Kebocoran Dana Mengalir ke “Tax Haven” | Koran Jakarta
Koran Jakarta | June 5 2020
No Comments
Bantuan Bank Dunia

Kebocoran Dana Mengalir ke “Tax Haven”

Kebocoran Dana Mengalir ke “Tax Haven”

Foto : AFP/Brendan SMIALOWSKI
Kantor Pusat Bank Dunia l Dua pejalan kaki melewati kantor pusat Bank Dunia di Washington DC, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu. Pada Selasa (18/2) sebuah studi yang dipublikasikan Bank Dunia menyatakan bahwa kebocoran dana bantuan dari Bank Dunia ke negara-negara yang membutuhkan, telah memicu aliran uang ke bank di luar negeri yang bebas pajak. AFP/Thomas Lohnes
A   A   A   Pengaturan Font

WASHINGTON DC – Sebuah studi yang dibeberkan Bank Dunia pada Selasa (18/2) me­nyebutkan bahwa dana bantuan dari Bank Dunia ke negara-neg­ara yang membutuhkan, telah memicu aliran uang ke rekening bank di luar negeri. Hasil studi ini menunjukkan bahwa ada da­na yang disedot dari negara-neg­ara yang seharusnya dibantu.

“Data memperlihatkan bah­wa pembayaran dana bantuan ini diikuti oleh peningkatan sim­panan di negara-negara bebas pajak (tax haven) seperti Swiss, Luksembourg, Kepulauan Cay­man, dan Singapura, sementara ke negara-negara yang member­lakukan pajak, tak ada aliran,” demikian bunyi laporan yang dikeluarkan Bank Dunia.

Penulis laporan itu menyat­akan bahwa mereka telah men­dokumentasikan bahwa pen­cairan bantuan ke negara-neg­ara yang paling bergantung pada bantuan, bertepatan de­ngan peningkatan secara sig­nifikan dalam simpanan di pusat-pusat keuangan luar neg­eri yang dikenal karena kera­hasiaan bank dan simpanan di manajemen kekayaan pribadi.

“Perkiraan kami menunjuk­kan tingkat kebocoran sekitar 7,5 persen untuk rata-rata neg­ara yang sangat tergantung pa­da bantuan,” demikian kesimp­ulan studi itu.

Laporan tersebut, yang me­neliti 22 negara yang paling ter­gantung pada bantuan teruta­ma di negara-negara di Afrika, juga membandingkan data ten­tang pencairan bantuan dari Bank Dunia dengan simpanan asing dari Bank for Internation­al Settlements (BIS).

BIS adalah lembaga keuang­an internasional yang dimiliki oleh bank sentral yang memu­puk kerja sama moneter dan keuangan internasional serta berfungsi sebagai bank untuk bank sentral.

Picu Kegemparan

Studi ini sempat memicu sedikit kegemparan setelah The Economist pekan lalu menuduh bank telah memaksakan lap­oran tersebut dan menyirat­kan bahwa laporan tersebut mungkin merupakan latar dari mundurnya secara tak terdu­ga kepala ekonom Bank Dun­ia bernama Pinelopi “Penny” Koujianou Goldberg, yang di­umumkan bulan ini dengan alasan bahwa ia akan kembali mengajar di dunia akademis.

Dalam sangkalannya, Bank Dunia menyatakan dukungan­nya terhadap penelitian inde­penden termasuk studi korup­si dan mengindikasikan keter­lambatan publikasi laporan ini hanya karena alasan perlunya proses peninjauan belaka.

“Draf laporan berjudul ‘Elite Capture of Foreign Aid’ men­galami beberapa tinjauan, dan hasilnya diperbaiki,” ka­ta Bank Dunia dalam sebuah pernyataan. “Laporan yang te­lah direvisi ini, sekarang diter­bitkan sebagai Laporan Kerja Bank Dunia yang membahas se­jumlah komentar yang diajukan selama proses peninjauan,” im­buh lembaga keuangan interna­sional pemberi pinjaman itu.

Pernyataan Bank Dunia itu sama sekali tak menjelaskan secara spesifik perbaikan apa yang dilakukan, tetapi rancan­gan penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa pem­bayaran bantuan telah “me­nyebabkan” peningkatan sim­panan di rekening luar negeri, tetapi kata itu diubah dalam versi final dengan kalimat “ber­samaan dengan.”

“Penilepan dana bantu­an oleh politisi yang berkua­sa, birokrat dan kroni mereka, konsisten dengan pola totali­tas yang diamati,” ungkap studi Bank Dunia itu seraya menam­bahkan bahwa efeknya leb­ih besar untuk negara-negara yang lebih korup.  ang/SB/AFP/I-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment