Korut Berang Karena Selebaran Terkait Istri Kim Jong-un | Koran Jakarta
Koran Jakarta | July 4 2020
No Comments

Korut Berang Karena Selebaran Terkait Istri Kim Jong-un

Korut Berang Karena Selebaran Terkait Istri Kim Jong-un

Foto : TASS/Valery Sharifulin
Alexander Matsegora
A   A   A   Pengaturan Font

MOSKWA - Pemerintah Korea Utara (Korut) berang atas selebaran propaganda anti-Pyongyang yang dikirimkan dari Korea Selatan (Korsel) yang isinya berupa gambar tak senonoh dan menghina istri dari pemimpin Kim Jong-un. Hal itu disampaikan diplomat utama Russia untuk Korut pada Senin (29/6).

Dalam beberapa pekan belakangan, Pyongyang telah melontarkan serangkaian kecaman atas selebaran propaganda anti-Korut yang dikirimkan para pembelot dari Korsel dengan balon maupun botol kosong yang dihanyutkan di sungai.

Isu selebaran propaganda telah lama dipermasalahkan oleh dua negara Korea, namun kali ini Pyongyang tak bisa lagi menahan kemarahannya dan kemudian menghancurkan kantor hubungan antar-Korea dan mengancam akan melakukan aksi militer ke Korsel.

“Salah satu selebaran yang diluncurkan pada 31 Mei lalu salah satunya berisi gambar yang amat provokatif dari Ibu Negara Korut, Ri Sol Ju, dan selebaran ini memicu kemarahan yang amat mendalam di Pyongyang,” ucap Duta Besar Russia untuk Korut, Alexander Matsegora.

Russia merupakan salah satu negara sekutu utama Korut dan Matsegora adalah dubes yang paling lama mengabdi di Pyongyang.

“Selebaran itu amat tak senonoh dan merupakan propaganda yang amat menghina dan menyasar pada istri dari pemimpin Korut,” ucap Matsegora pada kantor berita Russia, TASS, pada Senin lalu. “Gambar-gambar tak senonoh itu merupakan hasil editan photoshop dengan kualitas amat rendah, namun jadi pemicu kemarahan bagi pemerintah Korut,” imbuh Dubes Russia itu.

Hubungan antar-Korea saat ini tengah memburuk setelah terjadi kemandekan dalam pertemuan tingkat tinggi antara Kim Jong-un dan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Padahal pada awal tahun lalu sempat muncul keinginan dari Korut untuk melucuti program senjata nuklirnya dengan imbalan pelunakan sanksi internasional.

Terkait isu selebaran ini, Pyongyang mencurahkan kemarahan pada Seoul daripada bagi Washington DC.

Dalam pernyataannya, Dubes Matsegora menampik bahwa adik perempuan dari Kim Jong-un yang bernama Kim Yo Jong, tengah dipersiapkan untuk menggantikan posisi kakaknya sebagai pemimpin Korut berikutnya.

Sejak awal Juni, Kim Yo Jong yang saat ini jadi penasihat utama bagi Kim Jong-un, telah jadi sosok paling depan yang mengecam Korsel terkait penyebaran selebaran propaganda yang datang dari Selatan.

Sebelum menghancurkan kantor penghubung antar-Korea, Kim Yo Jong telah mewanti-wanti Korsel tentang keruntuhan hubungan dan menyebut Presiden Moon Jae-in sebagai sosok yang memuakkan dan kurang waras.

 

Utusan AS

Pada saat bersamaan, utusan AS untuk Korut yang juga wakil dari Menlu AS, Steve Biegun, menyatakan amat mustahil bakal ada pertemuan antara Trump dan Kim Jong-un sebelum terlaksananya pilpres AS, walau ia amat berharap akan ada progres dari negosiasi nuklir.

“Namun begitu AS tetap membuka pintu bagi diplomasi,” kata Biegun.

Dalam penjelasannya saat menghadiri forum German Marshall Fund of the United States, Biegun menerangkan bahwa terjadinya pandemi virus korona telah semakin menyulitkan terjadinya pertemuan tingkat tinggi.

Trump merupakan Presiden AS pertama yang bisa bertemu dengan pemimpin dari Korut sebanyak 3 kali pada 2018 (di Singapura), 2019 (di Hanoi, Vietnam), dan 2020 lalu (di perbatasan Korea). Padahal AS hingga saat ini belum menyatakan secara resmi berakhirnya perang yang dimulai pada 70 tahun lalu. AFP/I-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment