WNI Baru Pulang dari Suriah Harus Dimonitor | Koran Jakarta
Koran Jakarta | February 20 2020
No Comments
Antisipasi Terorisme - Masyarakat Diminta Ikut Aktif Deteksi Teroris

WNI Baru Pulang dari Suriah Harus Dimonitor

WNI Baru Pulang dari Suriah Harus Dimonitor

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font
WNI yang pulang dari Suriah dikhawatirkan ikut terkontaminasi paham ISIS. Pelibatan publik deteksi teroris akan efektif dalam mengurangi aksi-aksi radikal.

 

JAKARTA - Pemerintah daerah diminta untuk mendata dan memonitor warga negara Indonesia (WNI) yang baru pulang dari Suriah. Bahkan, kepala daerah diminta untuk ikut menjemput WNI yang dideportasi dari negara yang tengah diamuk perang tersebut.


Hal itu bertujuan mengantisipasi atau menangkal penyebaran paham kelompok radikal jaringan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).


Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, mengatakan hal tersebut di Jakarta, Senin (3/7). Menurut Tjahjo, perlakuan kepada warga yang baru pulang dari Suriah sama seperti saat pemerintah menangani pengikut Gafatar.


“Sebagaimana kasus Gafatar dulu saat akan dipulangkan ke daerah dan dikumpulkan di Cibubur, Kemendagri mengundang kepala daerah mulai gubernur, bupati, dan walikota menjemput warganya yang masuk Gafatar yang sudah hijrah ke Kalimantan. Saat akan dikembalikan kami minta untuk menjemputnya,” tutur dia.


Dengan demikian, lanjut Tjahjo, para kepala daerah atau jajaran pemerintahan di daerah bisa mengetahui keberadaan warganya itu akan tinggal dimana setelah dikembalikan ke tempat asalnya. Pemda pun akan lebih gampang memonitor.


“Harus diakui, warga yang baru pulang dari Suriah, dikhawatirkan ikut terkontaminasi paham ISIS atau ikut kelompok radikal tersebut.”


Mendagri mengemukakan hal itu terkait dengan maraknya aksi terorisme, terutama terhadap aparat kepolisian, yang dilakukan oleh jaringan maupun simpatisan ISIS di Indonesia belakangan ini. Sepanjang 2017, telah terjadi lima kali penyerangan terhadap polisi.


Terkait dengan permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) tentang data WNI yang akan dideportasi ke Indonesia, Tjahjo mengatakan pihaknya segera menindaklanjuti. Kementeriannya akan menyurati para kepala daerah untuk menindaklanjuti permintaan BNPT itu.


“Kemendagri akan meminta kepada kepala daerah atau jajaran pemda seperti Kesbangpol dapat menjemputnya di Jakarta, setelah kembali ikut memonitor, mendata warga tersebut sekembalinya dari Suriah.

Pemda mengkoordinasikan dengan jajaran Forkompimda setempat. Segera Kemendagri akan mengirim radiogram ke kepala daerah,” papar dia.


Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto meminta masyarakat untuk ikut aktif dalam mendeteksi keberadaan teroris.


“Masyarakat yang tahu tetangganya mungkin ada sesuatu yang patut dicurigai, segera lapor. Ini semua harus kita galakkan,” kata Wiranto, Senin.


Mantan Panglima TNI itu menilai pelibatan publik dalam sistem deteksi teroris ini akan efektif dalam mengurangi aksi-aksi radikal di dalam negeri.

“Mereka yang mengetahui lingkungan. Oleh karena itu, kita harus melibatkan masyarakat dengan cara memberdayakan mereka untuk masuk ke dalam jaringan early warning system,” kata Wiranto.


Selain menggandeng masyarakat umum, lanjut dia, ada beberapa langkah lain yang dapat dicanangkan pemerintah sebagai upaya untuk menanggulangi penyebaran ideologi radikal, di antaranya,

kembali menghidupkan ajaran-ajaran Pancasila serta penerapan kegiatan Bela Negara yang sedang dikaji Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas).


Empat Saksi


Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto, mengungkapkan dari hasil pemeriksaan Densus 88 Antiteror diketahui Mulyadi, tersangka penikam dua anggota Brimob, selalu mengatakan ISIS dan khilafah itu baik.

Mulyadi akhirnya tewas tertembak setelah menikam dua polisi di Masjid Falatehan, Jakarta, Jumat (30/6) malam.


Menurut Setyo, dalam kasus penikaman terhadap anggota Brimob tersebut telah diperiksa empat orang saksi.

“Yaitu kakak kandungnya (Mulyadi), kemudian kakak iparnya, kemudian satu orang teman SMA-nya, yang setelah lima tahun, baru ketemu. Kemudian satu orang teman berdagang yang tinggal di Bogor,” kata Setyo.


Dari keterangan keempat orang tersebut, diketahui Mulyadi selalu terlihat asyik dengan telepon genggamnya.

“Setiap ketemu dengan temannya atau kakaknya, dia selalu mengatakan bahwa ISIS itu baik, khilafah itu baik, dan dia terus menyampaikan itu. Kelihatan dia sudah terkontaminasi pemikirannya dengan media sosial tentang konten-konten radikal,” ujar Setyo.


Dia menjelaskan polisi kini terus menjadi sasaran serangan teroris karena mereka ingin membalas dendam setelah kegiatannya selalu dihambat Polri. ags/eko/WP

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment