WHO Belum Yakin Kemanjuran Vaksin Sputnik V Produksi Russia | Koran Jakarta
Koran Jakarta | September 19 2020
No Comments
Persaingan Global

WHO Belum Yakin Kemanjuran Vaksin Sputnik V Produksi Russia

WHO Belum Yakin Kemanjuran Vaksin Sputnik V Produksi Russia

Foto : HANDOUT / RUSSIAN DIRECT INVESTMENT FUND / AFP
VAKSIN SPUTNIK V I Seorang perawat Filipina memperlihatkan vaksin virus Covid-19, Sputnik V, yang dikembangkan oleh Gamaleya Research Institute of Epidemiology and Microbiology, Russia, beberapa waktu lalu. Presiden Filipina, Rodrigo Duterte telah menyatakan kesediannya menjadi “kelinci percobaan” uji coba kemanjuran vaksin Sputnik V ini.
A   A   A   Pengaturan Font

JENEWA – Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organiza­tion (WHO) belum bisa memberi jaminan kemanjuran vaksin virus Covid-19, Sputnik V, yang diproduk­si Russia. Menurut WHO, vaksin Sputnik V itu masih harus melewati tahap prakualifikasi.

“Kami berhubungan erat dengan otoritas kesehatan Russia dan dis­kusi sedang berlangsung sehubungan dengan kemungkinan prakuali­fikasi vaksin WHO. Tetapi sekali lagi, prakualifikasi vaksin apa pun mencakup tinjauan dan penilaian yang cermat dari semua data ke­amanan dan kemanjuran yang di­perlukan,” kata juru bicara WHO, Tarik Jasarevic, dalam jumpa pers di Swiss, seperti dilansir Associated Press, Rabu (12/8).

Peneliti rekanan senior di Uni­versitas Southampton, Michael Head, juga meragukan kemanjuran vaksin Sputnik V. Dia menduga vaksin itu hanya diuji ke beberapa orang, dan pemerintah Russia dini­lai terlalu terburu-buru dalam me­nyetujui vaksin itu.

Menurut standar dunia, uji klinis tahap tiga sebuah vaksin harus melibatkan sekitar 10 ribu orang dan memakan waktu berbulan-bulan. Tahap itu juga dinilai menjadi satu-satunya tahapan eksperimen untuk menguji apakah vaksin itu aman dan manjur.

Sebagai perbandingan, uji tahap akhir vaksin di Amerika Serikat me­wajibkan untuk diuji coba kepada 30 ribu relawan.

Penasihat Gugus Tugas Penanganan virus korona AS, Anthony Fauci, juga meragukan klaim Presiden Russia, Vladimir Putin, yang menyetujui penggunaan vaksin vi­rus korona.

“Saya berharap Russia benar-benar membuktikan secara definitif bahwa vaksin itu aman dan efektif. Saya sangat meragukan bahwa mereka melakukan itu,” kata Fauci.

Ia mengatakan bahwa memiliki vaksin dan membuktikan bahwa vaksin aman dan efektif untuk digu­nakan oleh pasien merupakan dua hal yang berbeda.

“Kami memiliki setengah lusin atau lebih vaksin. Jadi, jika kita ingin mengambil kesempatan untuk me­nyakiti banyak orang atau memberi mereka sesuatu yang tidak berhasil, kita bisa mulai melakukan ini. Anda tahu, kita bisa melakukannya pekan depan jika mau, tapi bukan seperti itu cara kerjanya,” jelas Fauci.

Putin pada Selasa (11/8) mengatakan telah menyetujui penggu­naan vaksin Covid-19 yang dikem­bangkan Russia, dan bahkan telah diuji oleh salah satu putrinya. Ia mengatakan putrinya ikut ambil ba­gian dalam pengembangan dan telah menerima dua suntikan vaksin.

Menurut Putin, putrinya memi­liki suhu 38 derajat Celcius di hari pertama vaksin disuntikkan, kemu­dian turun menjadi sekitar 37 dera­jat esok harinya. Setelah suntikan kedua, dia kembali mengalami se­dikit peningkatan suhu, tapi kemu­dian semuanya kembali normal.

“Dia merasa sehat dan tingkat antibodinya tinggi,” kata Putin.

Russia menyatakan akan segera memproduksi massal vaksin Co­vid-19 itu dan menghasilkan beber­apa juta dosis per bulan pada awal tahun depan.

Sementara itu Menteri Kesehat­an Russia, Mikhail Murashko meng­klaim bahwa vaksin virus korona mereka sudah benar-benar siap dan aman. Keraguan berbagai pihak terhadap vaksin tersebut, kata Mu­rashko, hanyalah wujud iri.

“Tuduhan bahwa vaksin virus ko­rona kami tidak siap dan tidak aman itu tak berdasar dan lebih didorong atas rasa kompetisi,” ujar Murashko.

Berbagai pihak menganggap Pu­tin memperlakukan pencarian vak­sin virus korona seperti perlombaan di zaman Perang Dingin dengan Amerika dan Tiongkok sebagai pe­saing. Oleh karenanya, siapa yang berhasil menyediakannya terlebih dahulu, akan dianggap sebagai pimpinan secara global. SB/AFP/P-4

Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment