Koran Jakarta | November 12 2019
No Comments
Kebijakan Cukai

Waspadai Siasat Pabrik Rokok Asing

Waspadai Siasat Pabrik Rokok Asing

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA – Asosiasi per­usahaan rokok kecil yang ter­gabung dalam Forum Masya­rakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi) mendesak Pemerintah agar merumuskan kebijakan cukai yang adil agar upaya-upaya pensiasatan mau­pun kecurangan yang dilaku­kan oleh pabrikan rokok besar asing dapat diminimalisir. Cara yang dapat dilakukan yakni de­ngan menggabungkan Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Siga­ret Putih Mesin (SPM) supaya produksinya menjadi 3 miliar batang per tahun sehingga pa­brikan besar membayar tarif cukai rokok tertinggi, yakni go­longan 1.

“Pengabungan SKM dan SPM supaya pabrik rokok be­sar asing mainnya harus di atas. Ada pabrik besar asing produk SKM-nya golongan satu, tapi SPM masuk layer dua. Itu perusahaan asing dan golongan gede, tapi bayarnya sama dengan perusahaan ke­cil,” ujar Ketua Harian Formasi Heri Susianto di Jakarta, Ming­gu (13/10).

Menurut Heri, siasat yang digunakan dengan memba­tasi volume produksin agar tetap di bawah golongan 1, yakni 3 miliar batang per ta­hun, sehingga terhindar dari kewajiban membayar tarif cu­kai tertinggi. Padahal tarif cukai golongan 2 SPM dan SKM lebih murah sekitar 50 hingga 60 per­sen dibandingkan golongan I. “Kondisi ini sama halnya naik transportasi kelas bisnis tapi bayarnya ekonomi,” kata Heri.

Heri mencontohkan tarif cukai di segmen SPM yang memiliki ketimpangan sosial sehingga menekan pabrikan kecil. Pada golongan 1 di seg­men rokok mesin SPM, Marl­boro (Philip Morris Indonesia) menggunakan tarif cukai Rp 625 per batang. Namun untuk golongan 2A, produk rokok mesin SPM Mevius milik Japan Tobacco Indonesia, memakai tarif 370 rupiah per batang atau 40 persen lebih rendah dari tarif golongan 1.

Tarif Murah

Tak hanya Mevius, produk SPM milik perusahaan besar asing lainnya turut menikmati tarif murah. Lucky Strike dan Dunhill yang diproduksi oleh Bentoel grup atau British Ame­rican Tobacco serta Esse Blue yang dibuat oleh Korea Tomor­row & Global juga mengguna­kan tarif 370 rupiah per batang.

Permasalahan tarif murah juga terjadi di segmen SKM A Mild (HM Sampoerna), Djarum Super (Djarum), dan Gudang Garam Surya (Gudang Garam) yang masuk dalam golongan I, menggunakan tarif 590 ru­piah per batang. Namun produk SKM milik Korea Tomorrow & Global, Esse Mild, memakai tarif golongan 2 sebesar 385 ru­piah per batang. ers/E-12

Tags
Klik untuk print artikel
No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment