Koran Jakarta | November 23 2017
No Comments

Yang Lebih Mengerikan dari 1 Ton Sabu

Yang Lebih Mengerikan dari 1 Ton Sabu

Foto : koran jakarta/ones
A   A   A   Pengaturan Font

Sungguh mengerikan dan menakutkan. Di Hari Antinarkoba (Kamis,13/7/17) terungkap tertangkapnya gundukan sabu seberat satu ton, seribu kilogram, di sebuah hotel di daerah Banten.

Kalau dirupiahkan itu artinya mencapai 1,5 triliun rupiah. Angka itu tak berarti apa-apa selain jumlah materi, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi bakal bergantung, bakal hancur hidupnya.

Karena menjadi korban narkotika diibaratkan “tak ada jalan mundur”—untuk menggambarkan betapa keras cengkeraman zat adiktif ini. Sungguh membanggakan dan memberikan harapan.

Para polisi dalam jajaran Polda Metro Jaya berhasil melakukan penggerebekan setelah pengintaian selama empat bulan. Dua ditangkap, satu ditembak mati, dan masih ada yang dikejar. Penyelundup jahat ini konon berasal dari Taiwan, dan memakai cara menyelundup yang canggih.

Melalui beberapa negara, melalui lautan yang luas, berpindah-pindah angkutan yang tak terduga. Inilah tantangan berat dan besar.

Taiwan bukan satu-satunya penyelundup karena orang yang berasal dari Malaysia, Tiongkok, Filipina, atau bisa mana saja. Bisnis yang luar biasa menggiurkan dengan pembeli yang haus dan rakus.

Sebagai catatan, dua dari seratus pelajar dan mahasiswa adalah pemakai aktif. Kita juga mendengar deretan nama artis/ pesohor/ selebritas/ selebgram/ selebtwit atau nama yang didengar ribuan fans, terseret kasus yang sama.

Begitu sering kita mendengar kaitan: sabu-kristal-bong-pipa-beramai-ramai, dengan segala efek buruk dari segi kesehatan, sosial,psikologis. Namun, semua gambaran buruk, termasuk masuk penjara, termasuk diberitakan dengan keras, tak membuat jera.

Jerat narkotika, seperti jenis yang lain, tetap menemukan mangsa. Yang terbayang lebih ngeri dari masuknya satu ton sabu adalah kemungkinan besar bisa dan masih ada “10 ton yang lain”, atau jumlah yang tidak mampu diperkirakan. Dan itu bukan satu dua kali, melainkan sebanyak kemungkinan yang ada.

Akan terus ada sabu yang diselundupkan—betapa pun sukses keamanan mengamankan. Dalam hal ini negara kita bukan satu-satunya yang dihancurkan melalui dan oleh narkotika.

Hanya saja, pantai yang demikian panjang, beberapa puluh “pelabuhan tikus” memungkinkan terjadinya penyelundupan. Juga tawaran uang yang sangat-sangat besar, dibandingkan bisnis yang lain. Jaringan ini tali-temali dengan banyak simpul mati sehingga tak pernah terungkap tuntas.

Jaringan ini mati, ada lagi yang lain. Yang sudah dalam penjara bisa ikut main. Yang berpangkat, yang memiliki kuasa, yang mengadili, bisa terlibat karenanya.

Saya mengenal baik beberapa artis sohor yang terlibat ini, yang bukan hanya hancur karier, rumah tangga dengan cara nista, melainkan juga “ketidakmampuan” memerdekakan diri.

Karena lingkungan yang membelit tak melepaskan. Ada kesia-siaan dalam perlawanan. Tidak sepenuhnya benar. Para polisi yang menggerebek membuktikan tekad besar, semangat memerangi kejahatan, dan juga mengabaikan kemungkinan adanya peredaran yang mencapai triliunan rupiah saat itu.

Ini patut mendapat apresiasi tinggi. Juga meneguhkan bahwa pemerintah, juga diharapkan masyarakat, tetap menyikat habis narkotika.

Ini letikan yang sangat berharga di tengah gempuran berita-berita suram mengenai merajalelanya selundupan yang mencapai ton—ketika dalam jumlah gram pun cukup untuk memenjarakan dan menyengsarakan bukan hanya dirinya, melainkan seluruh keluarga dan kerabatnya.

Menyengsarakan dalam arti sebenarnya—nama, harta, dan harapan bisa hidup normal, bisa membebani dalam jangka waktu panjang. Sajak kecil Jeihan Sukmantoro—sekarang lebih dikenang sebagai pelukis sufi, saat munculnya “puisi mbeling”, lirih berucap:

narkoba/no… adalah pertanda perlawanan habis, tanpa kompromi. Suara itu terasa kecil, tapi jangan dilupakan.

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment