Koran Jakarta | June 27 2019
No Comments

Yang Hobi Hobbit

Yang Hobi Hobbit

Foto : koran jakarta/aloysius widiyatmaka
A   A   A   Pengaturan Font

Sukses penayangan film The Hobbit dan The Lord of The Rings banyak menginspirasi kreator wisata untuk membuat replika rumah hobbit. Pengelola beberapa destinasi wisata di Yogyakarta, misalnya, banyak membangun tiruan rumah orang pendek tersebut.

Gunung Merapi termasuk salah satu volcano teraktif di dunia dan sering meletus. Bahkan, letusannya kerap meluluhlantakkan kawasan sekitar. Saat ini pun gunung yang terus aktif tersebut dalam status waspada. Namun begitu, masyarakat pencinta wisata, tetap saja membangun destinasi di kaki gunung tersebut.

“Di sini sebenarnya kawasan berbahaya,” kata pengawas pembangunan destinasi “The Lost World Garden,” bernama Pendek. Ini masih kawasan berbahaya karena mungkin hanya tiga atau empat kilometer dari Gunung Merapi. Taman tersebut belum seluruhnya rampung. Namun, ada satu rumah Hobbit telah selesai dan satu lagi dalam proses finishing saat Koran Jakarta berkunjung pada 29/12/18 lalu.

Untuk bisa sampai lokasi ini, turis dari Jakarta dapat naik pesawat Garuda Indonesia atau Sriwijaya Air dari Bandara Soekarno- Hatta menuju Bandara Adisucipto Yogyakarta. Dari Bandara dapat menyewa taksi menuju Pakem atau lewat Jangkang, Ngemplak, dilanjut ke Morolejar. Dari sini tak jauh lagi. Perjalanan mobil dari Bandara Adisucipto sekitar satu jam.

Bunga-bunga sudah ditanam di The Lost World Garden, tetapi belum mekar betul. Para pekerja juga terus membenahi tempat parkir serta pembangunan toilet. Ketika itu, Pendek menginformasikan bahwa “The Lost World Garden” ini dibuka pada 1 Januari 2019. Pembangunan tujuan wisata tersebut 100 persen patungan warga.

Kawasan taman 1,5 hektare itu hasil gotong royong 115 warga. Tiap orang setor satu juta rupiah. “Sebanyak 20 persen untuk pemilik lahan,” kata Pendek. Tak jauh dari lokasi ini ada destinasi “Stonehenge” yang dibangun 77 orang. Menurut Pendek, tak ada bantuan dari pemerintah Kabupaten Sleman atau dinas pariwisata.

Hobbit House

Selain di “The Lost World Garden” tersebut, terdapat destinasi rumah hobbit lagi di kaki Gunung Merapi yang masuk kawasan wisata “Lost World”. Inilah yang disebut “Hobbit House”. Kompleks ini sudah menjadi destinasi, jadi “kumpulan” rumah Hobbit dan berada tepat di depan kawasan wisata “Lost World Castle.”

Di kawasan “Hobbit House” rumahnya dibuat dalam berbagai bentuk, sehingga masyarakat pengunjung bisa mengabadikan kedatangan dalam aneka foto dan posisi. Rumahnya ada yang model “asli” milik Bilbo Baggins atau dalam bentuk “jamur”. Untuk masuk ke “Hobbit House” pengunjung harus membayar 10.000 rupiah.

Tujuan wisata ini sudah siap menyambut pengunjung, termasuk telah tersedia toilet, tempat beristirahat, warung-warung, atau berbagai mainan anak seperti ayunan. Tempat parkir juga cukup luas. Bahkan warung-warung makan sangat banyak, tak hanya di dalam kompleks rumah Hobbit, tapi juga di luar kompleks, dekat tempat parkir. Jadi pengunjung ditanggung tak akan kelaparan.

Kisah bangsa Hobbit digambarkan bertubuh pendek dan tingginya hanya sekitar 60 sampai 120 sentimeter. Bangsa ini berasal dari novel karya John Ronald Reuel Tolkien yang lahir di Afrika Selatan, 3 Januari 1892, tapi tinggal di Inggris. Dia menulis novel The Hobbit (1937), dilanjutkan The Lord of the Rings (1954–1955). Perkampungan Hobbit yang dipakai untuk syuting film dengan dua judul tersebut berada di Selandia Baru.

Banyak daerah di Yogyakarta telah lebih dulu membangun tujuan wisata rumah Hobbit, di antaranya di “Seribu Batu Songgo Langit,” yang berada di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Sebelum ada rumah Hobbit, daerah Dlingo ini memiliki kawasan hutan pinus yang juga menjadi destinasi wisata tersendiri.

Baik di Gunung Merapi maupun kawasan Dlingo udaranya sejuk. Kawasannya masih sejuk karena banyak pepohonan dan berada di perbukitan, sehingga lebih adem. Nah, para pengagum pengagum rumah Hobbit silakan memilih. Ada banyak destinasi Hobbit di Yogyakarta. wid/G-1

Ngopi Dulu di Kaki Merapi

Belakangan, ngopi menjadi tren anak-anak milenial. Di mana-mana tumbuh tempat ngopi. Ini termasuk di tempat yang jauh dari keramaian. Bahkan ada tempat ngopi bukan hanya jauh dari keramaian, tetapi juga jauh dari mana-mana seperti kafe Merapi. Kafe “Kopi Merapi” ini berada hanya sekitar 3 atau 4 kilometer dari Gunung Merapi. Kafe “Kopi Merapi” tersebut bisa menjadi tempat istirahat sebelum melanjutkan wisata di kawasan “Lost World”.

Untuk ngopi di sini sebaiknya agak pagi agar dapat menikmati keindahan pemandangan puncak Merapi, dan berharaplah tidak berkabut tentu saja. Sebab andai berkabut, menjadi “derita lu” karena tidak dapat menikmati keindahan berkas-berkas Merapi sebagai akibat “luka” bekas letusan.

Udara yang sejuk, pas benar untuk menyerutup kopi diselingi semilir angin pegunungan. Kalau lagi gerimis, asyik sekali. Minum kopi di sini bisa ditemani singkong goreng, tempe goreng, atau menu-menu lain seperti kacang rebus dan sosis goreng. Ada juga susu murni.

Pada hari-hari libur kafe yang berada di tengah hutan ini sangat ramai seperti pada libur Natal dan Tahun Baru belum lama ini. Para pengunjung umumnya datang berombongan tak hanya dari Yogyakarta. “Untuk memperoleh sensasi saja. Saya ngopi sih ngopi, tapi tak mencandu. Saya ke sini yang utama menikmati sensasinya di kaki Gunung Merapi, bukan ngopinya. Tempat ini unik karena berada di tengah hutan jauh dari keramaian,” ujar Tantri dari Semarang yang datang ke sini karena membaca blog.

Memang, suasananya cukup unik. Tak ada bangunan atau pedagang lain di tempat ini. Kopi merapi juga menjadi tujuan anak-anak muda untuk kongko. Mereka naik sepeda motor dari kawasan Magelang, Yogyakarta, atau Klaten. Namun, banyak juga mobil dengan nomor polisi B.

Kopi merapi menyajikan kopi yang ditanam di lereng merapi (namanya juga kopi merapi). Menurut Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Heru S, kopi merapi rasanya memiliki keunikan tersendiri. Menurut dia, keunikan rasa itu berasal dari kondisi tanah setempat yang penuh pelapukan abu vulkanik dari Gunung Merapi.

Saat Bupati Sleman, Sri Purnomo, berkunjung ke Finlandia, membawa kopi merapi dan mendapat tanggapan positif dari mereka yang merasakan. Kopi merapi ada jenis arabika dan robusta. Banyak petani lokal mulai membudidayakan kopi merapi karena dianggap prospektif.

wid/G-1

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment