Antara Domba Garut dan Kuda Renggong Sumedang | Koran Jakarta
Koran Jakarta | July 4 2020
No Comments
Pelestarian Budaya

Antara Domba Garut dan Kuda Renggong Sumedang

Antara Domba Garut dan Kuda Renggong Sumedang

Foto : ist
A   A   A   Pengaturan Font

Seni budaya terkadang ikut melibatkan hewan peliharaan. Hewan yang sering ikut tampil dalam atraksi budaya biasanya domba, sapi, kerbau hingga kuda.

Kini atraksi budaya dengan menggunakan hewan peliharaan semakin jarang dipertontonkan. Sejumlah penggiat budaya yang masih eksis kini hanya tampil saat ada momen khusus atau diundang dalam even budaya berskala besar.  Seni budaya di Jawa Barat (Jabar) yang menggunakan hewan peliharaan dalam atraksinya dapat disaksikan di kawasan Garut dan Sumedang. Di Garut, tentu saja dengan dombanya dan Sumedang terkenal dengan kuda ronggeng. Domba, binatang identik dengan Kabupaten Garut. Hewan mengembik ini telah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi dan kebudayaan kota dengan julukan Swiss van Java ini.

Kulit domba menjadi bahan dari pembuatan jaket, tas, dan sepatu, selain kulit sapi. Dagingnya pun menjadi pilihan para penjual sate kambing. Bahkan restoran di Bandung pun harus mendatangkan langsung dari Garut. Bahkan ada domba dengan kriteria tertentu yang sengaja dipelihara untuk ditampilkan sebagai hiburan. Atau untuk diadu, siapa kuat menjadi juara dan terkenal seantero Garut. Domba Garut memang juara, baik dari sisi kekuatannya maupun kecantikan dan kesehatannya.

Pelestarian budaya dan tradisi lokal Sunda khususnya dari wilayah Garut dapat dilakukan melalui kegiatan festival seni ketangkasan dan kontes ternak domba Garut.

Seni adu domba di Garut merupakan bagian dari seni budaya yang melombakan ketangkasan dan kekuatan domba. Memang banyak daerah lain yang menjadikan adu domba sebagai bagian dari seni budayanya, namun tetap saja Garut menjadi panutannya. Dinas Kebudayaan Jabar mencatat tradisi seni ketangkasan domba Garut ini berawal dari masa pemerintahan Bupati Suryakanta Legawa sekitar 1815-1829. Ia sering berkunjung ke sejawat perguruannya bernama Haji Saleh yang mempunyai banyak domba. Sebagai sesama pemilik dan pecinta hewan domba, ia meminta salah satu domba sahabatnya yang dinamai si Lenjang untuk dikawinkan dengan domba yang ada di Pendopo Kabupaten yang bernama si Dewa. Lenjang dan Dewa beranak si Toblo, yang kemudian beranakpinak menghasilkan keturunan domba Garut yang dikhususkan sebagai hewan pada pentas seni adu tangkas yang berbeda dengan hewan domestik domba umumnya.

Mencari Bibit Domba Kuat Adu ketangkasan domba Garut ini menjadi salah satu pengembangan wisata karena banyak menyedot perhatian masyarakat. Penonton dan pesertanya pun bukan hanya dari Garut. Banyak pemilik domba aduan dari daerah Bandung, Tasik bahkan Jakarta. Setiap ada pagelaran laga adu domba, hampir seluruh peternak dan kolektor domba aduan akan berkumpul. Sebab selain untuk menguji kekuatan domba aduan dan menjadi jawara domba adu, even ini menjadi bagian dari upaya untuk melestarikan budaya dan mengembangkan domba aduan khas Garut. Domba aduan ini secara sik memang terlihat berbeda.

Pada umumnya mempunyai sik yang kekar dengan tanduk panjang melengkung. Warna bulunya tertata rapi baik putih, hitam atau perpaduan. Saat mengikuti kontes aduan, penampilan juga tidak boleh dilupakan. Domba jagoan dihias seperti halnya ratu, dengan kalung yang mentereng, mayoritas berwarna merah. Tidak lupa dengan kalung bunga dan sesajian oleh pawang.

Sementara musik tradisional mengiringi pagelaran adu domba ini. Domba yang dipertandingkan tentunya harus memiliki kriteria yang sama, yakni dari bobot badan yang harus sama. Misalnya kategori  kelas di atas 75 kilogram atau masuk kelas A tidak boleh diadu dengan kelas di bawahnya. Juri atau panitia yang akan menentukan masing-masing lawan. Saat diadu, masing-masing domba akan dibawa pemiliknya yang biasanya mengenakan baju adat pangsi, serba hitam dan topi kulit. Mereka akan masuk arena dan mempertemukan domba yang akan diadu. Saat kedua domba sudah siap, pemilik akan melepaskan. Domba akan mengambil ancang-ancang, mundur beberapa meter. Lalu keduanya akan berlari untuk mengadu kekerasan tanduknya. Saat dua kepala beradu, suara tanduk akan terdengar cukup keras. Badan kedua domba terlihat seperti terbang. Kaki bagian belakang akan terangkat saat kedua kepala saling berbenturan. Domba yang masih kuat berdiri akan dinyatakan sebagai pemenangnya. Tetapi terkadang domba dinyatakan kalah jika lari menghindar atau dikejar domba lainnya.

Menjadi juara dalam adu domba akan menaikan pamor sang domba dan peternaknya. Bahkan nilai jual kambing aduan ini bisa mencapai puluhan juta rupiah per ekornya. Selain sebagai wahana wisata, laga domba Garut sebagai upaya mencari bibit domba yang memiliki nilai jual tinggi. Jadi tidak hanya mencari hadiah dari lomba ketangkasan adu domba ini.

Pamor yang menjadi tujuan utamanya. Bagi anak-anak, bermain domba pun bisa. Domba bisa menjadi penarik dokar atau kereta namun ukurannya mini.  Disebut sebagai dokar unyil karena dokar ini jauh lebih kecil dari dokar atau delman yang ditarik kuda. 

Kontes adu domba ini selalu menjadi bagian dari sebuah pesta ternak atau yang dikenal di wilayah Jabar dengan sebutan pesta patok. Dikatakan demikian karena akan banyak patok atau kayu bambu yang ditanam, untuk mengikat hewan atau ternak yang hendak dipamerkan. 

Arak-arakan dengan Kuda Renggong

Kuda Renggong merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang berasal dari Sumedang. Sering juga disebut ronggeng. Yang berarti ketangkasan kuda berjalan dan menari sesuai irama musik terutama kendang. Kini sudah diganti dengan rekaman musik tradisional. Kuda Renggong muncul pertama kali dari desa Cikurubuk, Kecamatan Buah Dua, Kabupaten Sumedang.

Kuda Renggong mengalami perkembangan cukup baik, sehingga tersebar ke berbagai desa di luar Kecamatan Buah Dua bahkan hingga keluar Sumedang. Kuda Renggong, saat tampil akan didandani cantik. Demikian pula dengan penunggangnya. Kuda lokal yang tidak terlalu besar akan dihias dengan kalung dan mahkota warna-warni.

Apalagi saat ada festival Kuda Renggong yang diadakan setiap tahun di Sumedang. Jika di pedesaan, pertunjukan Kuda Renggong dilaksanakan pada acara hajatan sunatan atau penganten. Bocah sunat akan didandani dengan pakaian khas Sunda, seperti mengenakan bendo bagi laki-laki, atau dandanan ala putri kerajaan bagi penunggang perempuan.

Lalu diarak keliling desa. Sementara saat festival, para peserta akan datang lengkap dengan rombongan masing-masing yang mewakili desa atau kecamatan se-Kabupaten Sumedang. Dari Kantor Bupati puluhan kuda renggong dilepas untuk mengikuti arak-arakan. Peserta akan dinilai untuk memilih juaranya. Selain pawai, kadang juga ditampilkan silat kuda. Kuda akan diajak bertinju dengan seorang pawang. Atraksi ini semakin menarik pengunjung. tgh/R-1

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment