Klorokuin dan Avigan Tidak untuk Pencegahan, tapi untuk Pengobatan | Koran Jakarta
Koran Jakarta | July 4 2020
No Comments
Ketua Satgas Covid-19 IDI, Zubairi Djoerban, tentang Klorokuin dan Avigan

Klorokuin dan Avigan Tidak untuk Pencegahan, tapi untuk Pengobatan

Klorokuin dan Avigan Tidak untuk Pencegahan, tapi untuk Pengobatan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font
Pemerintah Indonesia mulai bergerak cepat dalam menangani pandemi Covid-19. Presiden Joko Widodo, beberapa hari lalu, telah mengumumkan impor obat klorokuin dan avigan untuk menyembuhkan pasien positif Covid-19.

 

Adapun masing-masing jumlah impornya yaitu tiga juta obat klorokuin dan dua juta obat avigan. Sampai saat ini, pandemi Covid-19 belum ada obatnya dan diketahui beberapa negara masih dalam tahap uji coba vaksin. Adapun baik klorokuin dan avigan bukan obat utama penyakit Covid-19.

Untuk mengupas kebijakan tersebut, Koran Jakarta mewawancarai Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia, Zubairi Djoerban. Berikut petikan wawan­caranya.

Klorokuin dan avigan ini sebenarnya obat untuk penyakit apa?

Avigan atau favipiravir ditemu­kan oleh sebuah farmasi Jepang un­tuk mengobati flu pada tahun 2014. Obat ini dulu pernah diberikan untuk mengatasi penyakit ebola. Sedangkan klorokuin ditemukan tahun 1934 oleh seorang peneliti dari Jerman pada waktu pengo­batan malaria. Memang, sekarang tidak lagi jadi obat pilihan penyakit malaria karena banyak malaria resistance terhadap klorokuin. Seiring perkembangan waktu, ternyata klorokuin diketahui ter­bukti untuk pengobatan lupus dan reumatoid artritis yang keduanya masuk dalam golongan penyakit autoimun.

Apakah keduanya bisa meny­embuhkan penyakit Covid-19?

Para dokter di Tiongkok, khusus­nya di Kota Shenzen, memberi avi­gan ini untuk mengobati Covid-19 dengan hasil baik. Pasien yang dio­bati dengan avigan menjadi negatif dalam waktu empat hari, bila dibandingkan dengan pengobatan standar negatif dalam 11 hari. Jadi lebih cepat virusnya hilang.

Di uji klinik yang sama, avigan mampu memperbaiki 91 persen kondisi paru pasien dibandingkan tanpa avigan yang hanya 62 persen. Avi­gan mampu memperpendek lama panas badan pasien dari 4,2 hari menjadi rata-rata hanya dua setengah hari. Itu menurut hasil peng­gunaan di Shenzhen, Tiongkok.

Tapi menurut salah satu pejabat Kementerian Kesehatan Jepang, avigan tidak terlalu aktif jika vi­rusnya sudah terlanjur teredukasi banyak. Jadi, virusnya kalau sudah banyak dan penyakit sudah lanjut, menurut pejabat Kemenkes Je­pang, tidak terlalu aktif.

Kalau Klorokuin?

Untuk klorokuin juga digu­nakan dalam pengobatan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Kemudian, para ahli ber­pikir kalau bisa mengobati SARS, mungkin juga bisa mengobati virus yang mirip SARS. Kita juga tahu kalau Covid-19 ini namanya korona tipe baru atau SARS-CoV-2.

Berapa negara yang menggunakan kedua obat ini?

Saat ini avigan dipakai untuk pengobatan covid-19 di beberapa negara seperti Tiongkok, Jepang, Indonesia ini yang pasti. Di be­berapa negara lain juga digunakan.

Begitu juga klorokuin. Baik avi­gan dan klorokuin evidence-based medicine (EBM) atau bukti ilmiah mengobati Covid-19 belum ada dan bukan level satu atau menjadi standar pengobatan Covid-19.

Apakah ada efek sampingnya?

Pada prinsipnya semua obat ada efek sampingnya tanpa kecuali. Bahkan, aspirin juga ada efek sampingnya. Klorokuin ini kalau dalam penyakit lupus harus dimonitor pada retina matanya. Tetapi itu baru terjadi dalam be­berapa tahun atau bulan kemudian. Jadi selama retina baik, klorokuin bisa dipakai dan selama pemakaian tidak jangka panjang. Kalau jangka panjang, harus sering diperiksa retina. Untuk avigan karena saya belum pernah memakainya, jadi belum bisa menjawab sekarang.

Karena Presiden telah mengu­mumkan, ada imbauan agar tidak panic buying membeli kedua obat tersebut?

Sebaiknya apotek tidak boleh menjual klorokuin tanpa resep dok­ter dan resepnya harus resep asli. Klorokuin ini tidak bisa digunakan untuk pencegahan. Jadi, ketika mengonsumsi tidak kena virus, bukan seperti itu kerjanya. Tapi, di­gunakan untuk pengobatan. Begitu juga avigan.

Namun perlu dicatat juga, angka kematian karena pandemi Covid-19 itu hanya 3,4 persen, baik tanpa klorokuin atau avigan. Artinya ma­sih kecil bahkan tanpa obat khusus virusnya.

Kemudian yang dinyatakan sembuh sudah banyak yaitu lebih dari 80 ribu. Yang kondisinya baik itu persentasenya 95 persen, sedang­kan kondisi berat atau buruk hanya 5 persen. Tidak perlu juga terlalu panik karena hanya sebagian kecil yang tidak tertolong, khususnya yang kemudian masuk ICU dan pasang respirator. n muhamad ma’ruf/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment