Kepanikan Investor Mereda | Koran Jakarta
Koran Jakarta | June 3 2020
No Comments
Pasar Keuangan Global l Kondisi Ekonomi saat Ini Berbeda dengan Krisis Keuangan 1997 dan 2008

Kepanikan Investor Mereda

Kepanikan Investor Mereda

Foto : ANTARA/Puspa Perwitasari
Perry Warjiyo Gubernur BI
A   A   A   Pengaturan Font
Suntikan stimulus fiskal di sejumlah negara maju, terutama AS dan Jerman, dinilai mampu meredakan kepanikan pasar keuangan yang selama ini tingkat volatilitasnya relatif tinggi.

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menilai kepanikan di kalangan investor global mulai mereda seiring dengan digelontorkannya berbagai stimulus oleh negara-negara maju dalam menghadapi sentimen negatif pandemi virus korona tipe teranyar, Covid-19.

Beberapa paket kebijakan yang menyebabkan pasar keuangan mulai berangsur stabil, seperti disetujuinya paket stimulus fiskal di Amerika Serikat (AS) senilai total mencapai dua triliun dollar AS. Sebagai rinciannya, dana 100 miliar dollar AS dialokasikan untuk bidang kesehatan, 350 miliar dollar AS untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), 250 miliar dollar AS untuk dukungan bagi tenaga kerja, 500 miliar dollar AS untuk dunia usaha, serta sisanya dialokasikan untuk bantuan sosial.

Dukungan lain juga datang dari bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Sebelumnya, The Fed kembali memangkas suku bunga acuannya (FFR) menjadi di kisaran 0–0,25 persen, level yang sama saat krisis keuangan pada 2008.

“Langkah-langkah ini mengurangi kepanikan di berbagai pasar keuangan global,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam video conference tentang kondisi sektor keuangan terkini di Jakarta, Kamis (26/3).

Tak hanya AS, negara ekonomi terbesar di zona euro, Jerman, menyetujui paket stimulus fiskal sebesar 10 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara dengan 860 miliar dollar AS. Di sisi lain, bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) juga menyepakati injeksi likuiditas seiring adanya koordinasi berbagai negara maju dan berkembang, termasuk dengan Indonesia dalam kerangka G20.

Kebijakan tersebut, kata Perry, mampu mengurangi kepanikan di pasar global sehingga indeks saham mulai bergerak ke teritori positif seperti Dow Jones. “Kita catat indeks berbagai negara lain juga mengalami penguatan, seperti Brasil, Meksiko, dan Russia. Ini menunjukkan paket kebijakan moneter maupun stimulus mengurangi kepanikan di pasar,” kata Perry.

Dengan meredanya tekanan di pasar keuangan global maka pasar keuangan Indonesia pun terimbas positif sehingga nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperdagangkan di level 16.228 per dollar AS.

 

Terdampak Covid-19

 

Dalam kesempatan itu, Perry juga menyatakan kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis keuangan pada 1997 dan 2008. Melamahnya kurs rupiah terhadap dollar AS saat ini tidak bisa dibandingkan ketika terjadi krisis keuangan di Asia pada 1997.

“Dulu 16.000 turun 2.500 per dollar AS, hampir delapan kali lipat. Sekarang, 16.000 dari 13.800 per dollar AS atau melemah sekitar 12 persen, jauh lebih kecil dari kondisi dulu,” ungkapnya.

Kondisinya juga berbeda dengan krisis finansial pada 2008 yang terjadi akibat kolapsnya sistem keuangan di AS dan Eropa. Krisis global waktu itu terjadi karena subprime mortgage yang menjadi default sehingga menyebabkan kepanikan di pasar keuangan AS dan Eropa.

Dia memastikan kondisi sekarang lebih dipengaruhi oleh kepanikan pasar keuangan global di AS dan Eropa dalam menyikapi pandemi virus korona.

BI juga memastikan jumlah cadangan devisa yang ada saat ini cukup untuk mengawal stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan wabah Covid-19. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2020 tercatat sebesar 130,4 miliar dollar AS atau tetap tinggi meskipun lebih rendah dibandingkan posisi akhir Januari 2020 sebesar 131,7 miliar dollar AS.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko, mengatakan posisi cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 7,7 bulan impor atau 7,4 bulan untuk impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. “Itu juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor,” katanya.

 

bud/uyo/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment