Koran Jakarta | August 19 2018
1 Comment

Wesel Pos, Saksi Bisu Kerasnya Kehidupan Jakarta

Wesel Pos, Saksi Bisu Kerasnya Kehidupan Jakarta
A   A   A   Pengaturan Font

Judul : Wesel Pos

Pengarang : Ratih Kumala

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah : 100 halaman

Cetakan : ke-1, Juni 2018

ISBN : 978-602-03-8711-6

 

 

Novel Wessel Pos menceritakan perjalanan tokoh Elisa meninggalkan Purwodadi menuju Jakarta mencari kakaknya, Iqbal, yang sudah dua tahun tidak memberi kabar, walaupun tetap mengiriminya uang lewat wesel pos. Dari wesel pos itulah, alamat yang dituju Elisa. Wesel pos menjadi saksi bisu yang ditempatkan sebagai tokoh pencerita dengan sudut pandang orang pertama “aku” (hlm 2).

Elisa naik bus ke Jakarta dan kehilangan tas berisi dompet dan bekal. Dia ditipu orang yang dianggapnya baik. Itulah perkenalan pertama kejamnya Jakarta (hlm 8). Elisa kebingungan, lalu lapor polisi. Birokrasi di kantor polisi ternyata tidak berpihak pada kasus kecil kehilangan 150.000 rupiah (hlm 13). Karena kasihan pada Elisa, polisi mengantarkannya ke alamat di wesel pos, tempat kerja Iqbal.

Iqbal, nama tersebut ternyata sulit dikenali di tempat tersebut. Satpam perusahaan menyarankan menemui Fahri, sopir kantor yang mengenal banyak orang perusahaan. Fahri kaget saat Elisa mengaku adik Iqbal. Fahri adalah teman Iqbal. Awalnya, Fahri tidak menceritakan nasib Iqbal. Dia hanya mengajak Elisa pulang ke rumah rusun nomor 712, tempat tinggal sehari-harinya.

Elisa menemukan banyak bukti pengiriman uang atas nama Iqbal di laci meja Fahri. Fahri akhirnya mengatakan, Iqbal sudah meninggal dua tahun lalu (hlm 49). Fahri mengaku teman baik Iqbal. Fahrilah yang selalu mengirimi Elisa dan ibunya uang bulanan setelah Iqbal meninggal.

Masih banyak yang belum diketahui Elisa selama tinggal bersama Fahri. Saat cinta itu mulai tumbuh, Elisa hanya mengetahui Fahri sopir direktur perusahaan. Namun, ada yang dirahasiakan Fahri yang selama ini kurir narkoba untuk mencukupi kehidupan.

Narkoba, selalu menjadi sumber masalah pelik orang yang hidup di sekitarnya. Bagi Fahri, narkoba sudah cukup pelik. Dia ingin berhenti menjadi kurir narkoba, namun Bandarnya yang dipanggi “si Bang,” terus mengancam, termasuk untuk mengambil Elisa, andai dia berhenti (hlm 85).

Fahri adalah kurir potensial, bukan pemakai dan jujur. Polisi yang sudah sekian lama mengintai Fahri mulai bergerak. Dalam rusunnya, polisi tidak menemukan Fahri, begitu pula Elisa, apalagi narkoba. Namun, ada jejak berupa ponsel butut Elisa serta si “Aku”, wesel pos. Alamat dalam wesel pos menjadi tempat paling logis dituju Fahri setiap waktu.

Elisa yang disembunyikan teman Fahri di rumah susun nomor 713, tepat di samping susun Fahri mulai panik. Dia tahu Fahri dalam keadaan bahaya. Maka, pergilah Elisa ke tempat kerjanya. Sepertinya dia tahu pemikiran para reserse yang memburu Fahri.

Benar adanya, banyak polisi di sana. Hanya, pegawai kantor tidak tahu karena para reserse menggunakan pakaian biasa. Sebenarnya, polisi-polisi itu pun juga tidak tahu Fahri. Jalan satu-satunya mereka lalu menelepon Fahri dengan nomor Elisa. Benar saja, rencana itu dilakukan. Namun, bukan itu sumber bencana bagi Fahri. Teriakan Elisa yang dikiranya datang dengan penuh cinta itu malah menjadi akhir hidupnya di Jakarta yang keras. Polisi segera mengejar Fahri yang melarikan diri dan ditembak. Itulah akhir cerita ini.

Wesel pos yang dibawa reserse terjatuh saat mengejar Fahri. Wesel yang menjadi saksi bisu itu diterbangkan angin. Berakhir pula tugasnya menceritakan kisah ini, kisah pilu di Jakarta. Mungkin, akan ada lagi kisah di sudut Jakarta yang tidak pernah sepi, tentu bukan tentang Fahri dan Elisa.

 

Diresensi Apriyanto Dwi Santoso, Alumnus UNY

View Comments

Bayu
Selasa 17/7/2018 | 13:52
Sangat membuka informasi dan menggambarkan keadaan seakan nyata

Submit a Comment