi tidak sebagus yang ahli motor, jadi saya tidak review gadget atau lannya, saya fokus di mobil,”jelasnya.

Tidak semua mobil premium yang direview. Tapi memang yang banyak melakukan survei adalah dari pihak mbil premium. Pernah salah satu mobil premium melakukan survei ke konsumennya, ternyata hampir 80 persen yang membeli mobil tersebut melihat dulu review di internet dan sebagian besar melihat dari otodriver.

“Jadi kita juga senang bisa kasih tahu mobil ini tentang keburukkannya apa, kebaikannya apa. Itu selalu kita jaga,” kata Fitra.

Dengan berpengaruhnya review di Youtube, pastinya banyak tawaran dari pihak ATPM untuk mereview mobilmobil yang diproduksinya. Fitra Eri mengakui banyak sekali pabrikan mobil yang mau mengontraknya, supaya reviewnya bagus.

“Tapi justru ketika kita mereview mobil, kita menolak iklan dari mobil yang kita review. Seperti ketika mereview Toyota, kita tidak menerima iklan Toyota di video ini,” ungkapnya.

Lalu bagaimana kalau ada pabrikan yang mau promosi. Fitra tidak membuat video review, tapi membuat video tentang acara perjalanan atau tips yang menggunakan mobil dari pabrikan yang dimaksud. Dengan begitu konsumen tidak merasa dipaksa.

Pengalaman mereview mobil selama 17 tahun, membuat Fitra Eri menjadi ahli di bidangnya. Ratarata dalam setahun hampir 100 mobil dicobanya. Jadi bila dikalikan sepanjang perjalanan rieview di Youtube sudah 1.500 mobil.

Tidak dipungkiri mobil yang enak untuk di review adalah mobil mewah atau dahsyat. Tapi ternyata Fitra Eri tidak selalu mengulas mobil mahal, dirinya juga merasa asik ketika mereview mobil yang ditunggu-tunggu banyak orang seperti Xpander 2017.

“Mobil ini saya review supaya orang tidak salah beli dan tahu kelebihan serta kekurangannya,” ungkapnya.

Keliling Dunia

Dari kegiatan review mobil itu, Fitra Eri diundang berbagai pabrikan mobil di dunia.

“Hampir semua benua yang punya pabrikan mobil sudah saya datangi, kecuali Afrika,” jelasnya. Kebanyakan undangan ke pabrikan di luar negeri itu karena mobilnya belum masuk ke Indonesia. Jadi Fitra Eri diminta datang untuk melakukan test drive.

Bukan hanya review kendaraan baru, tapi kunjungan ke museum mobil di beberapa negara juga diunggah ke videonya. Fitra Eri mengaku terkesan saat mengunjungi museum Mercedes Benz di Jerman dan Museum BMW. Museumnya luas dan koleksinya lengkap, ada mobil pertama yang dibuat dan masih dalam keadaan utuh serta bisa jalan.

Sekalipun sudah populer, pria yang memiliki beberapa koleksi kendaraan ini seperti VW Golf, Mitsubhisi Xpander, Masda Miarta, BMW E 36 tahun 97, BMW E 30 tahun 91, Toyota Alphard, Suzuki Jimny dan Datsun Go, tidak secara serta merta membeli mobil dengan mendapatkan harga spesial. Dia mengaku bila membeli mobil dibelinya dengan harga seperti di pasaran.

“Kalau ada pabrikan yang mau kerjasama, saya beli mobilnya dengan harga biasa. Lalu untuk urusan kerjasama itu bagiannya lain,” kata Fitra Eri. Ars

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment