Diperkirakan Ancaman Kebakaran Hutan Tahun Ini Tidak Sebesar Tahun Lalu | Koran Jakarta
Koran Jakarta | July 4 2020
No Comments
Pakar Forensik Kebakaran Hutan, Prof Bambang Hero, tentang Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan

Diperkirakan Ancaman Kebakaran Hutan Tahun Ini Tidak Sebesar Tahun Lalu

Diperkirakan Ancaman Kebakaran Hutan Tahun Ini Tidak Sebesar Tahun Lalu

Foto : Foto: Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam laporan Prakiraan Musim Kemarau 2020 memperkirakan akan terjadi pada Agustus.

 

Mereka meminta agar pemerintah daerah dan masyarakat lebih siap dan antisipatif terhadap segala kemungkinan yang bakal terjadi, termasuk potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Untuk membahas dan membahas masalah ini, Koran Jakarta mewawancarai pakar fo­rensik kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Guru Besar IPB Univer­sity melalui daring, Prof Bambang Hero. Berikut petikannya.

Apakah karhutla masih menjadi ancaman kita di masa mendatang, kenapa?

Berdasarkan informasi dari BMKG dan badan terkait lainnya, tampaknya ancaman bahaya keba­karan tahun ini tidak sebesar anca­man tahun lalu. Namun menurut saya, meskipun ancamannya tidak seperti tahun lalu, bukan berarti kemudian upaya pengendalian menjadi berkurang, tetapi tetap harus waspada dan konsisten.

Kejadian kebakaran tahun lalu pun banyak yang tidak menduga akan terjadi sehebat itu, bahkan mampu meningkatkan luas keba­karan tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya (2018).

Hal ini terjadi karena upaya pembakaran masih tetap saja ada yang melakukan, mulai dengan dalih untuk kepentingan sendiri hingga bisnis seperti jual beli lahan kawasan hutan negara yang diber­sihkan dengan cara dibakar, motif keuntungan ekonomi, asuransi, penguasaan lahan, dan lain-lain.

Potensi karhutla tahun ini di mana saja?

Menurut saya, wilayah yang akan tetap menjadi potensi karhutla masih di Sumatera (Riau, Sumsel, Jambi), Kalimantan (khususnya di Provinsi Kalimantan Tengah, Barat, Selatan, dan Timur), Sulawesi (Tenggara), Nusa Tenggara (Barat dan Timur), dan Papua (Merauke). Wilayah tersebut perlu diwaspadai karena sering­nya terjadi kebakaran berulang dari tahun ke tahun. Untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan khu­susnya pada wilayah bergambut. Berdasarkan pengalaman lapangan, kejadian kebakaran adalah akibat pembakaran yang dilakukan secara sengaja dan adanya pembiaran

Titik hot spot karhutla yang paling rendah dan besar kira-kira di mana?

Menurut saya, untuk kebakaran yang terjadi sampai dengan hari ini jangan dulu menarik kesimpulan karena belum bisa dijadikan sebagai dasar, meskipun kebakaran sudah mulai terjadi. Yang perlu dilakukan adalah segera melakukan upaya antsipasi se­maksimal mungkin. Karena tahun lalu kebakaran itu me­muncak sejak awal Agustus hingga September, dan kemu­dian menurun secara berta­hap. Hanya perhatian masih perlu difokuskan pada wilayah yang san­gat sensitif terjadi kebakaran, yaitu di wilayah bergambut yang perlu pengamatan ekstra. Sekali keba­karan gambut terjadi dan itu pada saat kurang air maka akan sangt sulit dikendalikan dan tentu saja diimbangi pula dengan meningkat­nya asap yang luar biasa.

Bagaimana antisipasi karhutla tahun ini?

Tampaknya berbagai upaya telah dilakukan mulai dari pernyataan Presiden saat pertemuan Februari 2020 yang akan mencopot pejabat yang tidak melakukan upaya pengendalian kebakaran secara serius, kolaborasi pimpinan tingkat pusat, koordinasi dengan pejabat tingkat provinsi dan kabupaten, dan lem­baga terkait. Upaya aksi langsung di lapangan yang sudah dilakukan dari awal.

Upaya penegakan hukum yang terus berjalan baik oleh penyidik Polri maupun PPNS KLHK, baik pidana maupun perdata, termasuk memperbaiki Inpres Penanggulangan terbaru, serta aturan main yang lain. Yang terakhir adalah ratas yang dilakukan Presiden terkait pengendalian karhutla dan upaya penegakan hukum serius yang akan dilakukan bagi para pembakar.

Upaya KLHK dalam mencegah dan menanggulangi karhutla tahun ini seperti apa?

Metode pencegahan ban­yak yang bisa dilakukan, mulai dari melakukan pemantauan melalui kegiatan early warning system misal Fire Danger Rating System, melakukan patrol ter­padu, edukasi, penyiapan lahan tanpa bakar, termasuk pemadaman dini. Melakukan kegiatan TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) pada beberapa wilayah rawan kebakaran. Mengaktifkan MPA untuk bekerja bahu-membahu. Bahkan, sekarang sudah banyak yang menggunakan CCTV, thermal detector, dan lain-lain. n suradi/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment