Koran Jakarta | January 21 2018
No Comments

Yang Tersisa dari “Jokowi Mantu”

Yang Tersisa dari “Jokowi Mantu”

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Manajemen pernikahan adalah manajemen yang paling rumit bin sulit. Semua jenis dan tingkat sosial pernikahan. Bahkan yang paling sederhana pun tetap repot. Apalagi jika yang “punya gawe” adalah Jokowi yang presiden, yang menikahkan satu-satunya putrinya Kahiyang dengan Bobby, Rabu 08 November 2017.

Dengan 8000 tamu yang semua penting— ketua atau pimpinan lembaga Negara,atau juga ketua partai, atau pimpinan daerah, dan segala yang paling top, segala keruwetan mencapai puncaknya. Bahkan soal kendaraan parkir di mana, bisa menambah pusing.

Terutama para tamu umdangan juga disertai ajudan dan atau pengawal. Dalam kondisi dan suasana seperti itu, muncul puluhan ribu cerita, atau ratusan ribu cerita yang terkait.

Baik yang diundang dan datang, ataupun yang diundang tapi tak datang, atau yang tak diundang tapi datang, bahkan dari yang tak diundang dan tak datang. Dari berbagai jenis undangan, saya mengambil yang dimasukkan kategori selebritas.

Yang ini ramai di medsos, dan mereka memang nama-nama yang selama ini bersliweran di media, terutama tv. Namanama Raisa, Tukul, Ruben Onsu, Sarwendah termasuk di antaranya. Anang dan istrinya Ashanty termasuk yang menggambarkan suasana:

ikut antre selama 2,5 jam, akhirnya sempat selfie dengan pengantin. Ada yang diundang namun tak bisa datang. Sudjiwo Tejo termasuk yang menulis di twitternya minta maaf tak bisa datang karena ada cara yang sudah didaftar tiga bulan sebelumnya.

Mbah Jiwo diwakili oleh anak dan istrinya. Ada juga Iis Dahlia, penyanyi dangdut yang tak bisa datang. Nah di sini cerita dimulai, karena Iis menyertakan alasan ketidakdatangannya yang menimbulkan reaksi dari warganet.

Iis, 45 tahun, kurang lebihnya tak bisa datang karena : sibuk syuting, enggan berada di kerumunan. “Saya kalau disuruh ngantre-ngantre, apalagi namanya Presiden yang datang pasti banyak. Mikiran yang ngantre aja sudah senewen.”

Lalu, kemudian juga disinggung Solo kota kecil, hotel harus berebut. Sampai di sini, seperti yang biasa terjadi di medsos, warganet langsung nyamber. Langsung memberi komentar. Ada yang memrotes: Solo bukan kota kecil. Atau jenis :

biar kecil Solo melahirkan pemimpin, dan menjadi presiden. Ada pula yang membandingkan dengan Indramayu (tempat Iis di- lahirkan di desa Bongos). Dan terus berkembang : Iis tak mau keluar uang untuk perjalanan. Maunya diundang sebagai penyanyi.

Dan… Dan seterusnya, yang lebih tajam yang kadang “menyakitkan”. Dan patut disesalkan, karena sebenarnya pertikaian seperti ini tak perlu terjadi. Silang pendapat, saling “mengatai” satu sama lain, yang… sebelumnya tak saling kenal. Tak saling tahu. Mungkin sekali ini pertama kali saling berkomunikasi.

Tapi bisa saling… menyatakan benci. Atau meledek. Aneh sebenarnya, tapi sekarang ini dengan medsos semua bisa terjadi. Baik dengan mengomentari peristiwa besar—seperti lakon “Jokowi Mantu”, atau hal-hal yang sederhana.

Seorang ibu yang menasihati anaknya soal pacaran, bisa disambar orang lain dengan komentar pedas. Yang dijawab atau tidak oleh yang bersangkutan, tetap saja melebar, karena orang tak bersangkutan langsung bisa terlibat dalam pertengkaran

. Dalam hal ini mungkin sekali Iis Dahlia mulia menahan diri —kecuali kalau memang ini yang dimaui, dan menikmati dinamika yang ada. Juga ke warganet yang lain— namun mereka ini kan bukan selebritas dan tak menarik diceritakan, meskipun selalu saja bisa turut bicara, dan ramai karenanya.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment