Mantan Pejabat Pajak Dengarkan Putusan Hari Ini | Koran Jakarta
Koran Jakarta | July 4 2020
No Comments

Mantan Pejabat Pajak Dengarkan Putusan Hari Ini

Mantan Pejabat Pajak Dengarkan Putusan Hari Ini

Foto : Koran Jakarta/Yolanda Permata Putri Syahtanjung
Pelaksana Tugas Juru Bicara Penindakan KPK, Ali Fikri.
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Mantan Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Tiga Jakarta, Yul Dirga (YD) akan menjalani sidang putusan hari Rabu (1/7) ini. Yul Dirga merupakan terdakwa dalam kasus suap terkait dengan pemeriksaan atas restitusi pajak sebuah korporasi PT Wahana Auto Ekamarga (WAE) tahun 2015 dan 2016, serta penerimaan gratifikasi.

"Agenda Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), mendengarkan putusan Yul Dirga di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat," kata Pelaksana Tugas Juru Bicara Penindakan KPK, Ali Fikri saat dikonfirmasi, Rabu (1/7).

Kabarnya, persidangan akan digelar pada pukul 13.00 WIB. Nantinya, juga akan disiarkan secara langsung di kanal YouTube KPK.

Diketahui sebelumnya, Yul Dirga dituntut JPU KPK, sembilan tahun enam bulan penjara dan denda 300 juta rupiah dengan subsider empat bulan kurungan. Jaksa meyakini Yul Dirga telah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dakwaan kesatu alternatif pertama dan dakwaan kedua.

Dalam kasus ini, terdakwa Yul Dirga diyakini jaksa melancarkan aksinya bersama Pegawai Direktorat Jenderal Pajak, Hadi Sutrisno (HS) dan Jumari, serta Fungsional Pemeriksa Pajak Pertama, KPP Modal Asing Tiga, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus, Direktorat Jenderal Pajak, M. Naim Fahmi (MNF). 

Sebagaimana dakwaan pertama, Yul Dirga secara bersama-sama dengan Hadi, Jumari, Naim menerima suap sebesar 34.625 dollar AS dan 25 juta rupiah atau sekitar 499.501.000 rupiah dari Komisaris PT Wahana Auto Ekamarga (WAE), Darwin Maspolim (DM) dan Chief Financial Officer Wearnes Automotive PTE Ltd, Katherine Tan Foong Ching.

Jaksa meyakini uang tersebut diberikan pengusaha mobil mewah itu, agar terdakwa Yul Dirga menyetujui permohonan lebih bayar pajak (restitusi) yang diajukan oleh PT WAE tahun pajak 2015 dan 2016.

Lebih lanjut, jaksa merincikan terkait restitusi pajak 2015, pada tahun 2016, PT WAE menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT)  Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan dengan mengajukan restitusi sebesar 5,03 miliar rupiah. Setelah dilakukan pemeriksaan dilapangan, Hadi menyampaikan kepada PT WAE bahwa hasil pemeriksaan bukan lebih bayar melainkan kurang bayar.

Namun Hadi menawarkan bantuan untuk menyetujui restitusi dengan imbalan diatas 1 miliar rupiah dan Darwin menyetujuinya. Uang diberikan dalam dua tahap pertama pada terbit Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) Pajak Penghasilan yang menyetujui restitusi sebesar 4,59 miliar rupiah pada April 2017 dan 73.700 dollar AS pada awal bulan Mei 2017. Kemudian uang tersebut dibagi Hadi kepada Yul Dirga, Jumari. dan Naim sekitar 18.425 dollar AS per orang.

Selanjutnya terkait restitusi pajak 2016, pada 2017 PT WAE kembali menyampaikan SPT Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan dengan mengajukan restitusi sebesar 2,7 miliar rupiah. Setelah pemeriksaan dilapangan, Hadi memberitahukan bahwa PT WAE terdapat banyak koreksi sehingga yang seharusnya lebih bayar menjadi kurang bayar.

Hadi kembali menawarkan bantuan dan meminta uang 1 miliar rupiah. Namun, pihak PT WAE tidak setuju dan melakukan negosiasi sehingga disepakati 800 juta rupiah yang ditukarkan menjadi mata uang dollar AS. Kemudian, uang tersebut dibagi kembali oleh Hadi kepada Jumari dan Naim sekitar 13.700 dollar AS per orang.

Selain itu, terdakwa Yul Dirga juga didakwa menerima gratifikasi secara keseluruhan berjumlah 98.400 dollar AS dan 49 ribu dollar Singapura dari para wajib pajak di wilayah pajak di wilayah KPP PMA Tiga Jakarta. Penerimaan uang gratifikasi itu, kata jaksa, tidak dilaporkan ke KPK dalam retang waktu 40 hari kerja. ola/N-3

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment