Impor Bahan Baku Amoksisilin 1.200 Ton | Koran Jakarta
Koran Jakarta | June 5 2020
No Comments
Industri Farmasi

Impor Bahan Baku Amoksisilin 1.200 Ton

Impor Bahan Baku Amoksisilin 1.200 Ton

Foto : ISTIMEWA
Soni Solistia Wirawan Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Industri farmasi nasional masih mengimpor bahan baku Amoksisilin 1.200 ton per tahun. Untuk itu, pemerintah segera membangun pabrik Amoksisilin pertama. Demikian ditegaskan Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Soni Solistia Wirawan, setelah acara Penandatanganan Kesepakatan Bersama terkait Amoksisilin, di Jakarta, Jumat (21/2).

Ia menuturkan, angka impor bahan baku Amoksisilin tersebut relatif besar karena banyak digunakan pengobatan lini utama pada infeksi bakteri gram positif dan gram negatif yang hingga kini masih tinggi jumlahnya.

Dia berharap, pabrik tersebut kelak mampu menekan impor bahan baku obat. Soni juga berharap konstruksi pabrik bisa selesai tahun depan. “Tapi, optimistiknya tahun 2022 konstruksi rampung,” ujarnya. Soni mengatakan, sebelum pembangunan pabrik tersebut masih ada tahapan-tahapan yang dilalui dan bekerja sama dengan beberapa pihak termasuk perguruan tinggi serta industri.

Ia memaparkan, tahapan pertama yang harus dilalui adalah scaling up bahan baku Amoksisilin yang akan berkolaborasi dengan Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Setelah itu, hasil scaling up akan jadi dasar pembentukan perencanaan bisnis bekerja sama dengan PT Mersifarma Tirmaku Mercusana.

Menurutnya, BPPT sudah memiliki paten BBO Amoksisilin yaitu 6-APA dan akan dikombinasi dengan Dane Salt yang dikembangkan Farmasi ITB. Selanjutnya dilakukan scaling up sintesis Amoksisilin dari kedua intermediate tersebut sampai pada proses produksi skala industri yang akan dilakukan PT Mersifarma.

Lebih jauh diungkapkan, produk hasil kerja sama akan dinamai Amoksisilin “Merah Putih.” Menurutnya, seluruh proses mulai dari scaling up sampai uji coba pabrik Amoksisilin akan jadi role model pengembangan BBO di Tanah Air.

“Amoksisilin sebenarnya pernah diproduksi di Indonesia tahun 1987. Tetapi tidak bisa bersaing karena biaya produksinya tinggi karena bahan intermediate masih impor,” tandasnya.

 

ruf/G-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment