BI Berikan Jasa Bunga untuk Penempatan GWM Bank | Koran Jakarta
Koran Jakarta | July 4 2020
No Comments
Pelonggaran Likuiditas

BI Berikan Jasa Bunga untuk Penempatan GWM Bank

BI Berikan Jasa Bunga untuk Penempatan GWM Bank

Foto : ISTIMEWA
Perry Warjiyo Gubernur BI
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) kembali memberikan stimulus sektor keuangan melalui pemberian bunga 1,5 persen untuk jasa giro bagi penempatan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan. Pemberian bunga jasa kepada bank itu sebagai bentuk berbagi beban atau sharing the pain kepada pelaku ekonomi lainnya di tengah situasi pandemi Covid-19.

“Yang sebelumnya tidak ada suku bunga, terhadap GWM bank-bank di BI, kami akan berikan 1,5 persen atas jasa GWM-nya, kami berlakukan bagi semua bank,” kata Gubernur BI, Perry Warjiyo usai telekonferensi rapat terbatas dari Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (3/6).

Tercatat sejak Juli 2018, perbankan sudah tidak mendapatkan jasa giro atas GWM yang ditempatkan perbankan di BI. Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 20/3/PBI/2018 tentang Giro Wajib Minimum, jasa giro masih ditetapkan dengan tingkat bunga sebesar nol persen.

Dia mengharapkan dukungan jasa giro tersebut dapat melengkapi stimulus pelonggaran likuiditas yang telah ditebar BI sebelumnya kepada industri perbankan.

Perry juga mengingatkan perbankan dapat memanfaatkan fasilitas repo Surat Berharga Negara (SBN) ke bank sentral. Hal itu dapat dimanfaatkan, sebelum perbankan memerlukan bantuan likuiditas dari pemerintah melalui bank jangkar atau bank peserta dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

“Perbankan punya SBN sekitar 886 triliun rupiah, dari nilai tersebut sekitar 520 triliun rupiah bisa direpokan ke BI untuk pendanaan relaksasi dunia usaha,” ujarnya.

 

Upaya Pemulihan

 


Dalam Rapat Dewan Gubernur BI pada periode 18-19 Mei 2020, Perry mengatakan BI akan terus memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dalam mendukung program pemulihan ekonomi nasional.

Sejak awal 2020, BI telah menginjeksi likuiditas ke pasar uang dan perbankan hingga mencapai 583,5 triliun rupiah, melalui pembelian SBN dari pasar sekunder, penyediaan likuiditas perbankan melalui transaksi term-repo Surat Berharga Negara, barter dengan perjanjian (swap) valas serta pemangkasan GWM rupiah.

Pelaksanaan kebijakan ini mencakup realisasi pelonggaran likuiditas (QE) selama periode Januari-April 2020 sebesar 415,8 triliun rupiah. Realisasi itu berasal pembelian SBN dari pasar sekunder 166,2 triliun rupiah, lelang Term Repo perbankan 160 triliun rupiah, Forex Swap 36,6 triliun rupiah dan penurunan GWM rupiah 53 triliun rupiah.

Kemudian, realisasi tambahan QE khusus pada Mei mencapai 167,7 triliun rupiah meliputi penurunan GWM rupiah 102 triliun rupiah, tidak mewajibkan tambahan Giro bagi yang tidak memenuhi RIM 15,8 triliun rupiah dan lelang Term Repo perbankan maupun Forex Swap 49,9 triliun rupiah.

 

mad/Ant/E-10

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment