Image Image Image Image Image Image Image Image Image Image

Koran Jakarta | 9 February 2016

Scroll to top

Top



Wawancara

“Negara yang Kuat yang Bisa Bertahan di MEA”

“Negara yang Kuat yang Bisa Bertahan di MEA”
Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) resmi berlaku pada tahun ini. Tidak ada lagi tempat bagi setiap bentuk keraguan. MEA dianggap sebagai sebuah keniscayaan. Benarkah bahwa MEA hanya tentang siap atau tidak siap, ataukah sebenarnya ada pilihan lain yang terbuka untuk terus dinegosiasikan? Berikut tanggapan Direktur Mubyarto Institute, Awan Santosa tentang MEA.

Menurut Anda MEA itu sebenarnya apa?

Saya melihat MEA ini masih terbuka untuk dinegosiasikan bersama. Maka pertanyaannya sesungguhnya bukan hanya soal siap tidak siap tapi apa yang paling menguntungkan untuk kita di ASEAN? Selain itu, kita juga tidak boleh lupa atas peristiwa krisis moneter 1997/1998 yang kemudian membuat perusahaan multinasional mengambil alih lebih banyak sumber keuntungan di ASEAN, terutama di Indonesia. bahkan, Indonesia dipaksa menandatangani letter of intens oleh Dana Moneter Internasional pada 15 Januari 1998 sementara sebulan sebelumnya, tepatnya 15 Desember 1997 dalam KTT ASEAN telah disusun Visi ASEAN 2020, yang mengarah ke pasar bebas dan liberalisasi ekonomi ASEAN. Apakah ini semata-mata kebetulan?

Jadi menurut Anda, MEA itu sudah direncanakan sejak krisis moneter 1997/1998?

Mari kita cermati dokumen studi Bank Pembangunan Asia (ADB) tahun 2013 berjudul The Road to ASEAN Financial Integration. Desain integrasi keuangan ASEAN dalam studi tersebut adalah melalui liberalisasi keuangan domestik yang digerakkan oleh pasar. Bahkan dalam studinya tahun 2014 ADB sudah merancang ASEAN 2030: Toward a Borderless Economic Community. Pertanyaannya adalah mengapa ADB, dan apa hubungan ADB dengan MEA? Itu baru satu kebetulan, belum tentang proyek liberalisasi World Trade Organization (WTO) yang sempat stagnan akan dibangkitkan lagi melalui MEA. Seperti halnya WTO, MEA akan menjadikan ASEAN sebagai rule-based organization yang mengikat anggotanya. Mau tidak mau negara ASEAN wajib menjalankan basis produksi dan pasar tunggal, persaingan terbuka, serta integrasi dengan perekonomian global. Tidak boleh lagi ada pembedaan antara produk asing dengan produk dalam negeri ASEAN.


Maksudnya bagaimana?

MEA telah dibangun oleh argumentasi tidak masuk akal, yakni integrasi ekonomi melalui persaingan terbuka yang digerakkan pasar. Padahal bagaimana mungkin persatuan dibangun di atas kalah-menang? Pasar bebas memungkinkan pemenang mengambil semua bagian, dan tentu saja yang kuatlah yang bisa bertahan. Artinya, integrasi ini kiranya lebih masuk akal bagi kepentingan perusahaan transnasional yang beroperasi dalam rantai pasok skala global. Bukan kepentingan ASEAN. eko s putra/AR-2