Koran Jakarta | October 19 2017
No Comments

Waspadai Perubahan Kulit pada Masa Kehamilan

Waspadai Perubahan Kulit pada Masa Kehamilan

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Kehamilan menyebabkan banyak perubahan dalam tubuh perempuan. Tubuh perempuan hamil memproduksi lebih banyak hormon, terutama estrogen dan progesteron, yang menyebabkan sejumlah perubahan nyata, terutama di kulit.

Perubahan pada kulit sangat bervariasi antara ibu hamil yang satu dengan lainnya. Ada yang mengalami stretch mark, perubahan warna kulit (pigmentasi), kulit menjadi berjerawat, dan sebagian ibu hamil merasakan kulitnya menjadi lebih sensitif.

Karena perubahan pada kulit selama kehamilan dipicu perubahan kadar hormon dan perubahan sirkulasi serta sistem kekebalan tubuh, maka sebagian besar gejala atau gangguan kulit kehamilan akan menghilang setelah melahirkan. Namun, sebagian besar perempuan hamil merasa rendah diri dengan penampilan mereka.

Karena cantik dan sehat adalah idaman setiap perempuan, termasuk ibu hamil, maka perawatan kulit selama hamil saat ini menjadi kebutuhan penting untuk perempuan. Untungnya, gangguan kulit selama hamil yang sebelumnya dianggap "normal" kini dapat disamarkan, bahkan diatasi dengan perawatan benar.

Dr Rachel Djuanda dari Amara Skin & Aesthetic Center, RSU Bunda Jakarta, menjelaskan ibu hamil pun seharusnya dapat tampil segar dan cantik. "Namun pada kenyataannya, banyak ibu hamil yang justru merasa kecantikannya memudar saat hamil karena pigmentasi, jerawat, kulit kering, dan sebagainya," jelasnya pada acara peluncuran Amara Skin & Aesthetic Center di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ada mitos yang masih berkembang seputar kehamilan dan kecantikan, misalnya ibu hamil tidak boleh menggunakan krim malam sama sekali. Padahal, saat hamil, wanita sering mengalami masalah jerawat/flek di wajah. Faktanya, ada krim perawatan yang aman untuk ibu hamil.

"Meski begitu, pastikan krim tersebut tidak mengandung asam retinoat. Karena penggunaan asam retinoat dengan cara ditelan berisiko menyebabkan kecacatan pada bayi," ujar Rachel.

Meski belum ada penelitian yang menyebutkan kandungan asam retinoat dapat menyebabkan kecacatan. Namun, Rachel tetap menganjurkan ibu hamil untuk menghindari penggunaan krim dengan kandungan berbahaya itu.

"Karena itu, usahakan untuk selalu berkonsultasi ke dokter kulit mengenai zat-zat apa saja yang tidak boleh dipakai saat hamil," tambahnya.

Contoh lain, kita sering mendengar orang mengatakan, "Ibu hamil cantik sekali, pasti anaknya perempuan". Tentu saja ini tidak benar karena perubahan yang dialami semua ibu hamil, baik mengandung anak laki-laki atau perempuan, adalah sama saja. Ssemua ibu hamil akan mengalami perubahan, ukuran badan yang membesar, kenaikan berat badan, lipatan di kulit yang menghitam, muncul stretch mark atau selulit dan sebagainya.

Ibu hamil sering mengalami bercak-bercak kulit yang lebih gelap karena hiperpigmentasi. Hal ini disebabkan perubahan hormonal sehingga memicu peningkatan produksi melanin di kulit sehingga dapat menyebabkan kulit menjadi lebih gelap.

"Area yang mengalami perubahan warna, misalnya, pada areola dan lipatan-lipatan kulit," kata Rachel.

Salah satu gangguan pada kulit yang sering dikeluhkan ibu hamil, terutama yang sudah memasuki trimester ketiga, adalah wajah yang bengkak, terutama hidung. Aneka usaha dilakukan, mulai dari menutup sebagian wajah dengan kerudung, mengubah tatanan rambut, menggunakan make up, tapi tetap saja wajah tetap besar.

Selain itu, ibu hamil juga dapat melihat garis kehamilan (linea ligra), yakni garis vertikal menurun mulai dari pusar di perut. Meski begitu, ibu hamil tidak perlu khawatir dengan gejala pigmentasi kulit, dan tidak perlu dilakukan terapi untuk menghilangkannya.

"Semua itu dapat disiasati dengan menggunakan make up yang  benar dan ada tekniknya tersendiri," jelas Rachel.

"Untuk menjaga kulit sehat dan cantik saat hamil, ibu hamil juga perlu mengubah rutinitas perawatan kulit, misalnya menjadi lebih sering dari biasanya. Ibu hamil juga harus tahu produk untuk perawatan kulit yang aman untuk digunakan selama kehamilan," tambahnya. san/R-1

Jaga Kesehatan Gigi dan Gusi

Aspek sehat dan cantik saat hamil yang tidak boleh dilupakan adalah kesehatan gigi dan mulut. Selama kehamilan sering kali calon ibu mengalami keluhan pada gigi dan mulut, dan jika sebelum hamil sudah memiliki masalah ini, akan diperparah saat hamil.

Peran hormon lagi-lagi berpengaruh pada kondisi gigi dan mulut calon ibu sehingga menimbulkan keluhan seperti gusi mudah berdarah atau gigi goyang. Terlalu banyak muntah selama hamil yang tidak diikuti membersihkan mulut dan gosok gigi dapat meningkatkan risiko penyakit gigi dan gusi.

"Masalah yang sering dijumpai pada ibu hamil adalah pembengkakan gusi maupun pendarahan pada gusi. Hal ini terjadi karena pelunakan dari jaringan daerah gusi akibat peningkatan hormon, kadang timbul benjolan berwarna kemerahan pada gusi, dan gusi mulai berdarah," kata Mira Madjid, dokter gigi spesialis jaringan gusi dan penyangga gigi.

Pada kondisi yang lebih serius, infeksi pada gigi ibu hamil dapat menginfeksi janin dalam kandungan sehingga pada banyak kasus dapat menyebabkan terjadinya berat bayi kurang saat lahir dan kelainan dini.

"Dari plak yang menempel pada gigi akan menyebabkan bakteri mudah masuk ke aliran darah menuju uterus dan memengaruhi kondisi janin.  Akhirnya, terjadi kelahiran prematur, dengan bayi berat lahir rendah (BBLR). Padahal, bayi lahir belum cukup bulan risikonya besar. Imunitasnya belum terbentuk, fungsi paru-parunya belum sempurna dan lainnya,” ujar Mira.

Menurut Mira, perawatan gigi pada ibu hamil memiliki pertimbangan khusus. Pada umumnya perawatan yang dilakukan terhadap pasien ibu hamil dibatasi pada prosedur operatif yang sederhana, seperti penambalan karies gigi, dan tindakan yang tidak menimbulkan komplikasi seperti tindakan scalling root planning.

"Prosedur perawatan saluran akar sederhana dapat dilakukan selama masa kehamilan, dengan menggunakan teknik yang asepsis dan menghindari keadaan yang menimbulkan stres bagi pasien," kata Mira.

 Untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, ibu hamil tetap dianjurkan makan makanan bergizi, rajin membersihkan gigi setiap kali habis makan dan menjelang tidur, serta menghindari makan-makanan yang keras yang berpotensi mencederai gusi.

"Jaga kesehatan gigi dan gusi dengan menggosok gigi dua kali sehari. Agar lebih sempurna, gunakan juga benang gigi (dental floss) untuk menjangkau bagian sela-sela gigi. Agar gusi sehat dan tidak gampang sensitif sebaiknya rajin mengonsumsi makanan yang kaya vitamin C dan B12 seperti sayuran hijau, buah, susu, keju, telur, daging ayam, dan tempe," pungkasnya. san/R-1

 

 

No comments for this article. Be the first to comment to this article.

Submit a Comment