Bangun Kreativitas untuk Ciptakan Inovasi | Koran Jakarta
Koran Jakarta | July 4 2020
No Comments
Social Designee

Bangun Kreativitas untuk Ciptakan Inovasi

Bangun Kreativitas untuk Ciptakan Inovasi

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kreativitas menjadi ujung tombak untuk memecahkan masalah dan melahirkan inovasi. Sayangnya, meskipun telah mamasuki era industri kreatif, penguasaan kreativitas warga masih tergolong minim. Social Designee, komunitas sosial berbasis kreativitas berupaya memberikan solusi terhadap masalah yang terjadi di masyarakat dengan metode kreatif.

Berdasarkan Global Creativily Index 2015, Indonesia berada pada peringkat 115 dari 139 dalam segi kreativitas. Kondisi tersebut dapat dikatakan memprihatikan lantaran Indonesia telah memasuki era industri kreatif. Kreativis bukanlah sekedar karya untuk memenuhi nilai sekolah maupun karya yang mengundang decak kagum.

Dalam arti yang lebih luas, kreativitas mampu memberikan solusi bakan inovasi pada kehidupan. “Minimnya kreativitas berakibat pada rendahnya kemampuan memecahkan masalah dan melahirkan inovasi,” ujar Ryan Sucipto, pendiri Komunitas Social Designee melalui aplikasi komunikasi, Kamis (20/3). Pendapat serupa dikemukakan para guru sekolah yang ditemui di kampung binaan. Mereka juga mengeluhkan minimnya tenaga kreatif di sejumlah sekolah. Akses merupakan salah satu persoalannya. Seperti anak-anak yang tinggal di sejumlah perkampungan di daerah Tangerang, umumnya, mereka belum bisa mendapatkan pendidikan kreatif yang layak di sekolahnya.

Selain itu, kehidupan ekonomi masyarakat yang belum memadai tidak mencukupi untuk membiaya kursus kreativitas. “Mayoritas pendidikan terfokus pada (pelajaran) matematika atau Bahasa Inggris,” ujar Ryan. Pada dasarnya, aktivitas kreatif dapat dilakukan dalam beberapa cara. Mural, menggambar, mewarnai, musik maupun permainan kreatif lainnya merupakan sejumlah kegiatan kreativitas yang dapat dilakukan oleh anak-anak. Kegiatan yang tergolong sederhana tersebut dapat mengasah motorik dan kognitif anak-anak selain pelajaran wajib di sekolahnya. Banyak Tantangan Meskipun, materi kreativitas tidak dikenal sebagai materi yang membuat kepala berkerut, selama mengajar di daerah Tangerang, Komunitas Social Designee tidak luput dari tantangan. Setiap kampung memiliki karakteristiknya masing-masing. Ada kampung yang dengan terbuka menerima pelajaran yang diberikan, namun ada kampung yang menutup diri.

“Kampung yang menutup diri, karena mereka masih asing dengan pengajar maupun materi yang diajarkannya,” ujar dia.

Untuk kampung yang menutup diri, Social Designee membutuhkan waktu lebih panjang untuk mendekatkan diri pada masyarakat. Berbeda dengan, kampung yang terbuka, mereka lebih aktif memberikan solusi kreatif terhadap permasalahan di kampungnya. Materi-materi kreativitas yang telah diberikan kerap digunakan untuk membantu tugas belajar di sekolah.

Anak-anak memiliki kreativitas dalam memberikan jawaban. Misalnya, mereka dapat memberikan jawaban dengan media gambar maupun prakarya. Cara tersebut merupakan indikator makin bervariasinya jawaban yang diiberikan anak-anak. Setelah empat tahun berdiri, Social Designee telah memiliki 20 kampung binaan yang melibatkan 1.500 relawan yang mayoritas anak muda.

Sedangkan para pesertanya, komunitas menyasar anak-anak usia 6-12 tahun di perkampungan yang masih kesulitan untuk mengakses edukasi kreativitas. Selain memberikan materi edukasi kreativitas, Ryan berharap komunitas ini menjadi wadah anak muda Indonesia untuk menyalurkan minat sosial secara positif

Para Relawan Wajib Ikut Pelatihan

Relawan merupakan tenaga penggerak komunitas Social Designee. Merekalah yang akan berhubungan langsung dengan masyarakat. Untuk itu, komunitas memberikan syarat tertentu untuk relawan yang ingin bergabung.

“Wajib mengkuti pelatihan kami,” ujar Ryan.

Pelatihan tersebut tidak lain supaya relawan dapat memberikan pelajaran sesuai metode yang digunakan selain itu pelatihan juga untuk membekali relawan agar dapat diterima masyarakat setempat.

Sehingga, pelatihan diberikan untuk memastikan para relawan bebas kepentingan (apolitis), berpikir terbuka terhadap keragaman, dapat berinteraksi dengan anak-anak serta perilakunya menjadi role model. Hingga saat ini, mayoritas relawan yang bergabung berada di rentang usia 17 sampai 22 tahun.

Mereka akan melakukan kegiatan kreativitas di kampung-kampung binaan di Tangerang. Selama kegiatan, dalam satu kampung kurang lebih terdapat 8 sampai 13 relawan.

“Kami pernah melakukan kunjungan serentak ke 9 kampung dengan melibatkan lebih 100 relawan dalam satu waktu,” ujar dia.

Dalam setiap kegiatan, komunitas akan mengikat kontrak selama sebulan terhadap relawan yang bergabung. Kontrak tersebut tidak lain untuk menjaga komitmen dari para relawan.

Lantaran, kegiatan perlu dilakukan secara menyeluruh mulai dari pelatihan hingga kegiatan di lapangan. Cara tersebut juga untuk melatif tanggung jawab para relawan.

Ryan tidak memungkiri bahwa relawan berasal dari berbagai latar belakang. Relawan yang tidak memenuhi komitmen pun pernah terjadi. Namun dengan, adanya briefing maupun pelatihan, cara tersebut dapat meminimalisir berbagai kejadian yang tidak diinginkan dalam kegiatan komunitas.

“Sejauh ini, relawan sangat koorperatif dan membantu pelaksanaan kegiatan Social Designee hingga bisa berkembang seperti saat ini,” ujar dia

Belajar Memilah Sampah dengan “Wilah Card Game”

Wilah! Kata tersebut langsung terlontar dari para peserta Wilah Card Game. Permainan boardgame tersebut sengaja diciptakan Komunitas Social Designee untuk pembelajaran pemilahan sampah. Pada permainan ini kartu dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu kartu sampah organik (warna hijau), kartu sampah plastik (warna orange), dan kartu sampah kertas (warna biru). Peserta yang mayoritas merupakan anak-anak begitu antusias. Ternyata melalui permainan inilah, menjadi cara yang mudah bagi anak-anak untuk memilah sampah. Hal tersebutlah yang dirasakan Merlyn Revelia, relawan Social Designee yang tergabung sebagai relawan pada kegiatan yang berlangsung November 2019. Ia tidak menyangka bahwa pengenalan pemilahan sampah melalui boardgame menjadi cara yang dapat dengan mudah dicerna anak-anak.

“Ternyata memang benar bahwa anak-anak lebih mudah memahami pelajaran jika dikemas dalam bentuk permainan,” ujar dia seperti dilansir dari portal indorelawan.org.

Merlyn yang menguasai permainan saat pembekalan menjadi relawan baru memahami bahwa permainan Wilah Card Game tersebut membutuhkan ketelitian, kecepatan, dan sinkronisasi antara kognitif, motorik dan juga ketrampilan verbal. Kadang, gerakan pemainan dapat dilakukan secara cepata, namun dalam waktu bersamaan dia lupa mengucapakan wilah sebagai bagian permainan. Selain pengalaman mengajar anak-anak di desa-desa wilayah Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, perjalanan menuju daerah sasaran merupakan pengalaman yang tidak terlupakan. Lantaran dalam setiap kegiatan, ada tiga desa yang disambangi. Saat itu, Merlyn berkunjung ke Pondok Jengkol (Legok), Kampung Bugel (Tigaraksa), dan Desa Ketapang (Mauk). Perjalanan yang tergolong jauh tersebut menjadi ajang sosialisasi antar relawan. Komunikasi terjalin selama perjalanan dari meeting point menuju kampung binaan.

“Obrolan memperkaya pengetahuan saya, meskipun kami lebih sering membahas hal-hal di luar kegiatan sebagai relawan,” ujar dia. Afifah Nurhaeni, relawan Social Designee memiliki pengalaman hampir serupa. Pengalaman menjadi relawan mengantarkannya bertemu dengan teman-teman relawan lainnya serta adik-adik peserta kegiatan.

“Saya dapat bertemu dengan relawan lainnya, bermain dengan anak-anak yang memiliki kepribadian yang berbeda-beda, belajar bersama dengan Tim Social Designee, dan masih banyak lagi,” ujar dia.

Melalui kegiataan sosial ini, dia baru memahami arti pentingnya memilah mengolah sampah. Melalui permainan Wilah Card Game, anak-anak tidak sekedar belajar memilah sampah melainkan juga belajar lebih kompetitif antar sesama agar tidak kalah saat bermain Wilah Card Game. din/S-2

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment