Koran Jakarta | November 19 2019
No Comments

Yesus Membebaskan Manusia dengan Darah-Nya

Yesus Membebaskan Manusia dengan Darah-Nya
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Pertemuan yangTerlupakan
Penulis : Pdt Abraham Park
Penerbit : Yayasan Damai Sejahtera Utama
Cetakan : 2018
Tebal : 473 halaman
ISBN : 978–602-74705-8-3

Dalam Alkitab dinyatakan manusia diciptakan menu­rut gambar Allah. Manusia secara langsung bergaul dengan-Nya, sehingga memperoleh hidup kekal. Tetapi, statusnya telah menjadi makhluk yang tidak bisa mengelak dari kematian karena pelanggaran Adam. Manusia menjadi berada di ba­wah kuasa iblis.

Penebusan Yesus Kristus untuk me­nyelamatkan manusia. Secara definitif, penebusan adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk menyelamatkan seseorang dengan membayar suatu harga. Penebusan adalah pemulih­an hak kepemilikan kebebasan dari penindasan dengan membayar suatu harga yang layak.

Yesus Kristus telah membayar su­atu harga bagi semua orang berdosa, sehingga dapat diselamatkan dan menjadi anak-anak Allah dalam Kris­tus. Predestinasi ini merupakan takdir mutlak yang telah ditetapkan sebelum penciptaan. Harga yang dibayarkan adalah darah Yesus Kristus. Harga un­tuk menebus manusia dari dosa dan maut adalah darah Yesus yang ber­harga. Manusia telah ditebus bukan dengan emas atau perak, tetapi oleh darah-Nya yang mahal (hlm 20).

Orang yang telah ditebus men­jadi milik Yesus karena Yesus telah membelinya dengan memberikan darah-Nya yang berharga sebagai ba­yarannya. Oleh karena itu, fokus dari penyelenggaraan dalam sejarah pen­ebusan adalah penyelamatan umat manusia. Dia telah jatuh ke dalam dosa dan Yesus berdiri di pusat peker­jaan tersebut. Dia adalah satu-satunya penyelamat sejati untuk pilihan-Nya.

Sayangnya, tidak semua orang me­nyadari arti penting peristiwa pen­ebusan tersebut. Salah satunya Petrus. Dalam Matius 16:22 dikabarkan, dia berkata kepada Yesus, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Pada waktu itu, sambil menatap ke Petrus, Yesus menegurnya dengan tegas, “Enyahlah iblis. Engkau su­atu batu sandungan bagi-Ku. Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (hlm 25).

Selama 33 tahun hidup-Nya, sejak lahir ke dunia ini dengan mengenakan tubuh manusia, merupakan pende­ritaan berkelanjutan yang melelahkan karena Dia harus berjalan dengan memikul segala dosa manusia. Puncak penderitaan-Nya adalah pekerjaan penebusan di atas kayu salib. Di ming­gu terakhir dari 33 tahun kehidupan-Nya yang pendek, semua kekuatan jahat menggabungkan tenaga untuk menyerang-Nya.

Dia dianiaya dan disiksa melam­paui tenaga-Nya. Di puncak pende­ritaan, Dia minta ketiga murid berdoa dengan berjaga-jaga bersama-Nya. Akan tetapi, tiga murid ini letih dan tertidur sehingga Yesus berdoa se­orang diri. Dia merebahkan diri ke tanah, berlutut, bersujud dengan air mata dan suara tangisan lantang hingga menggema ke seluruh Taman Getsemani.

Walaupun dipaku pada kayu salib dengan kejam dan mengenaskan di bukit Golgota, Dia tetap mendoakan pengampunan bagi orang-orang yang sedang memakukan paku yang me­nembus tubuh-Nya dan melontarkan kata-kata sindiran. Tindakan Yesus yang demikian adalah inti ajaran-Nya sehari-hari.

Dalam Matius 5: 44, dengan tegas Yesus berpesan, ”Tetapi aku berkata kepadamu: Kasihanilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Yesus meng­ajarkan murid-murid-Nya untuk mengampuni saudara yang berbuat dosa.

Karena jasa darah yang telah dicurahkan Yesus, manusia yang dulu jauh sudah menjadi dekat kepada Allah. Manusia yang dulu berstatus budak yang terikat oleh maut sepan­jang hidupnya kini “hidup kekal” oleh karena karunia penebusan. Diresensi Yudi Prayitno, Alumnus Wearnes Education Centre, Malang

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment