Kita Bukan Tidak Punya Ahli, tapi Terlalu Banyak “Meeting” | Koran Jakarta
Koran Jakarta | June 3 2020
No Comments
Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular Unair, Chairul Anwar Nidom, tentang Pencegahan Covid-19

Kita Bukan Tidak Punya Ahli, tapi Terlalu Banyak “Meeting”

Kita Bukan Tidak Punya Ahli, tapi Terlalu Banyak “Meeting”

Foto : KORAN JAKARTA/ SELOCAHYO
A   A   A   Pengaturan Font
Kekhawatiran dunia terus meningkat seiring dengan jangkauan sebaran pandemi virus Covid-19 yang semakin cepat dan luas.

 

Jumlah negara yang mengon­firmasi kasus positif virus korona sampai Kamis (26/3) terus bertambah. Menurut data Worldometers, 198 negara telah mengonfirmasi kasus positif Covid-19. Pasien positif korona tercatat 467.520 orang. Sebanyak 21.174 orang meninggal dunia, dan 113.808 pasien sembuh.

Sementara di Indonesia, sejak Rabu (25/3) pukul 12.00 WIB hingga Kamis (26/3) pukul 12.00 ada penambahan 103 pasien positif baru. Total positif korona saat ini sebanyak 893 orang.

Berbagai kebijakan telah diambil pemerintah untuk mencegah pe­nyebaran epidemi yang mematikan ini. Untuk membahas kebijakan pemerintah itu, Koran Jakarta me­wawancarai penemu vaksin virus H5N1 (flu burung), sekaligus Guru Besar Ilmu Biokimia dan Biologi Molekular, Universitas Airlangga (Unair), Chairul Anwar Nidom. Berikut petikannya.

Apa komentar Anda terhadap kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi virus korona?

Belum terlihat arah yang terstruktur. Walaupun ada gugus tugas, tapi masih banyak yang jalan sendiri-sendiri. Belum ada keseragaman tindakan atau per­nyataan. Yang ada baru tata cara pencegahan, tinggal di rumah dan sebagainya. Namun, bagaimana membangkitkan solidaritas sosial belum ada, padahal ini yang penting dalam keadaam seperti ini.

Akhirnya, masyarakat panik sendiri terkena pengaruh medsos yang sangat kuat. Pemerintah tidak menjadi komando. Juru Bicara dan kepala daerah bisa beda bicaranya.

Bagaimana sebenarnya khasiat obat-obatan dengan chloroquine hydrochloride?

Obat-obat itu seperti yang diberitakan, semacam tidak ada rotan akar pun jadi. Sebenarnya hanya untuk mengendalikan ge­jala demamnya. Tapi masalahnya obat-obat ini bisa dibeli bebas. Kalau masyarakat yang tidak paham, terus dimi­num karena mengira bisa mencegah atau dosisnya berlebih, bahayanya bisa me­lebihi Covid-19. Bisa menimbul­kan toksisitas (keracunan), bisa berlangsug lama pada beberapa bagian tubuh.

Langkah apa yang sebaiknya diambil, perlukah lockdown?

Saya agak berbeda dalam me­nyikapi lockdown. Kita jangan di­cucuk hidung­nya karena belum tentu rekomendasi WHO sesuai dengan karakter dan kondisi di sini. Apakah dengan tinggal di rumah, setiap anggota keluarga bisa tetap terpisah di kamar masing-masing? Kecepatan virus ini menyebar me­lebihi virus-virus lain. Berarti ber­dasarkan pergerakan orang yang membawa virus. Artinya, orang boleh bergerak, tapi pada titik per­temuan harus dikendalikan.

Jadi, di sini yang kurang adalah pemahaman. Virus menular lewat tetesan ludah (batuk) dan ma­suknya lewat hidung, mulut, dan mata. Jadi, sosialisasi ini saja yang digencarkan agar masyarakat pa­ham. Kita juga perlu menyelamat­kan ekonomi saat wabah meluas. Kalau kita memilih penanganan total, apakah ekonominya bisa pulih kembali.

Bagaimana dengan upaya rapid test?

Yang didatangkan adalah kit test serology, untuk mengukur orang yang sudah keluar antibodinya. Bagaimana dengan yang belum? Artinya, ini belum sepenuhnya aku­rat. Seharusnya kit test yang dipakai adalah yang antigen, untuk swap, lebih akurat. Tapi yang sekarang tetap bisa digunakan, setelah awal­nya menggunakan yang antigen.

Ada pendapat yang men­gatakan Indonesia diramalkan yang paling lama pulih dari pan­demi ini?

Saya percaya itu. Kita bukan tidak punya ahli, tapi terlalu banyak meeting dan membuat kebijakan, tapi tidak pandai menjalankannya. Jadi, nomor satu membangun soli­daritas menghadapi musuh tidak terlihat. Buat peta-peta merah, misalnya peta Jabodetabek, Sura­baya plus Sidoarjo, dan seterusnya.

Perlu ketegasan kepemimpinan gugus tugas. Kepala daerah tidak boleh bicara, mereka jalankan ke­bijakan yang dibuat apa kata gugus tugas. n selocahyo/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment